Airlangga Sebut 3 Indikator Ini Jadi Sinyal Ekonomi Indonesia Makin Kuat

AKURAT.CO Pemerintah melihat munculnya tiga sinyal positif bagi perekonomian Indonesia setelah data inflasi, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, dan neraca perdagangan yang dirilis pada Senin (3/8/2026) menunjukkan perbaikan secara bersamaan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, ketiga indikator tersebut memperlihatkan bahwa fundamental ekonomi domestik masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurutnya, stabilitas harga, pemulihan aktivitas industri, hingga membaiknya kinerja perdagangan menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Menko Airlangga: Data Center AI Jadi Peluang Investasi Baru Indonesia
"Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan dunia usaha, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Salah satu indikator yang menjadi perhatian ialah inflasi Juli 2026 yang turun menjadi 2,88% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan 3,34% pada Juni 2026.
Capaian tersebut juga masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% plus minus 1%.
Meredanya inflasi terutama didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis, seperti bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit seiring meningkatnya produksi di berbagai daerah sentra.
Sementara itu, inflasi inti tetap stabil sebesar 2,76% (yoy), sedangkan inflasi administered prices mencapai 3,58% (yoy).
Kenaikan kelompok administered prices dipengaruhi efek basis penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juni 2026 serta naiknya tarif angkutan udara.
Menurut Airlangga, pemerintah akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui sinergi pemerintah pusat, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Berbagai langkah stabilisasi terus dijalankan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), optimalisasi distribusi antarwilayah, hingga kerja sama antardaerah.
Baca Juga: Menko Airlangga: MICE dan AI Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
"Dalam melaksanakan strategi tersebut, dukungan pembiayaan juga diberikan melalui skema Kredit Usaha Rakyat dengan realisasi sebesar Rp198,9 triliun per 28 Juli 2026 dari plafon yang didistribusikan sebesar Rp290,59 triliun, dengan realisasi sektor pertanian sekitar 38 persen," kata Airlangga.
Pemerintah juga mulai menjalankan Kredit Usaha Pertanian sebagai penyempurnaan dari skema Kredit Usaha Alsintan untuk memperkuat produktivitas pertanian, hilirisasi, serta mendukung target swasembada pangan.
Di sektor energi, pemerintah juga terus memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan lifting minyak dan gas bumi, percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan, implementasi biodiesel B50, pembangunan infrastruktur energi, hingga hilirisasi sumber daya alam.
Implementasi mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026 dan kebijakan pembatasan ekspor minyak mentah juga diarahkan untuk menekan ketergantungan terhadap impor energi sekaligus menghemat devisa.
Selain inflasi, indikator lain yang menunjukkan perbaikan berasal dari sektor perdagangan luar negeri.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus kumulatif sebesar USD3,58 miliar. Surplus tersebut berasal dari surplus perdagangan nonmigas sebesar USD19,35 miliar yang mampu mengompensasi defisit migas sebesar USD15,77 miliar.
Pada Juni 2026, defisit perdagangan juga menyempit drastis menjadi USD450 juta dari USD1,61 miliar pada Mei 2026 atau turun sekitar 72,02% secara bulanan.
Perbaikan tersebut didukung meningkatnya surplus perdagangan nonmigas menjadi USD3,04 miliar, sementara defisit migas ikut mengecil menjadi USD3,49 miliar.
Kinerja ekspor turut ditopang oleh penguatan ekspor crude palm oil (CPO) beserta turunannya yang naik 7,32% menjadi USD12,27 miliar. Sementara itu, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekspor dengan kenaikan sebesar 6,18%.
Di sisi impor, mayoritas masih didominasi bahan baku dan barang modal yang mencapai 91,3% dari total impor nasional. Peningkatan impor mesin mekanis sebesar 17,43% dan mesin elektrik sebesar 19,63% dinilai mencerminkan aktivitas produksi dan investasi yang mulai menguat.
Sinyal pemulihan juga terlihat dari sektor manufaktur. Setelah sempat berada di zona kontraksi pada Juni, PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi pada Juli 2026 dengan indeks 50,2.
Perbaikan tersebut ditopang meningkatnya pesanan baru yang mendorong kenaikan output produksi untuk pertama kalinya sejak Februari 2026.
"Perusahaan bahkan mulai menambah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan, merespons pesanan yang mulai pulih. Kenaikan backlog ke laju tercepat sejak November 2025 menegaskan permintaan yang menguat, sementara rantai pasok yang berangsur membaik turut membantu penguatan sektor manufaktur domestik. Penguatan ini sejalan dengan PMI Manufaktur ASEAN yang naik ke 52,8 dari 50,5," ujar Airlangga.
Airlangga mengatakan optimisme pelaku industri kini berada pada level tertinggi sejak Januari 2026. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai lemahnya permintaan ekspor dan tekanan biaya produksi yang masih membayangi sektor manufaktur.
Menurut Airlangga, keberlanjutan pemulihan industri akan sangat bergantung pada semakin kuatnya permintaan pasar, penurunan tekanan biaya produksi, serta membaiknya rantai pasok global.
"Secara keseluruhan, terkendalinya inflasi, kembalinya manufaktur ke zona ekspansi, dan menyempitnya defisit perdagangan menjadi sinyal kuat bahwa perekonomian Indonesia bergerak ke arah yang semakin positif. Pemerintah akan terus mengawal keberlanjutan tren ini melalui bauran kebijakan yang antisipatif dan responsif sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga, industri semakin kompetitif, dan prospek ekonomi nasional ke depan tetap cerah," tutup Airlangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 7Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










