Akurat Logo

Rupiah Menguat, Pasar Soroti Pencalonan Destry Jadi Gubernur BI

Esha Tri Wahyuni | 10 Agustus 2026, 14:38 WIB
Rupiah Menguat, Pasar Soroti Pencalonan Destry Jadi Gubernur BI
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali menguat pada perdagangan awal pekan.

Penguatan tersebut dinilai tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi eksternal, tetapi juga sentimen pasar terhadap pencalonan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) serta sejumlah indikator ekonomi domestik yang masih menunjukkan kondisi relatif positif.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai, pencalonan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI sesuai dengan ekspektasi pasar.

Seperti yang diketahui, Destry merupakan Deputi Gubernur Senior BI yang kembali diajukan untuk memimpin bank sentral setelah Perry Warjiyo mengakhiri masa jabatannya.

Baca Juga: Kurs Dolar Hari Ini 8 Agustus 2026: Rupiah Menguat ke Rp17.801 per USD!

Menurut Ibrahim, pasar cenderung melihat pencalonan dari internal BI sebagai sinyal kesinambungan kebijakan. Hal tersebut dinilai dapat mengurangi ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter ke depan.

"Kalau saya lihat bahwa calon gubernur tunggal Ibu Destry itu sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Karena kita lihat bahwa biasanya pada saat Gubernur Bank Indonesia mengundurkan diri, yang diangkat itu adalah incumbent," kata Ibrahim saat dihubungi AKURAT.CO, Senin (10/8/2026).

"Dan ini memang benar bahwa incumbent yang dicalonkan sebagai pengganti dari Pak Perry Warjiyo," lanjutnya.

Ibrahim mengatakan pencalonan Destry menjadi faktor yang turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan. Sebab, sosok yang berasal dari internal bank sentral dinilai dapat memberikan kesinambungan terhadap kebijakan yang telah berjalan.

"Artinya apa? Bahwa pasar menerima dengan dipilihnya Ibu Destry sebagai calon Gubernur Bank Indonesia," ujarnya.

Sentimen tersebut menjadi salah satu faktor yang menurut Ibrahim ikut menopang pergerakan rupiah. Namun, penguatan mata uang Garuda tidak semata-mata disebabkan oleh isu pergantian pimpinan bank sentral.

Ia menilai terdapat sejumlah indikator ekonomi domestik yang turut memberikan dukungan terhadap rupiah.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas level 5%.

"Yang membuat harga rupiah kembali menguat cukup tajam itu adalah data pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus, di atas 5 persen," kata Ibrahim.

Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator penting bagi pasar valuta asing karena menggambarkan aktivitas ekonomi domestik. Pertumbuhan yang tetap terjaga dapat memperkuat persepsi terhadap daya tahan perekonomian Indonesia di tengah tekanan eksternal.

Selain pertumbuhan ekonomi, Ibrahim juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia yang dinilai masih cukup kuat.

"Kemudian kita lihat cadangan devisa pun juga cukup bagus," ujarnya.

Baca Juga: Jelang Evaluasi Indeks FTSE Russel dan MSCI, Rupiah Ditaksir Melemah ke Rp19.970

Cadangan devisa memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas eksternal perekonomian. Ketersediaan cadangan devisa juga memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas nilai tukar ketika terjadi tekanan di pasar keuangan.

Di sisi lain, Ibrahim mengakui terdapat sejumlah indikator yang masih perlu menjadi perhatian, termasuk neraca perdagangan dan indeks keyakinan konsumen.

"Kemudian walaupun neraca perdagangan kita juga defisit, kemudian indeks keyakinan konsumen pun juga menyusut, tetapi masih di atas 100," kata Ibrahim.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat tekanan pada sejumlah indikator, perekonomian domestik masih memiliki sejumlah fondasi yang dapat menopang nilai tukar rupiah.

"Artinya apa? Bahwa data ekonomi di dalam negeri cukup bagus. Ini yang membuat harga rupiah kembali menguat tajam," ujarnya.

Pergerakan rupiah pada akhirnya merupakan hasil interaksi berbagai faktor. Selain kondisi fundamental dalam negeri, nilai tukar juga sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan bank sentral global, pergerakan dolar Amerika Serikat, arus modal asing, hingga perkembangan geopolitik.

Faktor eksternal juga memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih positif pada awal pekan. Ibrahim menyoroti meredanya ketegangan di kawasan Selat Hormuz sebagai salah satu sentimen yang turut memengaruhi pasar.

Menurut dia, perkembangan terkait upaya pengelolaan dan perdamaian di Selat Hormuz antara Iran dan Oman membuat ketegangan di kawasan tersebut berkurang.

"Di sisi lain pun juga walaupun indeks dolar menguat, kita lihat bahwa adanya perdamaian di Selat Hormuz untuk mengelola Selat Hormuz antara Iran dan Oman ini pun juga membuat ketegangan di Selat Hormuz kembali berkurang," kata Ibrahim.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia dan pada akhirnya memengaruhi inflasi serta prospek pertumbuhan ekonomi global.

Karena itu, penurunan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan, termasuk pasar negara berkembang.

Ibrahim menilai kombinasi antara sentimen domestik dan eksternal tersebut menjelaskan penguatan rupiah pada awal pekan.

"Sehingga wajar kalau seandainya rupiah ini dalam perdagangan di awal pekan mengalami penguatannya cukup signifikan," ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.