Pelaku Pasar Cermati 4 Sentimen Ini, Rupiah Ditaksir Tertekan ke Rp17.940

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, Kamis (13/8/2026).
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap mata uang Garuda datang dari kombinasi sentimen global dan domestik.
Mulai dari ketidakpastian konflik Amerika Serikat-Iran yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, hingga perhatian investor terhadap kondisi konsumsi dalam negeri dan hasil index review MSCI.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ini 3 Hal yang Jadi Perhatian Investor
Rupiah diperkirakan bergerak di Rp17.870-Rp17.940. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.870-Rp17.940," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (13/8/2026).
Pada perdagangan Rabu (12/8/2026), rupiah ditutup melemah 16 poin ke level Rp17.877 per USD dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.861 per USD. Dalam perdagangan tersebut, rupiah sempat menguat hingga 15 poin sebelum kembali tertekan.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan eksternal, terutama ketidakpastian di kawasan Asia Barat.
"Ketegangan yang terus berlanjut antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz membuat aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz tetap minim karena tidak banyak kemajuan yang dicapai AS dan Iran menuju kesepakatan," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting perdagangan energi global. Sebelum konflik pecah, jalur tersebut dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Ketidakpastian itu kembali meningkat setelah Washington menyatakan telah menyerang sebuah kapal di Teluk Oman yang diduga sedang menuju Iran. Di sisi lain, Teheran sebelumnya mengisyaratkan Selat Hormuz tetap ditutup hingga tuntutan kompensasi mereka dipenuhi, sementara tuntutan tersebut ditolak Presiden AS Donald Trump.
Bagi pasar keuangan, perkembangan tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Jika harga minyak kembali terdorong naik, investor berpotensi meningkatkan perhatian terhadap risiko inflasi global dan prospek kebijakan moneter bank sentral utama.
Selain konflik di Asia Barat, perhatian pasar tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) menjadi salah satu indikator yang dipantau investor untuk membaca arah kebijakan The Fed.
Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, apabila inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dapat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi aset negara berkembang untuk mendapatkan kembali aliran dana.
Ibrahim mengatakan pelaku pasar cenderung menahan posisi agresif menjelang keluarnya data ekonomi AS. "Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi agresif menjelang rilis data CPI," ujarnya.
Ketidakpastian tersebut membuat pergerakan dolar AS menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan untuk membaca arah rupiah dalam jangka pendek.
Dari dalam negeri, kondisi permintaan domestik juga menjadi perhatian. Bank Indonesia dalam Survei Penjualan Eceran memperkirakan penjualan eceran Juni 2026 berada pada indeks 221,6. Secara bulanan, penjualan diperkirakan mengalami kontraksi 0,8% dibandingkan Mei 2026.
Sebelumnya, indeks penjualan eceran pada Mei 2026 tercatat 223,4. BI mencatat penjualan pada bulan tersebut mengalami kontraksi 1,5% secara bulanan setelah penurunan 11,6% pada periode sebelumnya.
Perkembangan konsumsi menjadi penting bagi pasar karena permintaan domestik merupakan salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika masyarakat menahan belanja, terutama untuk barang yang bersifat non-esensial, ruang pertumbuhan ekonomi berbasis konsumsi menjadi lebih terbatas.
Di sisi lain, BI masih memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 berada dalam kisaran 8%-12%. Bank sentral juga terus memberikan insentif makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas.
Dengan demikian, kondisi konsumsi dan penyaluran kredit menjadi dua indikator domestik yang perlu diperhatikan investor ketika menilai ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan eksternal.
Sentimen lain yang masuk dalam radar investor adalah perkembangan pembiayaan pemerintah. Berdasarkan data Kementerian Keuangan yang tercantum dalam bahan naskah, posisi utang pemerintah pusat hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp10.293,69 triliun. Angka tersebut setara dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 41,26%.
Komposisinya terdiri atas Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.966,79 triliun dan pinjaman Rp1.326,90 triliun. Posisi tersebut meningkat dibandingkan akhir Maret 2026 yang tercatat Rp9.920,42 triliun dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 40,75%.
Namun, rasio tersebut masih berada di bawah batas maksimal 60% terhadap PDB sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Perkembangan utang tersebut tidak dapat secara langsung disebut sebagai penyebab pelemahan rupiah. Bagi investor, angka tersebut lebih relevan sebagai bagian dari pemantauan kondisi fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta perkembangan pasar surat utang domestik.
Pada saat yang sama, pasar saham Indonesia juga menghadapi katalis dari hasil August 2026 Index Review MSCI. MSCI menjadwalkan pengumuman hasil index review pada 12 Agustus 2026 setelah penutupan pasar. Perubahan indeks kemudian diterapkan sesuai jadwal implementasi yang ditetapkan MSCI.
Bagi pasar Indonesia, hasil kajian tersebut penting karena perubahan komposisi indeks dapat memengaruhi aliran dana investor yang menggunakan indeks sebagai acuan.
Reaksi harga saham dapat muncul segera setelah pengumuman. Namun, dampak transaksi berbasis indeks umumnya lebih terlihat ketika perubahan komposisi mulai diterapkan dan dana pasif melakukan penyesuaian portofolio.
Sentimen di pasar saham juga dapat memengaruhi persepsi investor terhadap aset Indonesia secara lebih luas, meskipun dampaknya terhadap rupiah tidak bersifat otomatis.
Proyeksi pergerakan rupiah hari ini menunjukkan bahwa ruang pergerakan rupiah masih cukup lebar. Pada satu sisi, meredanya ketegangan geopolitik dan data ekonomi AS yang lebih lunak dapat memberikan ruang penguatan.
Namun, apabila ketegangan Selat Hormuz berlanjut dan dolar AS kembali menguat, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.
Karena itu, arah rupiah dalam perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan tiga faktor utama: pergerakan dolar AS, perkembangan konflik AS-Iran dan Selat Hormuz, serta respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat.
Di dalam negeri, kondisi konsumsi, kebijakan Bank Indonesia, arus modal, dan perkembangan pasar keuangan juga tetap menjadi faktor yang menentukan daya tahan rupiah.
Dengan posisi rupiah yang sudah berada di sekitar Rp17.900 per USD, investor akan mencermati apakah mata uang Garuda mampu bertahan di bawah tekanan eksternal atau kembali bergerak menuju level yang lebih lemah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 7Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










