Akurat
Pemprov Sumsel

Aglomerasi Jadi Kunci Kolaborasi Atasi Polusi Udara di Jabodetabek

Oktaviani | 30 September 2025, 16:54 WIB
Aglomerasi Jadi Kunci Kolaborasi Atasi Polusi Udara di Jabodetabek

AKURAT.CO Sejalan dengan semangat Clean Air Month yang diperingati setiap September, Bicara Udara menekankan pentingnya kolaborasi kawasan aglomerasi sebagai kunci mengatasi polusi udara sekaligus memperkuat transportasi publik.

Pesan ini menegaskan bahwa persoalan kualitas udara bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan membutuhkan aksi kolektif lintas wilayah, lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat.

Dalam rangkaian kegiatan edukasi publik bersama para Duta Udara Bersih (Biru Voices Ambassadors) 2025, Co-Founder Bicara Udara Novita Natalia menyerukan komitmen “Jejak Langkah untuk Udara Bersih”.

Ajakan ini dimaksudkan agar masyarakat bersama-sama mengambil langkah nyata yang bertanggung jawab dan sadar lingkungan demi keberlanjutan bumi.

Menurut Novita, persoalan utama terletak pada perbedaan kepentingan politik antar daerah yang kerap menghambat koordinasi.

Karena itu, kerja sama kawasan aglomerasi dinilai sebagai solusi strategis untuk menangani polusi udara lintas batas, khususnya di wilayah Jabodetabekpunjur.

“Penanganan polusi udara lintas daerah perlu dijadikan prioritas pemerintah. Selain itu, transportasi lintas wilayah juga harus memadai, aman, dan nyaman. Lebih dari itu, para pemimpin perlu mencontohkan dengan ikut menggunakan transportasi publik, sehingga bisa merasakan kualitasnya secara langsung dan mendorong perbaikan berkelanjutan,” ujar Novita dalam keterangan tertulis, Selasa (30/9/2025).

Baca Juga: DPR Siapkan RUU Ketenagakerjaan Baru, Libatkan Serikat Pekerja dan Masyarakat

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan pentingnya strategi pengendalian polusi udara berbasis kolaborasi wilayah.

Ia menekankan bahwa kawasan aglomerasi seperti Jabodetabekpunjur menghadapi tantangan polusi yang kompleks dan saling terhubung.

“Kita butuh kebijakan berbasis bukti, sistem pelaporan yang jelas, perencanaan skenario, penindakan tegas terhadap sumber polusi, serta monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan. Di saat yang sama, kesadaran publik dan penyediaan transportasi publik yang memadai harus terus didorong secara simultan,” kata Bima.

Ia menambahkan, kepala daerah di kawasan aglomerasi perlu membangun infrastruktur transportasi ramah lingkungan serta menumbuhkan budaya penggunaan transportasi umum di masyarakat.

Menurutnya, pejabat publik juga harus memberi teladan dengan menggunakan transportasi umum agar dapat meningkatkan sensitivitas dan mendorong partisipasi publik.

“Jika gerakan masyarakat beralih ke transportasi publik semakin masif, pemerintah akan semakin terdorong memperbaiki layanan dan infrastrukturnya. Dengan begitu, strategi pengendalian pencemaran udara bisa dijalankan lebih presisi, sekaligus menginspirasi semakin banyak individu menjadi advokat udara bersih,” ucapnya.

Diketahui, Bicara Udara (Yayasan Udara Anak Bangsa) merupakan organisasi non-profit yang aktif mengadvokasi kebijakan publik terkait strategi pengendalian pencemaran udara di Jabodetabek.

Melalui program “Jejak Langkah untuk Udara Bersih” yang digelar di Jakarta pada Minggu (28/9/2025), Bicara Udara menghadirkan edukasi publik dan proyek berdampak bersama para Duta Udara Bersih.

Baca Juga: Ibu di Tangsel Harap Program MBG Tetap Lanjut: Cuma di Sini Saya Bisa Ditampung Kerja

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino, serta kreator konten Ajeng Kamaratih.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.