Banjir di Cibubur Saat Lebaran Jadi Sorotan, FAKTA Indonesia Singgung Kerusakan Drainase

AKURAT.CO Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta Timur saat momen Idulfitri 1447 Hijriah, khususnya di kawasan Cibubur dan Pondok Ranggon, menuai sorotan.
Wilayah yang selama ini relatif jarang terdampak banjir itu tiba-tiba tergenang air hingga mencapai lebih dari satu meter.
Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menilai, banjir tersebut bukan semata disebabkan curah hujan tinggi, melainkan adanya persoalan serius pada sistem drainase.
“Ini bukan sekadar hujan deras. Ada masalah pada sistem drainase dan aliran sungai yang tidak berjalan dengan baik, termasuk dugaan tanggul jebol di aliran Sungai Cipinang,” ujar Tigor dalam keterangannya.
Menurutnya, banjir yang terjadi di kawasan hulu seperti Cibubur tidak diikuti kenaikan signifikan di wilayah hilir seperti Penas hingga Banjir Kanal Timur (BKT). Hal ini mengindikasikan adanya hambatan aliran air di bagian tertentu.
“Air tidak mengalir lancar ke hilir, sehingga meluap dan menggenangi permukiman hingga berhari-hari,” jelasnya.
Banjir juga berdampak pada infrastruktur vital. Ruas Tol Jagorawi KM 12 arah Jakarta dilaporkan mengalami kemacetan parah akibat genangan air saat hari pertama Lebaran.
Padahal, menurut Tigor, kawasan tersebut sudah lama tidak terdengar mengalami banjir.
“Ini menjadi alarm bahwa ada kerusakan yang tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan baik,” katanya.
Baca Juga: Potensi Krisis Ekonomi Global 2030: Ini Faktor-faktor yang Perlu Diwaspadai
Tigor juga menyoroti minimnya sistem peringatan dini dari pemerintah daerah.
Padahal, sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi hujan sedang hingga lebat di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
“Seharusnya ada early warning system kepada masyarakat. Tapi yang terjadi, warga seperti tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk bersiap,” ujarnya.
Indikasi Kerusakan Sistemik
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta (BPBD), sedikitnya 46 RT di Jakarta Timur terdampak banjir. Tigor menilai hal ini menunjukkan adanya kerusakan sistemik pada infrastruktur air.
Ia menyebut, selama ini persoalan banjir sering dikaitkan dengan faktor eksternal seperti banjir kiriman atau penurunan muka tanah.
Namun, kasus di Cibubur menunjukkan faktor internal juga sangat berpengaruh.
“Drainase yang tidak dirawat, sungai yang tidak dikeruk, dan kerusakan kecil yang dibiarkan bisa menjadi penyebab utama banjir besar,” tegasnya.
Tigor pun mendorong Gubernur DKI Jakarta untuk mengoptimalkan peran walikota dalam menangani persoalan banjir. Menurutnya, walikota lebih memahami kondisi riil di lapangan.
“Walikota harus aktif memetakan kondisi drainase dan sungai, menentukan prioritas perbaikan, serta menyampaikan laporan secara transparan kepada gubernur dan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya respons cepat di tingkat wilayah, termasuk dalam memberikan peringatan dini dan penanganan darurat saat banjir terjadi.
Tigor menilai sistem drainase Jakarta saat ini sudah membutuhkan pembenahan secara menyeluruh.
Ia mengingatkan bahwa banjir bukan semata fenomena alam, melainkan juga akibat kelalaian manusia dalam mengelola lingkungan.
“Kalau kerusakan kecil terus dibiarkan, lama-lama menjadi besar. Banjir ini bukti bahwa sistem yang ada tidak dirawat dengan baik,” katanya.
Ia pun berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang, terlebih di wilayah yang sebelumnya tidak dikenal sebagai daerah rawan banjir.
Baca Juga: Jepang Pertimbangkan Kirim Militer untuk Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Tetapi Ada Syaratnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










