Kenaikan BBM di Asia Tenggara: Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Situasi di Indonesia

AKURAT.CO Harga bahan bakar minyak (BBM) di Asia Tenggara melonjak signifikan seiring kenaikan harga minyak global. Lonjakan harga minyak mentah Brent yang kini menembus US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah berdampak langsung pada harga BBM di Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia. Di sisi lain, Indonesia mempertahankan harga BBM subsidi meski beberapa jenis BBM non-subsidi ikut naik pada Maret 2026.
Latar Belakang Kenaikan BBM
Harga minyak global, khususnya Brent, naik dari US$65–70 per barel menjadi US$100 per barel dalam sebulan terakhir.
Konflik geopolitik antara AS-Israel dan Iran mengganggu pasokan minyak global sehingga mendorong kenaikan harga BBM di Asia Tenggara.
Negara-negara menyesuaikan harga BBM non-subsidi untuk mencerminkan lonjakan biaya impor minyak.
Kenaikan BBM di Negara Asia Tenggara
Thailand
Mulai 21 Maret 2026, operator energi utama Thailand, seperti PTT dan Bangchak, menaikkan harga BBM:
Gasohol E85: 24,79 baht/liter
Gasohol E20: 28,05 baht/liter
Gasohol 91: 32,68 baht/liter
Gasohol 95: 33,05 baht/liter
Bensin (Petrol): 41,64 baht/liter
Diesel: 44,64 baht/liter (Super Power Diesel)
Super Power Gasohol 95: 42,04 baht/liter
Vietnam
Efek konflik geopolitik membuat harga BBM melonjak drastis per 19 Maret 2026:
Bensin RON95: 30.690 dong/liter (+20%)
Solar/Diesel: 33.420 dong/liter (+34%)
Kenaikan kumulatif sejak Februari 2026: bensin RON95 naik >50%, diesel naik ~70%.
Singapura
Kenaikan harga BBM terjadi secara bertahap oleh operator SPBU:
Bensin Oktan 95: SPC 2,91 S$/liter, Shell 2,92 S$/liter
Bensin Oktan 92: SPC 2,88 S$/liter, menyamai Esso & Caltex
Bensin Oktan 98: SPC 3,42 S$/liter, Shell 3,44 S$/liter, Sinopec 3,55 S$/liter
Diesel: 2,61–2,70 S$/liter, tergantung operator
Malaysia
Dalam dua pekan terakhir, harga BBM non-subsidi naik:
Bensin RON97: 4,55 MYR/liter (+70 sen)
Solar/Diesel: 4,72 MYR/liter (+80 sen)
Bensin RON95: tetap 1,99 MYR/liter (subsidi tetap)
Harga BBM di Indonesia (Maret 2026)
Pertamina Non-Subsidi:
Pertamax (RON92): Rp12.300/liter
Pertamax Green (RON95): Rp12.900/liter
Pertamax Turbo (RON98): Rp13.100/liter
Dexlite: Rp14.200/liter
Pertamina Dex: Rp14.500/liter
BBM Subsidi:
Pertalite: Rp10.000/liter
Biosolar/Diesel CN48: Rp6.800/liter
Shell:
Shell Super (RON92): Rp12.390/liter
Shell V-Power Diesel: Rp14.620/liter
BP-AKR:
BP Ultimate (RON95): Rp12.920/liter
BP 92 (RON92): Rp12.390/liter
BP Ultimate Diesel: Rp14.620/liter
Vivo:
Revvo 92: Rp12.390/liter
Revvo 95: Rp12.930/liter
Diesel Primus Plus: Rp14.610/liter
Perbandingan: Indonesia masih mempertahankan BBM subsidi stabil, sementara negara tetangga mengalami kenaikan signifikan akibat harga minyak global.
Faktor Penyebab Kenaikan BBM
Harga minyak global naik: Brent naik hingga US$100 per barel.
Konflik geopolitik Timur Tengah: Memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga.
Inflasi energi: Penyesuaian harga BBM non-subsidi untuk menyeimbangkan biaya impor.
Kebijakan pemerintah: Indonesia menahan harga BBM subsidi, sementara negara lain menyesuaikan harga non-subsidi.
Dampak Kenaikan BBM
Bagi masyarakat: meningkatnya biaya transportasi, ongkos logistik, dan kebutuhan sehari-hari.
Bagi ekonomi: memicu inflasi, menaikkan harga komoditas, dan menekan daya beli masyarakat.
Kesimpulan
Kenaikan BBM di Asia Tenggara terjadi signifikan, terutama di Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia, seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah. Indonesia relatif stabil karena BBM subsidi tetap dipertahankan. Masyarakat disarankan untuk memantau harga BBM terbaru setiap bulan dan menyesuaikan konsumsi energi sesuai kebijakan pemerintah.
Baca Juga: Pertamina Siagakan Layanan BBM di Pantura, Pemudik Non-Tol Dapat Fasilitas Tambahan hingga Wisata
Baca Juga: Demi Hemat BBM, Pemerintah Berlakukan WFH Setelah Lebaran untuk ASN dan Swasta
FAQ
1. Mengapa harga BBM di Asia Tenggara naik drastis?
Harga BBM di Asia Tenggara naik karena lonjakan harga minyak global yang menembus US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan ini membuat negara seperti Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia menyesuaikan harga bensin dan solar mereka untuk menutupi biaya impor yang lebih tinggi.
2. Bagaimana perbandingan harga BBM di Indonesia dan negara tetangga?
Harga BBM non-subsidi di Indonesia mengalami kenaikan, misalnya Pertamax (RON 92) Rp12.300 per liter, sementara BBM subsidi seperti Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Dibandingkan negara tetangga, kenaikan di Thailand, Vietnam, dan Malaysia lebih tinggi secara persentase, terutama untuk diesel dan bensin berkualitas tinggi.
3. Berapa persen kenaikan harga BBM di Vietnam dan Thailand?
Di Vietnam, bensin RON95 naik lebih dari 50% dan solar hampir 70% sejak Februari 2026. Sementara di Thailand, harga gasohol dan diesel naik antara 0,70–1 baht per liter, menyesuaikan dengan lonjakan harga minyak mentah dan kondisi pasokan energi regional.
4. Jenis BBM apa saja yang naik harganya di Singapura?
Di Singapura, kenaikan harga terjadi pada bensin oktan 92, 95, 98, serta diesel. Operator seperti Shell, SPC, Esso, dan Sinopec menaikkan harga bensin hingga 4 sen per liter, sementara harga diesel bervariasi antara 2,61–2,70 dolar Singapura per liter tergantung SPBU.
5. Apakah harga BBM subsidi di Indonesia ikut naik?
Hingga Maret 2026, harga BBM subsidi di Indonesia tetap stabil. Pertalite dipatok Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Kenaikan harga hanya berlaku pada BBM non-subsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
6. Apa faktor utama yang mempengaruhi kenaikan BBM di Asia Tenggara?
Faktor utama adalah kenaikan harga minyak global, konflik geopolitik di Timur Tengah, inflasi energi, dan kebijakan pemerintah terkait subsidi dan penyesuaian harga BBM non-subsidi. Kombinasi faktor ini mendorong harga BBM naik secara signifikan di kawasan regional.
7. Bagaimana dampak kenaikan BBM terhadap masyarakat dan ekonomi?
Kenaikan BBM berdampak langsung pada biaya transportasi, ongkos logistik, dan harga kebutuhan sehari-hari. Secara makro, hal ini dapat memicu inflasi, meningkatkan harga komoditas, dan menurunkan daya beli masyarakat di negara-negara yang menyesuaikan harga BBM non-subsidi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




