Gibran Singgung Demo Rompi Kuning Prancis dalam Debat Cawapres, Ini Penjelasannya
Thony H | 22 Januari 2024, 19:35 WIB

AKURAT.CO Demo rompi kuning atau The Yellow Vest Movement di Prancis menjadi topik hangat setelah disinggung oleh Gibran dalam debat Cawapres. Istilah tersebut bermula dari Cawapres nomor urut 2 Gibran menyampaikan pertanyaannya kepada Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD terkait greenflation.
Gibran memaparkan bahwa demo rompi kuning di Prancis erat kaitannya dengan greenflation atau inflasi hijau tersebut. Bahkan demo rompi kuning di Prancis telah memakan banyak korban selama keberlangsungannya.
"Kita belajar dari negara maju, negara maju saja masih ada tantangan-tantagannya, intinya transisi menuju energi hijau harus super hati-hati, jangan sampai malah membebankan R and D yang mahal, proses transisi yang mahal ini kepada rakyat kecil, itu maksud saya inflasi hijua, Prof Mahfud," kata Gibran dalam debat Cawapres, Minggu (21/1/2024).
Gibran memaparkan bahwa demo rompi kuning di Prancis erat kaitannya dengan greenflation atau inflasi hijau tersebut. Bahkan demo rompi kuning di Prancis telah memakan banyak korban selama keberlangsungannya.
"Kita belajar dari negara maju, negara maju saja masih ada tantangan-tantagannya, intinya transisi menuju energi hijau harus super hati-hati, jangan sampai malah membebankan R and D yang mahal, proses transisi yang mahal ini kepada rakyat kecil, itu maksud saya inflasi hijua, Prof Mahfud," kata Gibran dalam debat Cawapres, Minggu (21/1/2024).
Baca Juga: Sentil Gibran, Puan Pertanyakan Etika Anak Muda
Melansir dari apnews.com, demo rompi kuning merupakan bentuk protes para pekerja terhadap kenaikan pajak bahan bakar. Pengunjuk rasa yang terjun ke lapangan menggunakan rompi berwarna kuning sebagai simbol para pekerja.
Demo ini dengan dengan cepat menyebar di berbagai lapisan politik, regional sosial dan masyarakat yang menuntut keadilan ekonomi dibawah kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron. Puncak dari aksi rompi kuning terjadi ketika seperempat juta orang ikut serta turun ke jalanan di Prancis.
Aksi demonstrasi dan pemblokiran jalan serta depot bahan bakar di Prancis menjadi sasaran pengunjuk rasa. Kemudian aksi ini menjadi tidak terkendali ketika kekerasan dan represi aparat terjadi. Polisi menggunakan gas air mata, meriam dan kuda untuk menyerang pengunjuk rasa yang anarkis.
Dalam aksi ini pengunjuk rasa menuntut untuk mendapatkan keadilan sosial berupa pajak yang lebih rendah bagi pekerja dan pensiunan, serta memberikan pajak lebih tinggi pada kelas menengah atas. Adapun tuntuan berupa anggaran belanja negara yang lebih besar untuk membantu para pekerja.
Melansir dari apnews.com, demo rompi kuning merupakan bentuk protes para pekerja terhadap kenaikan pajak bahan bakar. Pengunjuk rasa yang terjun ke lapangan menggunakan rompi berwarna kuning sebagai simbol para pekerja.
Demo ini dengan dengan cepat menyebar di berbagai lapisan politik, regional sosial dan masyarakat yang menuntut keadilan ekonomi dibawah kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron. Puncak dari aksi rompi kuning terjadi ketika seperempat juta orang ikut serta turun ke jalanan di Prancis.
Aksi demonstrasi dan pemblokiran jalan serta depot bahan bakar di Prancis menjadi sasaran pengunjuk rasa. Kemudian aksi ini menjadi tidak terkendali ketika kekerasan dan represi aparat terjadi. Polisi menggunakan gas air mata, meriam dan kuda untuk menyerang pengunjuk rasa yang anarkis.
Dalam aksi ini pengunjuk rasa menuntut untuk mendapatkan keadilan sosial berupa pajak yang lebih rendah bagi pekerja dan pensiunan, serta memberikan pajak lebih tinggi pada kelas menengah atas. Adapun tuntuan berupa anggaran belanja negara yang lebih besar untuk membantu para pekerja.
Baca Juga: 6 Jenis Makanan Sehat yang Dibutuhkan Tubuh Setiap Hari
Beberapa pihak juga menuntut nasionalisasi massal terhadap perusahaan Prancis hingga revolusi penuh. Buntut dari aksi ini Macron didesak untuk turun dari jabatannya.
Fenomena demo rompi kuning menjadi sorotan publik internasional dan pengunjuk rasa di berbagai penjuru dunia dengan tuntutan yang serupa juga.
Beberapa pihak juga menuntut nasionalisasi massal terhadap perusahaan Prancis hingga revolusi penuh. Buntut dari aksi ini Macron didesak untuk turun dari jabatannya.
Fenomena demo rompi kuning menjadi sorotan publik internasional dan pengunjuk rasa di berbagai penjuru dunia dengan tuntutan yang serupa juga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








