Akurat
Pemprov Sumsel

Kampus Kebangsaan Upaya BNPT Perkuat Public Resilience dari Paham Radikal Terorisme

Mukodah | 5 Juli 2024, 17:40 WIB
Kampus Kebangsaan Upaya BNPT Perkuat Public Resilience dari Paham Radikal Terorisme

AKURAT.CO Lembaga pendidikan di Tanah Air masih menghadapi tantangan besar dalam menghadapi intoleransi, kekerasan serta penyebaran paham radikal terorisme.

Di mana, generasi muda, baik anak-anak, pelajar dan remaja masih menjadi target rekrutmen kelompok berhaluan radikalisme dan terorisme.

Untuk itulah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membuat berbagai program pencegahan radikal terorisme di kalangan generasi muda.

Setelah program Sekolah Damai di lingkungan pelajar SMA, BNPT juga menggelar program Kampus Kebangsaan untuk menyasar kalangan akademisi dan mahasiswa.

Program ini untuk memberikan public resilience di lingkungan pendidikan tinggi.

Baca Juga: Ilmu Jadi Investasi Terbesar, Dokter Reza Gladys Raih Banyak Penghargaan Bergengsi

Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Roedy Widodo, dalam acara Penguatan Kampus Kebangsaan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH), Serang, Kamis (4/7/2024), mengatakan bahwa BNPT memiliki visi yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis, yaitu negara dan masyarakat aman dari ancaman maupun tindak pidana terorisme dalam rangka terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat dan berkepribadian, berlandaskan gotong royong.

"Rencana strategis tersebut memiliki misi untuk memberikan perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga, dari ancaman tindak pidana terorisme. Termasuk di dalamnya memberikan perlindungan dan pencegahan dari pengarah paham radikalisme dan terorisme bagi kalangan generasi muda, di antaranya pelajar dan mahasiswa," jelas Roedy, melalui keterangan resmi BNPT, Jumat (5/7/2024).

Menurutnya, BNPT selama ini menggunakan seluruh potensi nasional untuk melawan ideologi radikalisme dan terorisme.

Guna menjaga generasi muda dengan konsep pentahelix dengan kerja sama dan kolaborasi secara multipihak yang melibatkan beberapa unsur, salah satunya kalangan akademisi.

"Pentahelix ini artinya multipihak. Ini menandakan tantangan dalam menghadapi terorisme berada di semua lini. Kita kembangan terus penetrasi kita ke semua pihak, termasuk di lingkungan kampus melalui Kampus Kebangsaan. Semua pihak harus melawan ideologi terorisme," ujar Roedy.

Baca Juga: WhatsApp Hadirkan Fitur Catatan Video di Kamera untuk Android

Dijelaskannya, Kampus Kebangsaan adalah salah satu program yang sudah dicanangkan Kepala BNPT, Komjen Rycko Amelza Dahniel, di tahun 2024.

Untuk digelar di level-level perguruan tinggi, baik peguruan tinggi negeri maupun swasta.

Setelah sebelumnya juga ada program Sekolah Damai yang menyasar kalangan pelajar dan guru.

"Kampus Kebangsaan ini adalah upaya kami dari BNPT untuk meningkatkan public resilience dan public awareness yang menjadi daya tangkal di lapisan civitas academica, sehingga dapat menangkal dan mencegah paham tersebut," kata Roedy.

Program Kampus Kebangsaan penting diberikan karena mahasiswa adalah bagian dari generasi muda, yang masuk dalam bagian dari pemberdayaan perempuan anak dan remaja BNPT melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme sebagai mitra BNPT di setiap provinsi.

Baca Juga: Kartu Prakerja Gelombang 70 Dibuka Hari Ini, Simak Link dan Besaran Insentifnya!

"Untuk itu, perlu diberikan pembekalan mulai dari individu, lingkungan, kelompok ataupun komunitas, level masyarakat terdekat seperti mahasiswa. Sehingga nanti setiap wilayah akan tercipta suatu ketahanan wilayah yang kita sebut sebagai public resilience. Ini sebagai upaya peningkatan daya tahan untuk masyarakat dalam rangka penangkalan, melawan, mencegah, mendeteksi atau cegah dini terhadap paham radikalisme dan terorisme yang ada di lingkungan sekitarnya," paparnya.

Untuk itu, melalui kegiatan Kampus Kebangsaan, Roedy mengajak seluruh pihak, khususnya para civitas academica untuk senantiasa meningkatkan ketahanan diri dari pengaruh paham radikal terorisme.

Seraya membangun deteksi dini melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

"Sesuai dengan tema yang diusung pada kegiatan Kampus Kebangsaan ini, yaitu Jaga Kampus Kita. Mari kita sama-sama menjaga kampus kita secara komprehensif dan pentingnya meningkatkan edukasi dan literasi tentang bahaya radikalisme dan terorisme, agar mahasiswa mampu berpikir kritis dan terhindar dari paparan pemahaman yang ekstrem," jelas alumni Akmil tahun 1990 itu.

Rektor UIN SMH, Prof. Dr. Wawan Wahyudin, mengapresiasi Langkah BNPT yang telah menggelar program Penguatan Kampus Kebangsaan untuk kalangan mahasiswa.

Baca Juga: Sertifikat Tanah Elektronik, AHY: Jaga Keamanan Siber!

"Secara pribadi, apalagi secara lembaga saya mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada BNPT. Di mana kampus kami dijadikan sebagai Kampus Kebangsaan. Karena memang disamping kewajiban dan juga pertaruhan tidak hanya masa kini, tetapi hingga masa mendatang bahwa NKRI itu harus kita jaga. Dan kampus harus tampil karena di dalamnya ada generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan," jelas Prof. Wawan.

Dijelaskannya, selama ini UIN SMH telah menanamkan nilai nilai kebangsaan kepada seluruh civitas academika, melalui penguatan PBNU yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-Undang Dasar 1945.

"Di mana PBNU itu secara intens kami berikan, bahkan masuk di mata kuliah. Selain itu juga dalam tata kehidupan sehari-hari kita sampaikan untuk memahami bahwa berbangsa dan bernegara ini sudah kesepakatan bersama oleh para pendiri bangsa baik dari NU (Nahdlatul Ulama), Muhammadiyah, Al Washliyah, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Mathlaul Anwar, TNI, Polri dan bahkan umat non-Islam lainnya pada waktu itu," Prof. Wawan menerangkan.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Ahmad Sainul Hamdi, yang turut hadir sebagai narasumber dalam sesi diskusi menjelaskan bahwa gerakan intoleransi mengejar lulusan atau mahasiswa kampus ternama yang mencetak pegawai negeri maupun guru.

"Paham radikal dan intoleran membutuhkan perlindungan dari pejabat dan paham ini dapat mudah didistribusi melalu guru. Oleh karena itu, dibutuhkan ketahanan dari pihak akademisi seperti kampus, agar memiliki ketahanan dalam paham yang menyimpang," ujar Prof. Ahmad.

Baca Juga: Adu Pantun Warnai Coklit di Kediaman Anggota Bawaslu Puadi

Dikatakannya, kampus juga sebagai tempat untuk mencetak pendidik. Yang mana pendidik itu sendiri juga akan dapat mempengaruhi cara pandang peserta didik.

"Apabila ada benih-benih radikal, pasti akan rentan sampai ke peserta didik dan itu akan tumbuh menjadi tokoh masyarakat. Untuk itu, diharapkan ada filter dan penguatan di lingkungan kampus untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi," ujar Prof. Ahmad.

Kegiatan Kampus Kebangsaan din UNI SMH dihadiri kurang lebih 300 civitas academika dari berbagai perguruan tinggi di Banten.

Mendampingi Deputi I BNPT, hadir Direktur Pencegahan BNPT, Prof. Dr. Irfan Idris; Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Kolonel Sus. Dr. Hariyanto, beserta staf; dan Ketua FKPT Banten, KH Amas Tadjuddin, beserta jajaran pengurus

Tampak hadir pula Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN SMH, Dr. Hidayatullah; Danrem 064/Maulana Yusuf, Brigjen TNI Fierman Sjahrial Agustus; Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Andi Faizal Bakti; perwakilan Polda Banten serta perwakilan Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) Banten.

Baca Juga: Di Depan Hakim, Syahrul Yasin Limpo Beberkan Sederet Prestasi sejak Jadi Lurah hingga Menteri

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK