Akurat
Pemprov Sumsel

Beda Hamzah Haz dengan Politisi Zaman Now, Jauhnya Bagai Bumi dan Langit

Atikah Umiyani | 24 Juli 2024, 14:38 WIB
Beda Hamzah Haz dengan Politisi Zaman Now, Jauhnya Bagai Bumi dan Langit

AKURAT.CO Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini, merasakan duka mendalam atas meninggalnya Wakil Presiden ke-9 RI sekaligus mantan Ketua Umum PPP, Hamzah Haz, pada Rabu (24/7/2024) pagi.

Didik menilai, Hamzah Haz adalah sosok politisi, negarawan, sekaligus penulis, pemikir, dan kolumnis yang rajin memberikan pencerahan terkait masalah ekonomi politik dan kenegaraan, khususnya politik anggaran dan APBN.

“Tidak ada politisi yang tekun seperti Hamzah Haz dalam menulis tentang politik APBN di media massa pada akhir 1980-an dan tahun 1990-an. Beliau tidak hanya menulis tetapi juga mendalaminya dalam praktek kenegaraan di DPR, di mana ia juga menjadi pimpinan partai oposisi yang loyal,” kata Didik kepada wartawan.

Baca Juga: Markas Sabung Ayam yang Digerebek di Bekasi Disulap Jadi Kandang Kuda

Didik menambahkan, Hamzah Haz adalah seorang pemimpin yang matang dan wakil presiden yang negarawan serta pemikir, yang menyukai gagasan-gagasan bangsa dalam bidang politik dan ekonomi yang seharusnya disajikan dalam diskursus publik.

“Berbeda dengan zaman sekarang, di mana banyak pemimpin yang matang dikarbit, tidak menyukai pemikiran, sekadar populer, dan hanya menyukai mainan anak-anak. Sementara Hamzah Haz yang menjadi wakil presiden, menang bersaing dengan SBY, banyak menulis pemikirannya di media besar nasional, seperti Kompas, Republika, dan Tempo pada tahun 1980-an dan 1990-an,” tuturnya.

Didik menerangkan, politisi zaman dahulu matang ditempa masa dan selalu bergulat dengan ide kebangsaan.

Hal ini tidak berbeda jauh dari generasi politisi pemikir dua hingga tiga dekade sebelumnya, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Soedjatmoko, dan pemimpin lainnya yang menguasai ide pada masanya.

Baca Juga: Apakah yang Menjadi Perbedaan Cara Pandang Para Pendiri Bangsa Mengenai Dasar Negara Indonesia

“Terus terang jika membandingkan pemimpin sekarang dengan perjalanan pemimpin seperti Hamzah Haz dan generasi sebelumnya, kita mengelus dada. Jauh seperti bumi dan langit. Yang simboliknya seperti pemikiran kebangsaan, buku, dan mainan anak kecil,” ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
W
Editor
Wahyu SK