Akurat
Pemprov Sumsel

Prof Oman: Kepergian Achadiati Ikram Berakhirnya Filolog Generasi Kedua

Deni Hermawan | 27 Juli 2024, 11:09 WIB
Prof Oman: Kepergian Achadiati Ikram Berakhirnya Filolog Generasi Kedua

AKURAT.CO Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Oman Fathurrahman menyebut kepergian seorang filolog senior Achadiati Ikram pada Ahad pagi, 21 Juli 2024 sekitar pukul 08.50 WIB merupakan berakhirnya filolog generasi kedua. Hal itu disampaikan dalam tayangan YouTube Ngaji Manuskrip Nusantara (Ngariksa) episode ke-122 pada Jumat (26/7).

“Ibu Achadiati merupakan sosok penting. Sebab, sebagaimana disebutkan Sudibyo Prawiroatmodjo, kepergiannya merupakan tanda berakhirnya filolog generasi kedua,” tutur Oman dalam episode Ngariksa berjudul ‘Ibu Achadiati dan Sanad Ilmu Filologi’.

Kiprah Achadiati, lanjut Oman, menjadi sangat penting dalam dunia filologi di Nusantara. Sebab, purnabakti guru besar filologi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Depok ini merupakan guru dari para filolog hari ini.

“Ibu Achadiati adalah sandaran utama sanad filologi Indonesia,” tegas Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah, Depok itu.

Baca Juga: Anggota DPR Fraksi Nasdem Ujang Iskandar Ditahan atas Dugaan Korupsi di Pemkab Kotawaringin Barat

Dalam warisan keilmuan, filologi khususnya, Achadiati disebut meninggalkan tradisi kritik teks (textual criticism), filologi sejarah, sastra, dan kajian Islam atau islamic studies. Selain itu, ia juga merupakan pendiri sekaligus ketua pertama Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa) dan asosiasi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).

“Ini yang menginspirasi dengan munculnya filologi plus, yaitu filolgi yang dikontekstualisasi dengan kajian-kajian ilmu lain,” kata Oman.

Tiga Guru Penting Achadiati

Achadiati memiliki tiga guru yang merupakan sarjana berkompeten, yaitu Hoesein Djajadiningrat (1886-1960), RM. Ng. Poerbatjaraka (1884-1964), dan Prijono. Meski begitu, tegas Oman, ada juga guru-guru lain Achadiati.

Hoesein Djajadiningrat adalah seorang Guru Besar bidang sejarah dan ahli keislaman (islamologi). Gelar kesarjanaannya diperoleh di Universitas Leiden pada 1913. Ia merupakan putra Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan gelar akademik tertinggi di Universitas Leiden. Ia juga boleh dianggap sarjana pribumi pertama yang menggunakan pendekatan metode kritis sejarah, dan menggabungkannya dengan pendekatan filologi.

Naskah-naskah tentang sejarah Banten menjadi rujukan utama Djajadiningrat. Disertasinya berjudul “Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (Tinjauan kritis sejarah Banten), di bawah asuhan Christian Snouck Hurgronje.

“Artinya, sanad keilmuan Bu Ikram tersambung ke Snouck, melalui Hoesein Djajadiningrat,” tegas Oman.

Sedangkan guru Achadiati kedua, RM. Ng. Poerbatjaraka, merupakan seorang bangsawan, budayawan, dan filolog ahli sastra Jawa Kuno. Ia menulis tesis di Univesitas Leiden berjudul “Agastya in den Archipel” (1926). Di akhir menjelang hidupnya, ia menjadi profesor bidang Jawa Kuno di sejumlah universitas, yaitu UGM Jogja, UI Depok, dan Udayana Bali.

Poerbatjaraka boleh disebut sebagai filolog otodidak. Meski demikian, limpahan karya yang ditulisnya menggambarkan sampai tingkat apa kualitas keilmuannya.

“Melalui Poerbatjaraka, kepakaran Bu Ikram dalam bidang Jawa Kuno terkonfirmasi,” kata Oman.

Guru Achadiati ketiga yang sering disebutnya adalah Prijono. Ia juga seorang pakar filologi Jawa Kuno alumni Universitas Leiden. Disertasinya berjudul “Sri Tanjung. Een oud- Javaansch verhaal” (1938). Achadiati memiliki kedekatan tersendiri dengan Prijono, yang merekrutnya sebagai dosen Sastra Indonesia, ketika ia menjabat sebagai Dekan pertama Fakultas Sastra UI ini tahun 1950-1956. Achadiati bahkan menjadi asistennya.

Baca Juga: Studi: 19 Persen Anak Begadang Disebabkan Main HP

Tebak Judul Manuskrip

Pada kesempatan itu, Oman menyebut salah satu kenangannya yang cukup berkesan bersama Achadiati. Dikisahkan, sekali waktu sejumlah pegiat naskah yang didampingi oleh Achadiati sendiri sedang berkumpul untuk membuat katalog naskah Buton koleksi Abdul Mulku Zahari.  

Secara kebetulan, ada satu lembar naskah berbahasa Arab tercecer tanpa judul. Teks awal naskah tersebut adalah ya dzal mann wa la yumann ‘alaih. Semua orang yang terlibat dalam kegiatan ini merasa kesulitan untuk menentukan judul naskah ini. Karena tidak ada judul dan berbahasa Arab, Achadiati akhirnya memanggil Oman untuk bantu memecahkan judulnya.

Tidak butuh waktu lama setelah membaca teks awal naskah, Oman langsung menebak bahwa judulnya adalah Doa Nisfu Sya’ban. Merasa heran Oman bisa melacak judul secepat itu, Achadiati pun bertanya apa argumennya. Lantas Oman menjawab bahwa berdasarkan pengalamannya, salah satu tradisi umat Islam saat 15 Sya’ban adalah melakukan ritual khusus, salah satunya adalah doa sebagaimana yang tertuang dalam naskah tersebut. 

Dari kisah ini, Oman berpesan agar seorang guru hendaknya tidak perlu malu untuk bertanya kepada muridnya. Selain itu, sebagai salah satu alumni pesantren, Oman juga menyampaikan bahwa seorang santri memiliki potensi kuat untuk menekuni dunia filologi sebab sudah terbiasa membaca teks-teks klasik.

“Achadiati adalah seorang guru hebat, sebab ia melahirkan para guru hebat berikutnya,” pungkas Oman.

Pewarta: Muhamad Abror (Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
Lufaefi
Editor
Lufaefi