Akurat
Pemprov Sumsel

Gelar Silaturahmi Kebangsaan Penyintas dan Mitra Deradikalisasi, BNPT Hadir Dukung Pemulihan Juga Perdamaian

Mukodah | 20 September 2024, 14:26 WIB
Gelar Silaturahmi Kebangsaan Penyintas dan Mitra Deradikalisasi, BNPT Hadir Dukung Pemulihan Juga Perdamaian

AKURAT.CO Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat langkah dalam membangun perdamaian, melalui rekonsiliasi antara penyintas atau korban aksi terorisme dan mantan pelaku tindak pidana terorisme (napiter) yang sudah mengikuti program deradikalisasi atau mitra deradikalisasi.

Salah satunya dengan menggelar Silaturahmi Kebangsaan Penyintas dan Mitra Deradikalisasi yang bertujuan untuk memupuk ikatan persaudaraan dan memaafkan kesalahan masa lalu.

Dalam hal ini, BNPT hadir sebagai representasi negara dalam upaya mendukung pemulihan dan penyembuhan bagi para penyintas, serta membangun hubungan yang lebih baik dengan mantan pelaku terorisme.

Hal itu diungkapkan Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Roedy Widodo, saat menutup rangkaian acara Silaturahmi Kebangsaan Penyintas dan Mitra Deradikalisasi di Golden Tulip Holland Resort Batu, Malang, Jawa Timur, pada Kamis (19/9/2024).

"Rekonsiliasi ini menjadi momentum penting dalam membangun narasi damai. Kita ingin membangun komunikasi yang damai, menghargai, memaafkan dan meneguhkan hubungan simbiosis yang berfokus pada perdamaian," ujarnya.

Roedy mengungkapkan, kesempatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi para mantan napiter untuk meninggalkan masa lalu kelam mereka dan bangkit menjadi pribadi yang lebih baik.

Baca Juga: Tiga Balita Jadi Korban Kebakaran di Pulogadung

"Ini adalah langkah baik untuk mengedepankan kesadaran, bergandengan tangan bersama penyintas. Dan memberi pengaruh positif kepada mereka yang belum tersadar di luar sana dalam menatap masa depan yang damai. Kita semua menyuarakan perdamaian untuk Indonesia," jelasnya, melalui keterangan resmi BNPT, Jumat (20/9/2024).

Menurut Roedy, kegiatan ini juga sekaligus menjadi perwujudan dari komitmen negara terhadap pemulihan korban tindak pidana terorisme.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 103/PUU-XXI/2023 memberikan ruang bagi korban terorisme untuk mendapatkan hak-hak mereka melalui pengajuan permohonan.

BNPT menyadari pentingnya peran negara dalam proses pemulihan ini.

Dan kegiatan silaturahmi kebangsaan menjadi salah satu bukti nyata dari upaya tersebut.

"Langkah perlindungan dan pemulihan terhadap korban merupakan bagian integral dari penegakan hukum atas tindak pidana terorisme. Dan kami akan selalu hadir untuk memberikan pemulihan serta peningkatan kesejahteraan bagi para korban," kata Roedy.

Dalam kesempatan yang sama, Asisten I Provinsi Jatim, Benny, M.Si., yang mewakili Penjabat Gubernur Jatim, menyampaikan apresiasi atas inisiatif BNPT.

Serta komitmen untuk terus memberi dukungan terhadap program ini melalui koordinasi dengan pihak terkait di Jatim.

"Kami menyambut baik acara ini, karena menghubungkan dua kutub yang berbeda, yaitu pelaku dan korban, yang kini disebut penyintas dan mitra deradikalisasi. Program ini menyatukan mereka dalam kesamaan sebagai sesama korban, yang pada akhirnya memperkuat persatuan di antara kedua belah pihak," paparnya.

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Brigjen (Purn) Achmadi juga menyampaikan apresiasinya terhadap langkah rekonsiliasi ini.

Ia menekankan bahwa kegiatan ini memiliki makna strategis dalam pencegahan tindak pidana terorisme dan pemenuhan hak korban.

"Silaturahmi antara penyintas dan mitra deradikalisasi adalah langkah penting dalam dalam pemenuhan hak korban, pencegahan dan penanggulangan terorisme. Serta program ini bisa menjadi contoh di tingkat internasional," katanya.

Menurut Achmadi, LPSK dan BNPT terus menjalin komunikasi yang intens untuk memastikan hak-hak korban dapat dipenuhi, sesuai Putusan MK Nomor 103/PUU-XXI/2023.

Ia pun mengajak para penyintas untuk bangkit dan tetap menjadi insan yang kuat.

"Jadilah penyintas yang tangguh untuk diri sendiri, keluarga dan bangsa kita," katanya.

Baca Juga: Lolly Masih Diperiksa, Nikita Mirzani Pilih Pulang ke Rumah

Muhanan, seorang mantan narapidana terorisme, mengungkapkan terima kasih yang mendalam kepada para penyintas, atas pengertian dan kemurahan hati dalam memaafkan kesalahan masa lalu.

Ia menyadari betapa pentingnya proses pemulihan ini dan mengapresiasi kesempatan yang diberikan untuk merajut kembali hubungan yang telah retak akibat tindakan terorisme sebelumnya.

"Saya melihat rekan-rekan penyintas sangat penuh sopan santun, mudah memaafkan meskipun menyimpan rasa duka yang dalam. Kami memohon maaf atas apa yang telah kami lakukan dan semoga Allah mengampuni dosa kita semua," ucap Muhanan.

Dalam kesempatan yang sama, Chusnul, seorang penyintas Bom Bali I, menyatakan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan untuk berpartisipasi dalam acara ini.

Ia mengungkapkan betapa berarti dapat terlibat langsung dalam kegiatan ini, untuk berbagi pengalaman dan mendukung sesama dalam proses pemulihan dan rekonsiliasi.

"Saya sangat senang mengikuti acara ini karena bisa berbincang, saling menyemangati dan bertemu dengan rekan-rekan yang merasakan penderitaan serta trauma yang sama," ujar Chusnul.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK