Pelibatan Sipil dan Pemberdayaan Perempuan Jadi Kunci Penanggulangan Ekstremisme di Indonesia

AKURAT.CO Upaya pencegahan ekstremisme di Indonesia semakin menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil.
Pendekatan yang dilokalkan dan mendukung partisipasi aktif perempuan dinilai efektif dalam menciptakan intervensi yang berkelanjutan.
Steering Committee Working Group on Women and Preventing/Countering Violent Extremism (WGWC), Ruby Kholifah, mengatakan, sinergi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci keberhasilan program pencegahan ekstremisme.
Pelibatan unsur masyarakat sipil di dalam sebuah platform resmi yang diwadahi pemerintah menjadi salah satu ciri yang menonjol dan progresif untuk penanggulangan ekstremisme di Indonesia.
"Saya pikir ini adalah satu-satunya wadah di mana pemerintah dan masyarakat bisa saling bekerja sama dalam kerangka birokrasi untuk menghadapi isu yang dihadapi bersama," kata Ruby dalam webinar Localizing Preventing and Countering Violent Extremism (PCVE) Strategies, Jumat (25/10/2024).
Di Tanah Air, pelibatan aktif masyarakat, terutama perempuan ini sudah menjadi agenda kerja utama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) via framework gender mainstreaming.
Pengarusutamaan gender dalam kontraradikalisasi ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan dalam masyarakat.
Baca Juga: KPU DKI Jakarta Target Proses Sortir Lipat Suara Rampung Akhir Bulan Ini
BNPT berupaya menciptakan ruang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam dialog dan pengambilan keputusan terkait pencegahan ekstremisme.
Dengan demikian, perempuan tidak hanya dilihat sebagai korban, tetapi juga sebagai pemimpin dan penggerak dalam komunitas mereka.
Ruby yang juga Direktur The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia menyoroti bahwa dunia terorisme sering kali didominasi oleh maskulinitas, yang salah satunya ditunjukkan dengan citra "man in uniform."
Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa perempuan kini menjadi salah satu kelompok paling rentan terpapar radikalisme.
Keterlibatan perempuan tidak hanya sebagai palu pasif, namun juga agen pasif.
Namun di sisi lain perempuan juga punya peran penting di komunitas lokal sebagai agen PCVE.
Lebih jauh, Ruby menekankan bahwa program lokal lebih efektif dalam menciptakan intervensi yang berkelanjutan dan memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam kebijakan di tingkat lokal.
Baca Juga: 16 Komunitas Otomotif Turut Meriahkan GIIAS Semarang 2024
Keberhasilan lokalisasi strategi penanggulangan ekstremisme di Indonesia, menurut Ruby, adalah buah dari hasil kerja sama yang erat antara pemerintah dan masyarakat sipil.
Program-program yang melibatkan masyarakat sipil, terutama perempuan, tidak hanya memberikan target yang jelas, tetapi juga menciptakan dampak yang berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








