Waspada! Aksi Boikot Produk Rawan Ditunggangi Persaingan Bisnis, Lebih Baik Fokus Ibadah Ramadhan

AKURAT.CO Masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam melakukan boikot terhadap produk tertentu karena berisiko disusupi oleh pihak-pihak yang ingin meraup keuntungan melalui persaingan bisnis.
Fenomena ini dapat terjadi melalui pemberitaan masif di media dan penyebaran daftar boikot di media sosial tanpa konfirmasi dari otoritas yang berwenang.
Akademisi Universitas Islam Indonesia (UII), Yusdani, mengingatkan agar masyarakat lebih cermat dalam menyikapi seruan boikot produk di dalam negeri.
Menurutnya, aksi boikot yang tidak disertai verifikasi jelas justru dapat merugikan perekonomian lokal dan negara.
"Saya berharap masyarakat, terutama umat Muslim, menyikapi boikot ini dengan cerdas. Jangan sampai gerakan ini justru merugikan perusahaan yang telah banyak berkontribusi bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia," ujar Yusdani, Rabu (19/3/2025).
Sebagai Direktur Pusat Studi Siyasah dan Pemberdayaan Masyarakat (PS2PM) UII Yogyakarta, Yusdani meminta pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) lebih transparan dalam mengungkapkan produk atau perusahaan mana saja yang terafiliasi dengan Israel.
Baca Juga: IPHI Dukung Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dorong Pembentukan Komite Tetap Haji
Hal ini untuk mencegah pihak-pihak tertentu memanfaatkan isu boikot dengan menyebarkan daftar liar produk yang dianggap terafiliasi.
"Fakta bahwa daftar liar produk muncul tanpa konfirmasi resmi menunjukkan bahwa ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan pribadi. Akibatnya, gerakan boikot yang baik menjadi tidak tepat sasaran," katanya.
Senada dengan itu, Dekan Fakultas Hukum UII, Budi Agus Riswandi, menyayangkan aksi boikot yang dimanfaatkan untuk tujuan persaingan bisnis.
Ia mencurigai bahwa pihak-pihak tertentu sengaja mengambil keuntungan dengan mengeluarkan daftar produk tanpa dasar yang valid.
"Kalau memang produk tertentu terbukti terafiliasi dengan Israel dan mendukung tindakannya, maka harus ada bukti yang sahih, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai ada pihak yang sengaja menuding produk saingan dengan tujuan perang dagang," jelas Budi.
Pakar Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Indonesia, Satrio Arismunandar, mengungkapkan bahwa ada indikasi kelompok tertentu menggunakan isu Palestina untuk menyerang produk pesaingnya.
Menurutnya, taktik ini dilakukan dengan mengutip narasumber yang tidak jelas dan menyebarkannya melalui media sosial serta media massa nasional.
"Framing itu terlihat dari judul dan isi berita yang seragam. Misalnya, produk pesaing dituding mendukung Israel tanpa bukti yang jelas. Ini jelas strategi untuk menghantam produk tertentu demi keuntungan pribadi," tegas pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu.
Sebelumnya, MUI menyerukan masyarakat untuk terus melanjutkan aksi boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel. Namun, ajakan itu tidak diikuti dengan daftar produk yang terkonfirmasi dari lembaga resmi.
Sementara itu, cendekiawan Muslim dari Melbourne University, Nadirsyah Hosen, mengingatkan, boikot yang tidak terarah justru dapat merugikan masyarakat dan perekonomian nasional.
Ia mengajak publik untuk merujuk pada daftar produk yang telah dikeluarkan oleh PBB, karena lembaga internasional tersebut sudah melakukan konfirmasi dengan perusahaan-perusahaan yang terlibat.
"Prinsipnya, kita mendukung boikot sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, tetapi jangan sampai salah sasaran," tegasnya.
Di sisi lain, Pegiat Ekonomi Keumatan, Andi YH Djuwaeli, mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada ibadah dan amal kebaikan selama Ramadhan daripada terjebak dalam isu yang belum jelas kebenarannya.
"Lebih baik kita berlomba melakukan kebaikan yang nyata. Itu jauh lebih bermanfaat bagi seluruh masyarakat," katanya.
Baca Juga: Sudah Terealisasi! Lebih dari 130 Ribu Rumah Subsidi Terbangun
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










