Sekolah Rakyat Harus Punya Terbosan Baru, DPR: Agar Tak Dicap untuk Anak Miskin

AKURAT.CO Komisi VIII DPR RI, mendukung program pembangunan Sekolah Rakyat di bawah Kementerian Sosial. Namun, pemerintah harus mengupayakan agar Sekolah Rakyat tersebut tidak dilabeli sebagai sekolah anak miskin.
"Pada saat nanti ini beroperasional yang harus diingat oleh Pemerintah baik itu Pemerintah Pusat dan daerah adalah labelling terhadap sekolah tadi. Jangan sampai anak-anak yang sudah (lekat) dengan dikotomi bahwa dia anak miskin, kemudian dia sekolah kemudian menjadi labelling dia dari sekolah kemiskinan," kata Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, dalam keterangannya, dikutip Jumat (28/3/2025).
Karena itu, Selly berharap perlunya terobosan-terobosan lain agar nama sekolah rakyat ini dapat memberikan nilai positif, bahkan menjadi kebanggaan bagi anak-anak yang sekolah di sana.
Baca Juga: 53 Sekolah Rakyat Siap Diresmikan saat Dimulainya Tahun Ajaran Baru
"Agar nama Sekolah Rakyat ini bisa memberikan nilai positif, agar anak-anak yang bersekolah tadi dia punya kebanggaan, bahwa dia dibiayai oleh Pemerintah, dan suatu saat mereka bisa menjadi orang sukses dan hebat seperti yang diinginkan oleh Presiden maupun Kemensos," tuturnya.
Dia juga mengingatkan, Sekolah Rakyat yang berbentuk boarding school dengan anggaran hampir sebesar Rp100 Miliar, diharapkan mampu memikirkan dari segala macam aspek. Dimulai dari kurikulumnya, tenaga pengajarnya dan lain sebagainya.
"Kurikulum ini tanggung jawab siapa, pasti Kemendikdasmen, kemudian terkait dengan tenaga pengajar bagaimana? Karena tidak mudah untuk bisa menentukan siapa yang berhak untuk menjadi guru di sekolah tersebut. Berikutnya lagi penentuan siswa-siswanya kadang memang kategori untuk masuk di sekolah rakyat adalah anak-anak miskin dan anak-anak yang miskin ekstrem," ungkapnya.
Menurutnya, menjadi masalah klasik bahwa siapa yang berhak bersekolah di Sekolah Rakyat, apakah anak tergolong miskin atau miskin ekstrem. Karena faktanya, untuk menentukan data tersebut saja masih membutuhkan koordinasi berbagai pihak.
Baca Juga: Sekolah Rakyat: Peluang Baru Tingkatkan Akses Pendidikan di Seluruh Indonesia
"Hari ini kita ada yang namanya DTS yang mengelola dari DTKS menjadi DTSEN. DTSEN setiap pemerintah daerah maupun pemerintah kabupaten kota mereka kesulitan untuk bisa memilah milah tadi," ujarnya.
Maka dari itu, Politisi PDI Perjuangan (PDIP) ini sangat berharap data ini bisa benar-benar tepat sasaran.
"Tentu saja saya berharap DTSEN inikan kolaborasi antara DTKS kemudian data dari Bappenas yang menurut kami harus tepat sasaran. Tentu yang paling penting lagi adalah support anggaran dari Pemerintah Pusat seperti yang disampaikan 100 Miliar ini. Itu bukan uang kecil di saat kita sedang melakukan efisiensi, tentu harus ada regulasi payung hukum yang memperkuat tentang keberadaan sekolah rakyat tadi karena melibatkan beberapa K-L," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






