Negosiasi Turunkan Tarif, Indonesia Tambah Kuota Impor BBM dari AS

AKURAT.CO Presiden RI, Prabowo Subianto, menggelar rapat bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/4/2025).
Bahlil mengatakan, rapat tersebut untuk membahas lebih lanjut terkait komoditas apa saja yang akan dilakukan impor tambahan dari Amerika Serikat (AS) dalam rangka membuat keseimbangan neraca perdagangan.
"Kita tahu bahwa neraca kita kan surplus sekitar 14,5 menurut BPS, tapi kemudian dalam pencatatan di Amerika kan berbeda, itu lebih dari 14,5. Dan salah satu strategi untuk kita membuat keseimbangan adalah kita membeli LPG, crude, dan BBM dari Amerika," ucap Bahlil kepada wartawan.
Dia menerangkan, impor tambahan ke AS ini sama sekali tidak akan mengganggu kuota impor Indonesia. Sebab, hanya terjadi perpindahan lokasi belanja dari yang sebelumnya membeli dari kawasan Afrika dan Asia, kini beralih ke Amerika.
Baca Juga: Wamen ESDM: Fasilitas Gas Akatara Tekan Impor LPG
"Kita kan, ini sebenarnya sudah impor. Tapi sebenarnya ini kan adalah sebagian kita beli dari negara-negara di middle east, di Afrika, kemudian di Asia Tenggara, ini kita switch saja. Kita pindah saja ke Amerika, dan itu tidak membebani APBN dan juga tidak menambah kuota impor kita," ujarnya.
Bahlil menyebut, besaran nilai impor tersebut bisa mencapai lebih dari USD10 miliar untuk komoditas bahan bakar minyak (BBM). "Di atas USD 10 miliar kalau dari sektor BBM. crude oil, LPG, maupun BBM," tuturnya.
Menurutnya, penambahan impor ke AS ini merupakan salah satu strategi untuk bernegosiasi mengenai kebijakan tarif resiprokal yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump.
Saat ini, delegasi Indonesia juga sedang melakukan negoisiasi tersebut di AS yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
"Ini kan bagian daripada bagaimana membangun keseimbangan. Kalau dengan harapan neraca perdagangan kita sudah seimbang, bahkan mungkin bisa mereka surplus, katakanlah kalau itu terjadi, harapannya tarifnya diturunkan dong. Kalau tidak diturunkan untuk apa," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






