60 Persen Anak Indonesia Tidak Pernah Minum Susu, Program Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru

AKURAT.CO Masih banyak anak Indonesia yang belum mendapatkan akses terhadap makanan bergizi.
Bahkan, menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sekitar 60 persen anak di Indonesia tidak pernah mengonsumsi susu. Bukan karena tidak mengenal manfaatnya, melainkan faktor ekonomi.
"Bukan karena mereka (anak Indonesia) tidak tahu manfaat susu, tapi karena tidak mampu membelinya," ujarnya saat menghadiri kegiatan di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, pada Senin (26/5/2025).
Baca Juga: Pemerintah Komitmen Perbaiki Program Makan Bergizi Gratis, Tingkatkan Pengawasan hingga Evaluasi SOP
Lebih lanjut, Dadan juga menyoroti bahwa pola konsumsi harian anak-anak Indonesia sebagian besar belum mencerminkan prinsip gizi seimbang.
Dia menyebutkan bahwa banyak anak terbiasa hanya mengonsumsi nasi dengan bala-bala, mi instan, bakwan atau kerupuk sebagai menu utama mereka.
Menu semacam ini, meskipun mengenyangkan, jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi di masa pertumbuhan anak.
Baca Juga: DPR Dorong Program Makan Bergizi Gratis Lebih Ramah Lingkungan
MBG Jadi Solusi
Untuk mengatasi ketimpangan asupan gizi tersebut, pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini dirancang agar anak-anak, khususnya di usia sekolah, bisa mendapatkan akses rutin terhadap makanan sehat dan bergizi seimbang.
"Dalam MBG, menu yang disajikan harus mengandung nasi, lauk hewani seperti telur, ayam, atau ikan. Ditambah sayur, buah dan susu. Itu adalah komponen wajib," ujar Dadan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Komitmen Percepat Perbaikan Ekonomi Desa dan Perluas Program Makan Bergizi Gratis
Program MBG dipandang sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
MBG Tingkatkan Kualitas Generasi Muda
Dadan menjelaskan bahwa intervensi gizi melalui program MBG tidak hanya bertujuan mencegah stunting, tetapi juga untuk mengoptimalkan pertumbuhan fisik anak-anak.
Salah satu indikator pentingnya adalah tinggi badan.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Butuh Perbaikan Tata Kelola dan Fokus ke Daerah Terpencil
"Kalau kebutuhan gizinya terpenuhi sejak dini, anak-anak kita punya peluang tumbuh hingga tinggi 180 centimeter. Tapi kalau tidak, rata-ratanya hanya sekitar 160 sampai 165 centimeter," jelasnya.
Lebih dari itu, Dadan mengingatkan bahwa bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini tidak akan berarti jika kualitas SDM-nya tidak diperhatikan sejak sekarang.
"Kalau gizinya tidak terpenuhi, bonus demografi hanya akan menjadi angka. Intervensi gizi adalah kunci utama dalam membangun generasi unggul," pungkasnya.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis: Penuhi Gizi Anak, Bentuk Disiplin Lingkungan
Investasi Gizi untuk Masa Depan
Masalah gizi tidak bisa dipandang sebelah mata.
Ketika jutaan anak masih kesulitan mengakses makanan bergizi, maka perlu ada peran nyata dari negara untuk hadir dan memastikan hak dasar ini terpenuhi.
Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis, bukan hanya menekan angka stunting tetapi juga untuk menyiapkan generasi yang lebih sehat, cerdas dan berdaya saing global.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Serap Susu Peternak Lokal: Harga Naik, Ekonomi Tumbuh
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









