BKKBN: Bidan Kunci Bonus Demografi 2045, Tapi Gizi Buruk Jangan Diabaikan

AKURAT.CO Negara diminta menjamin kualitas kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi utama menyambut bonus demografi 2045.
Dalam hal ini, peran bidan dinilai sangat vital sejak masa pranikah hingga tumbuh kembang anak.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan pentingnya peran strategis bidan dalam program Keluarga Berencana dan pencegahan stunting di tingkat komunitas.
Menurutnya, bidan tidak hanya memberikan layanan medis, tetapi juga berfungsi sebagai pendamping, edukator, dan penyampai informasi yang akurat tentang kesehatan reproduksi.
“Jangan bicara SDM unggul kalau gizi buruk dan kematian ibu masih tinggi. Bidanlah penjaga kualitas generasi emas kita. Tanpa mereka, mustahil kita bisa memanen bonus demografi dengan baik,” kata Wihaji, Senin (9/6/2025).
BKKBN sendiri telah memperkuat pelaksanaan program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari edukasi bagi calon pengantin hingga pemantauan tumbuh kembang balita.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan target Indonesia Emas 2045 tercapai.
Baca Juga: PKS Desak Pemerintah Bertindak Adil: Tambang Dekat Wisata Raja Ampat Harus Ditindak!
Untuk memperkuat layanan, BKKBN terus menjalin sinergi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
Kolaborasi ini penting agar layanan keluarga berencana dan pencegahan stunting dapat dijalankan secara berkelanjutan dan merata hingga ke pelosok negeri.
“Dengan kebersamaan dan kolaborasi, kita bisa meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memastikan setiap ibu dan anak terlindungi, dan mewujudkan Indonesia yang sehat dan sejahtera,” tambah Wihaji.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menambahkan, pemerintah juga menyiapkan ekosistem pelatihan yang memungkinkan bidan senior membuka praktik mandiri dan membimbing bidan baru, terutama di daerah dengan kekurangan tenaga kesehatan.
"Kami akan pastikan jalur rujukan antara bidan dan fasilitas kesehatan berjalan jelas demi keselamatan ibu dan bayi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum IBI, Ade Jubaedah, mengungkapkan saat ini terdapat lebih dari 35.000 bidan praktik mandiri, dan sebanyak 18.000 di antaranya telah tersertifikasi sebagai Bidan Delima—yakni bidan yang mendapatkan pelatihan dan pengawasan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










