KKI Soroti Bahaya Galon Guna Ulang Tua: Potensi Racun BPA Ancam Jutaan Konsumen

AKURAT.CO Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyoroti celah regulasi serius terkait tidak adanya batas masa pakai untuk galon guna ulang air minum dalam kemasan yang banyak beredar di masyarakat.
Galon yang sudah berusia lanjut—disebut sebagai ganula—dinilai berpotensi mencemari air minum dengan zat kimia berbahaya Bisphenol A (BPA).
Ketua KKI, David Tobing, menegaskan, ketiadaan aturan masa pakai galon merupakan kelalaian yang membahayakan konsumen.
“Barang konsumsi pasti ada usia pakainya. Anehnya, di galon guna ulang justru tidak tercantum masa kedaluwarsanya,” ungkap David, Selasa (17/6/2025).
Ia menambahkan, berdasarkan kajian para ahli, galon seharusnya hanya dipakai maksimal 40 kali.
“Kalau satu minggu dipakai sekali, usia maksimum galon itu hanya satu tahun,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, David mencontohkan pengawasan terhadap tabung elpiji yang terbuat dari baja. Tabung-tabung ini wajib menjalani uji ulang atau tera setiap lima hingga sepuluh tahun.
“Sementara galon guna ulang terbuat dari plastik, material yang tidak sesolid baja, masak tidak diatur masa pakainya,” keluhnya.
Investigasi lapangan KKI di lima kota besar menemukan banyak galon berusia lebih dari dua tahun yang masih digunakan oleh konsumen.
Baca Juga: Jakarta Siap Jadi Pusat Industri Furnitur dan Woodworking Terbesar Asia Tenggara September 2025
“Realitasnya, kami menemukan banyak galon guna ulang yang beredar di masyarakat justru berusia di atas dua tahun. Ini yang seharusnya tidak digunakan lagi, karena termasuk ganula atau galon lanjut usia,” papar David.
Bahaya utama dari penggunaan ganula ini adalah potensi pelepasan senyawa BPA—zat kimia sintetis dalam plastik polikarbonat yang menjadi bahan galon.
“BPA adalah senyawa kimia sintetis yang digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat yang menjadi kemasan galon guna ulang. Semakin tua galon ini, semakin banyak BPA bisa luruh (terlepas) ke dalam air minum,” jelas David.
Dampaknya tidak main-main. BPA dikenal sebagai endocrine disruptor, yakni zat yang dapat meniru hormon manusia.
"Artinya, ia meniru hormon dalam tubuh manusia, sehingga ratusan penelitian menemukan paparan BPA berpotensi mengganggu fungsi hormonal tubuh, memengaruhi tumbuh kembang anak, bahkan meningkatkan risiko beberapa jenis kanker,” kata David.
David menekankan pentingnya regulasi karena persoalan ini menyangkut jutaan orang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 40 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi air minum dari galon guna ulang.
“Jadi artinya 40 persen dari 280 juta, sekitar 111 juta mengkonsumsi air minum dari galon dan bisa berpotensi terkontaminasi BPA,” tegasnya.
Temuan KKI juga diperkuat oleh hasil investigasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2021–2022, yang menunjukkan bahwa paparan BPA di enam wilayah Indonesia sudah melampaui batas aman 0,6 bpj (bagian per juta).
Atas kondisi ini, David mendesak pemerintah segera mengeluarkan regulasi batas masa pakai galon guna ulang serta mempercepat implementasi pelabelan peringatan bahaya BPA pada kemasan.
Langkah ini dianggap penting untuk melindungi konsumen dari ancaman yang tidak terlihat namun berdampak besar terhadap kesehatan.
“Kalau masalah ini tidak segera diatasi, kita mempertaruhkan kesehatan generasi mendatang,” tutup David.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









