Akademisi Usulkan Perbaikan Tata Kelola Program MBG

AKURAT.CO Komisi IX DPR RI menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama perwakilan masyarakat sipil untuk membahas evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sembilan bulan.
Associate Professor Public Health Monash University, Grace Wange, menilai pemerintah perlu segera melakukan moratorium pelaksanaan program MBG.
Menurutnya, tingginya kasus keracunan di berbagai daerah sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikan sementara program tersebut.
“Kami berharap pemerintah mau legowo melakukan moratorium, karena tidak bisa ditunda lagi. Sudah sembilan bulan berjalan, masa mau ditunda sampai kapan lagi? Perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap MBG karena tingginya kasus keracunan, lemahnya mekanisme evaluasi, serta kurangnya akuntabilitas dan transparansi,” kata Grace di Jakarta, Senin (22/9/2025).
Ia juga mendorong pemerintah membentuk kanal pelaporan khusus agar publik memiliki akses jelas untuk menyampaikan aduan.
“Saat ini kanal yang ada tidak jelas. Kalau pun mengadu lewat media sosial, ada ancaman tersendiri bagi mereka yang melaporkan,” ujarnya.
Baca Juga: Komisi IX Soroti Keracunan Massal dan Rendahnya Serapan Anggaran MBG
Lebih lanjut, Grace menekankan perlunya desain strategi jangka panjang yang lebih desentralistik dan terintegrasi dengan sistem pendidikan serta kesehatan.
Selain itu, ia mengingatkan agar pemerintah menjamin hak penerima manfaat untuk memperoleh makanan bergizi yang aman dan berkualitas.
“Kami menuntut adanya perbaikan tata kelola. Harus ada akuntabilitas, transparansi, dan keterlibatan masyarakat sipil. Justru dengan kolaborasi, program ini bisa berhasil,” tegasnya.
Sementara itu, Analis Kebijakan dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) memaparkan hasil studi bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Wahana Visi Indonesia pada Juli–September 2025.
Dari 1.624 responden, sebanyak 572 anak atau 35,2 persen mengaku tidak menghabiskan menu MBG karena makanan yang diterima basi atau berbau.
“Dari pertanyaan terbuka, salah satu faktor utama anak tidak menghabiskan MBG adalah karena makanan basi atau berbau. Hasil analisis tematik menguatkan temuan ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, dari 5.626 kasus yang tercatat di 17 provinsi, selain keracunan juga ditemukan makanan yang tidak layak konsumsi.
“Beberapa sampel makanan berkaitan erat dengan temuan tersebut, baik dari gejala, pola penyebaran, maupun waktu munculnya sakit,” ujarnya.
Baca Juga: Rahasia Mendapatkan Uang dari TikTok: Panduan Lengkap untuk Kamu yang Masih Pemula!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








