Pemerintah Aktifkan Kembali Aplikasi SIZE Tangani Penyebaran Rabies hingga TBC di NTT

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, kasus gigitan hewan penular rabies telah menjadi ancaman nasional. Tercatat, lebih dari 180.000 kasus gigitan dan 120 kematian hingga tahun 2024, di mana sepertiga kematian terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam tiga tahun terakhir, kasus rabies di NTT mengalami peningkatan yang menyebabkan ratusan korban jiwa. Lebih dari 80 persen penularan disebabkan oleh gigitan anjing yang dilepasliarkan tanpa vaksinasi rutin.
"Ini bukan sekadar angka di laporan, ini adalah cerita kehilangan para keluarga, masa depan bagi anak-anak kita. Kita tak bisa menunggu lagi. Kita harus segera bertindak, bergerak sekarang," kata Pratikno, dikutip Sabtu (18/10/2025).
Baca Juga: Anjing yang Gigit Bocah 7 Tahun di Jaksel Dikarantina untuk Observasi Rabies
Untuk itu, pentingnya langkah cepat kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat, dalam menghentikan penyebaran rabies di NTT. Salah satunya, dengan mengaktifkan kembali Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE).
"Kami Kemenko PMK melangkah dengan harapan baru. Mengaktivasi dan mereaktivasi SIZE, sistem informasi yang menjadi jembatan lintas sektor. Dinas kesehatan punya data korban gigitan, dinas peternakan punya data anjing yang diduga rabies, tapi keduanya sering tidak terhubung. Akibatnya respons kita sering terlambat," ujarnya.
Dia menjelaskan, aplikasi SIZE memungkinkan proses pelaporan berjalan cepat dan terintegrasi. Melalui sistem ini, ketika terjadi kasus gigitan anjing di suatu desa, tenaga kesehatan dapat langsung memasukkan data ke aplikasi.
Secara otomatis, notifikasi akan terkirim ke petugas kesehatan hewan untuk mengetahui titik pelapor, dan dapat segera melacak hewan pembawa rabies tersebut.
"Dengan membuka dashboard SIZE, Bapak Ibu bisa langsung melihat kasus gigitan hewan hari ini, di kecamatan mana, real time Inilah kekuatan SIZE. Jadi SIZE ini adalah kecepatan kita, kolaborasi kita," ungkapnya.
Pratikno juga mengajak seluruh kepala daerah dan masyarakat, untuk memperkuat tindakan nyata. Dia meminta agar SIZE segera diaktifkan di seluruh kabupaten/kota se-NTT, diikuti vaksinasi massal anjing secara serentak, dan edukasi luas kepada masyarakat tentang langkah pertama setelah gigitan hewan penular rabies.
Baca Juga: Puluhan Desa Di Bali Tetapkan Status Merah Rabies
"Banyak korban meninggal bukan karena tidak ada vaksin, tapi karena tidak tahu harus berbuat apa. Kalau digigit, luka harus dicuci, segera ke puskesmas. Mari gunakan semua saluran komunikasi, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru pendidik, serta media sosial, untuk menyampaikan pesan ini," imbaunya.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian rabies bergantung pada sinergi, kerja sama, dan gotong royong seluruh pihak.
"Saya yakin masyarakat NTT adalah masyarakat tangguh, dengan solidaritas dan semangat gotong royong yang kuat. Ini energi besar untuk menghentikan rabies dan membawa NTT lebih sehat, bahkan siap menghadapi ancaman pandemi di masa depan," ungkapnya.
Selain menyoroti rabies, Pratikno juga mengingatkan bahwa Provinsi NTT merupakan salah satu provinsi prioritas nasional dalam penanggulangan Tuberkulosis (TBC).
Penanganan TBC sebagaimana halnya rabies, memerlukan keterlibatan lintas sektor dan dukungan aktif masyarakat agar tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada dimensi sosial, ekonomi, dan perilaku hidup sehat masyarakat.
Pengendalian TBC harus dijalankan dengan semangat kolaboratif dan berbasis data, sebagaimana upaya digitalisasi sistem kesehatan yang kini diperkuat melalui aplikasi SIZE. Integrasi informasi akan membantu mempercepat deteksi dini, memastikan pengobatan tuntas, dan mencegah penularan baru.
"Saya mengingatkan agar lakukan kampanye massif Gerakan TOSS TBC: Temukan TBC, Obati sampai sembuh, dengan aksi nyata oleh semua jajaran pemerintahan, tenaga kesehatan, komunitas, dan masyarakat dan cegah stigma dan diskriminasi di masyarakat," ucapnya.
Baca Juga: 7 Tips Merawat Kucing Agar Terhindar Dari Rabies
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Perekonomian Pemprov NTT Linus Lusi, mewakili Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, menyampaikan apresiasi atas hadirnya Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) yang diinisiasi Kemenko PMK.
Dia menilai, kehadiran SIZE menjadi bukti komitmen pemerintah pusat dalam memperkuat sinergi lintas sektor untuk pengendalian zoonosis dan penyakit infeksi baru di seluruh Indonesia.
"Ini merupakan suatu kebanggaan karena NTT menjadi provinsi pertama di Indonesia yang melakukan aktifasi serentak aplikasi SIZE," ujarnya.
Dia berharap seluruh sektor dan pemangku kepentingan di NTT dapat memanfaatkan SIZE sebagai alat strategis dalam pengambilan kebijakan berbasis data, untuk menekan penyebaran rabies dan berbagai penyakit zoonosis lainnya. Penerapan sistem ini diharapkan memperkuat langkah menuju NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.
Sebagai informasi, SIZE versi 2025 ini merupakan implementasi perdana secara nasional di NTT, dan ditandai dengan aktivasi simbolis dan pelatihan penggunaan aplikasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








