Surya Paloh Dukung Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional: Hasil Kerjanya Masih Kita Nikmati Sampai Sekarang

AKURAT.CO Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.
Menurut Paloh, keputusan tersebut harus dilihat secara objektif tanpa terjebak pada perdebatan politik masa lalu.
Ia menilai, Soeharto memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan nasional yang masih dirasakan hingga kini.
“Sukar untuk menghapus fakta bahwa Presiden Soeharto telah memberi arti penting bagi pembangunan bangsa. Kepemimpinannya membawa progres yang nyata, dan hasilnya masih kita nikmati hingga sekarang,” ujar Paloh di Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Meski menyadari bahwa masa pemerintahan Soeharto selama 32 tahun tak lepas dari kontroversi, Paloh menegaskan bahwa NasDem memilih untuk menyoroti sisi positif dari kepemimpinan mantan presiden tersebut.
“NasDem melihatnya secara jernih. Kalau sudah disiapkan segala sesuatunya, termasuk konsekuensi pro dan kontra, kami memilih fokus pada sisi konstruktifnya,” tegasnya.
Baca Juga: Prabowo Minta Kader Gerindra Beri yang Terbaik untuk Negara: Manusia Mati Meninggalkan Nama
Sebelumnya, Kementerian Sosial mengusulkan 40 nama tokoh untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November.
Beberapa nama yang diusulkan antara lain Presiden ke-2 RI Soeharto, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), aktivis buruh perempuan Marsinah, dan ulama besar asal Bangkalan, Syaikhona Muhammad Kholil.
Anggota DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, juga menyambut positif usulan tersebut.
Ia menilai penghargaan kepada Soeharto dan Gus Dur adalah bentuk penghormatan atas jasa dua tokoh besar yang memberi warna berbeda dalam perjalanan bangsa.
“Kita harus objektif dan adil menilai sejarah. Semua pemimpin memiliki warisan dan jasa yang layak diapresiasi,” kata Danang.
Menurutnya, Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang sukses membawa Indonesia mencapai stabilitas dan kemajuan ekonomi, sementara Gus Dur dikenang sebagai simbol toleransi dan kemanusiaan.
“Pemberian gelar ini bukan soal politik, tapi tentang menghormati dedikasi mereka bagi Indonesia. Dalam filosofi Jawa, ada istilah mikul dhuwur mendhem jero—menjunjung tinggi kebaikan para pendahulu,” ujarnya.
Selain Soeharto dan Gus Dur, tokoh lain yang turut diusulkan adalah KH Bisri Syansuri, KH Muhammad Yusuf Hasyim, Jenderal (Purn) M. Jusuf, Jenderal (Purn) Ali Sadikin, dan aktivis buruh Marsinah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









