Menteri PPPA Pastikan Kebutuhan Perempuan dan Anak Terdampak Bencana Sumatera Tepat Sasaran

AKURAT.CO Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menggandeng para relawan dari organisasi masyarakat (ormas) perempuan, salah satunya dari Nahdatul Ulama (NU), untuk menyalurkan bantuan khususnya untuk kebutuhan perempuan, lansia, dan anak-anak korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.
Hal ini dibuktikan Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi, yang langsung melakukan video call sekitar 5 menit kepada salah satu anggota relawan yang telah berada di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Dalam percakapan tersebut, dia diperlihat kondisi sekitar pasca bencana yang masih memprihatinkan dan sangat memerlukan air bersih.
"Jadi di sana masih sangat memprihatinkan kondisinya dan di sana masih dibutuhkan seputar air bersih," kata Arifah saat menghadiri media gathering wartawan Forum Wartawan Peduli Perempuan dan Anak (Fortapena) di Jakarta, Sabtu (20/12/2025).
Baca Juga: Di Akad Massal KPR FLPP di Serang, Prabowo Tak Lupa Doakan Masyarakat Terdampak Bencana
Sejak awal Bulan Desember 2025, pihaknya telah turun ke lapangan guna memberikan pemulihan trauma khususnya kepada kelompok rentan. "Masih banyak ibu-ibu yang tidak percaya bahwa rumahnya itu sudah tidak ada. Rata-rata yang ada di situ hanya pakaian yang melekat saat mereka menyelamatkan diri," ucapnya.
Selian pemulihan trauma, Kementerian PPPA juga memberikan bantuan yang dibutuhkan seperti susu anak-anak, popok, hingga pakaian dalam. Serta menggalang donasi yang diberikan berupa dana agar dapat dipergunakan dan tepat sasaran
"Kami juga menyesuaikan dengan kebutuhan di tempat pengungsian dengan memberikan sumbangan yang dibutuhkan. Kami juga di internal menggalang dana untuk diberikan langsung, karena kalau barang kadang kurang tepat," ujar dia.
Pihaknya terus berkomitmen dalam meningkatkan perlindungan khususnya kepada perempuan dan anak pasca bencana, khususnya pendekatan psikososial dan juga pemenuhan kebutuhan keseharian seperti tenda pengungsian berbasis keluarga dan juga lokasi toilet yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan.
Baca Juga: Pemerintah Harus Segera Cari Lahan Aman untuk Relokasi Warga Terdampak Bencana Sumatera
"Tenda pengungsian yang dibangun sudah diusahakan dengan berbasis keluarga dan ini menjadi kolaborasi semua pihak sebagai bentuk antisipasi dari hal yang tidak diinginkan," jelasnya.
Dia berharap ke depannya, dalam penanganan pasca bencana di Sumatera tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, nelainkan juga memberikan rasa aman dan pelindungan yang menyeluruh khususnya kepada perempuan dan anak.
"Bantuan tidak hanya materi tapi support dan bisa saling menguatkan juga sangat dibutuhkan untuk saudara-saudara kita," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









