Di Depan Para Pemimpin Dunia, Prabowo Tegaskan Perdamaian dan Stabilitas Adalah Kunci Kemakmuran

AKURAT.CO Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kunci pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa dunia saat ini berada dalam fase penuh ketidakpastian, di mana perdamaian dan stabilitas menjadi prasyarat utama bagi pertumbuhan dan kemakmuran global.
Presiden Prabowo menekankan bahwa sejarah telah membuktikan pentingnya perdamaian dan stabilitas sebagai aset paling berharga bagi umat manusia. Tanpa keduanya tidak mungkin tercipta kemakmuran yang berkelanjutan.
"Sejarah mengajarkan kita bahwa perdamaian dan stabilitas adalah aset kita yang paling berharga. Perdamaian dan stabilitas adalah prasyarat utama untuk pertumbuhan dan kemakmuran. Tidak akan ada kemakmuran tanpa perdamaian," jelas Presiden Prabowo.
Dalam forum yang dihadiri para pemimpin dunia, pelaku usaha global, dan pengambil kebijakan internasional tersebut, Presiden Prabowo juga memaparkan kinerja perekonomian Indonesia di tengah tantangan global.
Kepala Negara mengutip penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut Indonesia sebagai titik terang pertumbuhan ekonomi global.
Baca Juga: Prabowo Teken Piagam Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Peluang Baru Penyelesaian Konflik di Gaza
"IMF baru-baru ini menggambarkan Indonesia sebagai, saya kutip, titik terang global dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah lingkungan eksternal yang menantang," katanya.
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa meskipun dunia dihadapkan pada pengetatan kondisi keuangan, ketegangan perdagangan, serta ketidakpastian politik, Indonesia tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi secara konsisten.
Selain pertumbuhan ekonomi, ia juga menyoroti stabilitas makroekonomi nasional yang tetap terjaga, termasuk inflasi dan defisit anggaran.
"Inflasi kita tetap berada di kisaran dua persen. Defisit pemerintah kita sekarang dijaga di bawah tiga persen dari PDB kita," kata Presiden Prabowo.
Menurutnya, pengakuan internasional terhadap perekonomian Indonesia bukanlah hasil optimisme tanpa dasar, melainkan didukung oleh bukti dan kebijakan yang terukur.
"Mereka menyadari bahwa ekonomi Indonesia tangguh. Kebijakan-kebijakan kami telah dan akan selalu terkalibrasi dengan baik," ujarnya.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menekankan bahwa stabilitas dan perdamaian yang dinikmati Indonesia selama ini merupakan hasil dari pilihan kebijakan yang konsisten, bukan semata faktor kebetulan.
Ia menegaskan bahwa Indonesia secara konsisten memilih jalan persatuan dan kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan.
Presiden Prabowo turut menyinggung pentingnya menjaga kredibilitas negara, khususnya dalam pengelolaan keuangan dan kewajiban internasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki rekam jejak yang kuat dalam memenuhi kewajiban keuangannya, terlepas dari pergantian pemerintahan.
"Sepanjang sejarah Indonesia, kita tidak pernah sekalipun gagal membayar utang. Tidak sekali pun," kata Presiden Prabowo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





