Tak Izin Rais Aam untuk Gelar Harlah NU, Gus Yahya Akhirnya Minta Maaf

AKURAT.CO Polemik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya menemukan titik temu. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan kesediaannya meminta maaf kepada Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar setelah agenda Peringatan Harlah 100 Tahun NU digelar tanpa izin dan persetujuan resmi dari pimpinan tertinggi Syuriyah tersebut.
Permintaan maaf itu menjadi bagian dari kesepakatan penyelesaian konflik yang selama beberapa hari terakhir memicu kegaduhan di internal PBNU. Kesepakatan tersebut tercapai setelah Gus Yahya menghadap langsung Rais Aam pada Rabu (28/1/2026) sore.
Katib PBNU KH Ahmad Tajul Mafakhir membenarkan adanya kesediaan Gus Yahya untuk menempuh mekanisme organisasi guna menyelesaikan persoalan tersebut.
Baca Juga: Kiai se Jabar–DKI: Tata Kelola Keuangan PBNU Bermasalah, Pemecatan Gus Yahya Wajib
“Kesediaan itu disampaikan Gus Yahya saat menghadap Rais Aam kemarin sore. Beliau juga bersedia memenuhi syarat dengan terlebih dahulu membuat surat permintaan maaf kepada Rais Aam dan jajaran Syuriyah,” ujar Gus Tajul di Surabaya, Kamis (29/1/2026).
Polemik ini bermula dari pencantuman nama Rais Aam PBNU dalam undangan peringatan Harlah 100 Tahun NU di Istora Senayan, Jakarta, tanpa adanya izin atau persetujuan resmi. Langkah tersebut dinilai melanggar tata kelola organisasi dan etika struktural di lingkungan PBNU.
Menurut Gus Tajul, dalam pertemuan tersebut sempat terjadi perdebatan cukup alot, khususnya terkait waktu pelaksanaan Harlah. Gus Yahya, kata dia, semula berpandangan bahwa agenda tersebut sulit ditunda karena persiapan teknis telah berjalan jauh.
Namun Rais Aam tetap menegaskan bahwa prosedur organisasi tidak bisa dinegosiasikan.
“Tanpa Rapat Pleno baru, keputusan Rapat Pleno 9 Desember 2025 tidak dapat di-nasakh atau diganti,” jelas Gus Tajul.
Ia bahkan menganalogikan situasi tersebut dengan khazanah fikih Mazhab Syafi’i. “Ibarat qawl qadim dan qawl jadid, harus ada mekanisme sah untuk berpindah dari pendapat lama ke pendapat baru,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, PBNU dijadwalkan menggelar Rapat Pleno pada Kamis (29/1/2026) sore, setelah surat permintaan maaf dari Gus Yahya disampaikan secara resmi. Rapat Pleno ini akan menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi untuk meredam polemik dan mengembalikan stabilitas organisasi.
“Insyaallah Rapat Pleno digelar sore ini. Ini bentuk kebijaksanaan Rais Aam agar kegaduhan tidak berlarut-larut dan roda organisasi kembali berjalan normal,” kata Gus Tajul.
Baca Juga: Rais Aam PBNU Minta Gus Yahya Tunda Pelaksanaan Harlah NU
Ia menambahkan, langkah Rais Aam tersebut mencerminkan sikap kebapakan dan orientasi pada kemaslahatan umat.
“Beliau mempertimbangkan kondisi umat dan kepentingan publik dengan kacamata welas asih sebagai murobbi ruh Jam’iyah NU,” pungkasnya.
Dengan tercapainya kesepakatan ini, PBNU berharap polemik internal tidak lagi melebar dan NU dapat kembali fokus menjalankan peran keumatan dan kebangsaan di tengah tantangan yang kian kompleks.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








