Jelang Muktamar NU, Nama Kiai Kafabihi Mencuat dalam Bursa Rais Aam PBNU

AKURAT.CO Bursa calon Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengemuka menjelang Muktamar ke-35 NU. Salah satu nama yang disebut menguat adalah Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Kafabihi Mahrus.
Pandangan tersebut disampaikan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli. Ia menegaskan bahwa posisi Rais Aam PBNU bukan sekadar jabatan struktural, melainkan memiliki dimensi spiritual dan intelektual yang tinggi dalam tradisi NU.
“Posisi Rais Aam PBNU bukan sekadar jabatan administratif, melainkan manifestasi dari maqam spiritual dan intelektual tertinggi. Rais Aam adalah penjaga ideologi sekaligus kompas moral bagi jutaan nahdliyin,” ujar Kiai Imam dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, di tengah dinamika dan tantangan zaman yang semakin kompleks, sosok Kiai Kafabihi dinilai relevan untuk memimpin Syuriah PBNU ke depan.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU, PBNU Dinilai Butuh Pemimpin yang Teduh dan Mengakar
“Di tengah disrupsi zaman yang kian menderu, menjelang Muktamar ke-35 NU, sosok KH Kafabihi Mahrus muncul bukan hanya sebagai kandidat, melainkan sebuah kebutuhan sejarah bagi struktur PBNU,” katanya.
Kiai Imam menilai, salah satu kekuatan utama Kiai Kafabihi terletak pada kedalaman keilmuan dan penguasaan literatur klasik pesantren. Ia menyebut Kiai Kafabihi memiliki ketajaman dalam metodologi istinbath hukum yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan NU di tengah arus ekstremisme dan liberalisme.
“Sebagai figur yang tumbuh dalam ekosistem intelektual Lirboyo, beliau memiliki ketajaman dalam metodologi istinbath al-hukm. Sosok faqih yang moderat seperti beliau sangat dibutuhkan agar fatwa-fatwa NU tetap relevan tanpa tercerabut dari akar tradisi,” ujarnya.
Selain aspek keilmuan, Kiai Imam juga menyoroti integritas moral Kiai Kafabihi. Menurutnya, sikap zuhud dan keteladanan personal menjadi modal penting dalam memimpin organisasi sebesar NU.
“Di sinilah atribut zuhud Kiai Kafabihi menjadi pembeda. Sikap zahidan bukan berarti menjauhi dunia, melainkan tidak membiarkan dunia mengendalikan hatinya,” kata Imam.
Ia menambahkan, posisi Kiai Kafabihi sebagai pengasuh Pesantren Lirboyo dinilai strategis karena pesantren tersebut memiliki jaringan alumni yang luas dan solid di berbagai daerah.
“Memilih Kiai Kafabihi berarti menyambungkan kembali struktur PBNU dengan basis kultural paling organik di Indonesia. Lirboyo sering menjadi titik temu berbagai faksi di NU,” tuturnya.
Kiai Imam juga menilai Kiai Kafabihi memiliki pemahaman yang baik terhadap dinamika internal NU serta kemampuan berkomunikasi dengan pihak eksternal tanpa kehilangan identitas kesantriannya.
“Beliau mampu berdialog dengan dunia luar, baik pemerintah maupun ormas Islam lain, tanpa kehilangan identitas. Ini penting agar NU tetap menjadi pemain kunci dalam diplomasi Islam moderat,” ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Siapkan Gedung 40 Lantai untuk MUI di Bundaran HI
Menurut Imam, menjadikan Kiai Kafabihi sebagai Rais Aam PBNU bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan bagian dari upaya mengembalikan marwah ulama di tubuh NU.
“Beliau adalah jembatan antara kemuliaan masa lalu dan tantangan masa depan. Di tangan ulama yang kokoh secara spiritual dan mumpuni secara intelektual inilah masa depan jam’iyyah Nahdlatul Ulama berada pada jalur yang benar,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






