Sebagian Besar Pelajar di Indonesia Belum Punya Fondasi Literasi yang Kuat di Era Digital

AKURAT.CO Penguatan literasi masyarakat sangat penting sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa, di tengah derasnya arus informasi saat ini.
Menurutnya, literasi di era digital tidak hanya sekedar kemampuan membaca, namun juga menuntut kemampuan berpikir kritis dalam memahami dan menyaring informasi.
"Tantangan literasi saat ini sangat berat. Masyarakat harus mampu berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi," ujar Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Road Show Literasi Digital, Diskominfo Kabupaten Serang Dorong SMA/SMK Miliki Agen Digital
Data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan, capaian literasi peserta didik masih perlu ditingkatkan.
Pemahaman tekstual tercatat sebesar 49,21 persen, pemahaman inferensial 43,21 persen, serta kemampuan evaluatif dan apresiatif terhadap teks sebesar 45,32 persen. Menurutnya, capaian tersebut mengindikasikan bahwa lebih dari separuh peserta didik belum memiliki fondasi literasi yang kuat.
"Ini bukan sekadar persoalan angka, tetapi ancaman nyata bagi daya saing dan kedaulatan bangsa," ujarnya.
Dia mengungkapkan, sejumlah tantangan dalam peningkatan literasi nasional, antara lain kesenjangan literasi antarwilayah, dominasi budaya lisan dibandingkan budaya tulis, harga buku yang relatif mahal, serta kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga.
Sebagai langkah konkret, Lestari mendorong peningkatan akses masyarakat terhadap buku berkualitas melalui penguatan perpustakaan serta penghapusan pajak buku, termasuk PPN dan pajak bahan baku kertas.
Dia juga menyampaikan bahwa DPR RI tengah mendorong revisi regulasi terkait perbukuan untuk mendukung upaya tersebut. Selain itu, dia juga menekankan pentingnya pemerataan distribusi guru berkualitas di seluruh daerah.
Baca Juga: Pembatasan Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Jangan Hambat Literasi Digital
"Guru adalah panglima literasi di lapangan. Tidak cukup hanya menempatkan guru, tetapi juga harus memastikan dukungan dan insentif yang layak," ujarnya.
Dia mendorong agar peningkatan literasi dijadikan sebagai gerakan nasional yang terukur melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
"Literasi adalah fondasi kedaulatan bangsa. Jika generasi penerus tidak mampu menelaah informasi dengan baik, hal itu berpotensi menggerus kedaulatan Ibu Pertiwi," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






