Akurat
Pemprov Sumsel

Dampak Konflik Timur Tengah Makin Mengkhawatirkan, Gencatan Senjata Harus Disegerakan

Putri Dinda Permata Sari | 9 April 2026, 15:25 WIB
Dampak Konflik Timur Tengah Makin Mengkhawatirkan, Gencatan Senjata Harus Disegerakan
Konflik AS-Israel dengan Iran

AKURAT.CO Penghentian konflik bersenjata yang kini meluas di kawasan Timur Tengah, dinilai penting karena dampak global yang semakin kompleks, baik dari sisi ekonomi maupun kemanusiaan.

Saat ini, dunia berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan akibat eskalasi konflik, termasuk yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampak perang tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menjalar ke berbagai aspek kehidupan global.

"Dunia hari ini seperti berjalan di tepi jurang. Satu keputusan militer di satu kawasan bisa mengubah harga pangan, transportasi, bahkan harapan hidup masyarakat di tempat lain," kata Anggota Komisi II DPR Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).

Baca Juga: Ancaman Inflasi Menguat, Konflik Timur Tengah Picu Tekanan Harga Global

Azis menyoroti besarnya biaya perang yang dinilai tidak masuk akal. Dalam enam hari pertama konflik, biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat mencapai lebih dari USD12 miliar, atau sekitar USD1,8 miliar per hari.

Menurutnya, angka tersebut berpotensi membengkak hingga menembus USD1 triliun jika konflik berlangsung panjang. Angka sebesar itu seharusnya bisa digunakan untuk membiayai layanan kesehatan jutaan orang atau mengurangi kemiskinan ekstrem, bukan justru dihancurkan dalam perang.

Selain dampak anggaran, dia juga menyoroti efek domino terhadap perekonomian global. Konflik disebut berpotensi mengganggu hingga 20 persen pasokan minyak dunia, terutama melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang dapat memicu lonjakan harga energi dan inflasi di berbagai negara.

Lebih lanjut, Azis mengungkapkan data yang menunjukkan potensi hilangnya output ekonomi hingga USD194 miliar di kawasan konflik, serta meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran akibat perang.

Dampak terbesar justru dirasakan oleh masyarakat sipil, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga trauma berkepanjangan akibat konflik. "Perang selalu diklaim sebagai strategi, tetapi yang mati selalu manusia," ujarnya.

Azis turut menyoroti ironi dalam penggunaan teknologi militer, di mana biaya sistem pertahanan bisa mencapai jutaan dolar untuk menghancurkan ancaman yang nilainya jauh lebih kecil.

Baca Juga: Krisis Air Bersih Mengancam, Konflik Timur Tengah Berpotensi Perparah Situasi Global

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan ketimpangan logika dalam perang modern, di mana biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dibanding manfaat yang diperoleh.

Selain itu, dia juga menyinggung aspek industri di balik konflik, di mana perang dinilai turut menggerakkan keuntungan besar bagi industri persenjataan. "Di satu sisi ada tangisan, di sisi lain ada laporan laba. Ini ironi yang tidak bisa diabaikan," katanya.

Azis menegaskan bahwa perang tidak pernah benar-benar menyelesaikan konflik, melainkan hanya memperpanjang siklus kekerasan dan penderitaan. Dia pun menyerukan agar upaya penghentian perang menjadi prioritas global, bukan sekadar wacana.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.