Menag: Indonesia Harus Jadi Pusat Peradaban Islam Modern, Tugas Timur Tengah Sudah Selesai Melahirkan Nabi

AKURAT.CO Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan optimisme besar terhadap masa depan Indonesia di kancah internasional.
Ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pusat peradaban Islam dunia di masa depan. Menggantikan peran historis yang selama ini dipegang oleh wilayah Timur Tengah.
Menurut Menag, posisi Indonesia saat ini sangat strategis karena tidak adanya sistem kepemimpinan tunggal yang kaku dalam dunia Islam.
Hal ini memberikan ruang bagi Indonesia, khususnya melalui peran organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), untuk mengambil peran kepemimpinan global yang berbasis pada nilai peradaban.
"NU itu akan menjadi episentrum peradaban Islam modern akan datang. Karena salah satu kekhususan dunia Islam itu kita kan tidak memiliki sistem Paus ya kan. Ya, sehebat apa pun juga kita tidak boleh orang sana tidak bisa melampaui Paus tapi di Indonesia tidak ada monopoli negara apa yang harus memimpin dunia Islam," jelasnya dalam Halalbihalal IKA PMII di Jakarta, Minggu (19/4/2026) malam.
Baca Juga: Kemenag Terapkan WFH Setiap Jumat, Dorong Transformasi Budaya Kerja Lebih Adaptif
Menurut Menag, kepemimpinan yang dimaksud bukanlah tentang dominasi politik praktis di panggung dunia. Melainkan fokus pada membangun pondasi intelektual dan kebudayaan sebagaimana kejayaan Islam di masa lampau yang mampu menyatukan ilmu pengetahuan dan agama.
"Jadi, di sini kansnya NU itu untuk bisa menjadi pemimpin global tapi bukan menjadi pemimpin politik tapi pemimpin peradaban. Nah kita ingin menciptakan Indonesia ini sebagai episentrum peradaban modern akan datang, kalau perlu kita menghidupkan kembali Baitul Hikmah yang pernah hilang pada masanya itu," katanya.
Menag menilai daya tawar Indonesia saat ini sedang berada di titik tertinggi. Keunikan cara beragama di Tanah Air yang moderat menjadi aset yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain.
Karakter inilah yang membuat tokoh-tokoh dari Indonesia mampu diterima dengan baik oleh berbagai belahan dunia, baik di barat maupun timur.
"Nah, kalau kita bicara tentang Indonesia kita bicara NU maka NU itu juga harus solid dan harus punya perhitungan-perhitungan cermat yang lebih matang ke depan. Karena jualan kita di PBNU itu banyak sekali, ya moderasi beragama," ujarnya.
Baca Juga: Pencatatan Nikah Naik, Kemenag Pastikan KUA Tetap Buka Meski Ada Kebijakan WFA
Menag juga menyoroti posisi NU yang tegak lurus di jalur tengah atau wasathiyah. Dengan tidak terseret ke arus radikal maupun liberal, Indonesia dianggap mampu menjadi penengah yang mumpuni bagi persoalan-persoalan global yang kian kompleks.
"Banyak sekali tokoh-tokoh kita itu bisa diterima di semua pihak karena kita tidak masuk di dalam kelompok-kelompok radikal, kita juga tidak masuk kelompok-kelompok liberal. NU itu berada di tengah-tengah wasathiyahnya itu sehingga dia bisa diterima di barat, bisa diterima di timur, bisa diterima di kawasan Asia Tenggara," jelasnya.
Menag memberikan analogi mendalam mengenai pembagian peran spiritual dan peradaban. Menurutnya, meski Makkah tetap menjadi kiblat ibadah, namun untuk urusan kemajuan peradaban, mata dunia seharusnya mulai melirik ke arah Indonesia.
"Sepertinya Timur Tengah sudah selesai tugasnya melahirkan Nabinya, mengembangkan Islamnya. Tapi estafet kepemimpinan dunia Islam masa akan datang memang kita harus seret, kita bawa ke Indonesia," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









