Kemhan Buka Opsi Bahas Izin Lintas Udara AS dengan DPR

AKURAT.CO Kementerian Pertahanan (Kemhan) membuka peluang pembahasan Letter of Intent (LoI) atau surat pernyataan terkait izin lintas udara yang diajukan Amerika Serikat bersama DPR RI dan kementerian terkait.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan pembahasan tersebut masih akan dikaji lintas lembaga.
“Mungkin akan juga dibahas dengan kementerian dan instansi terkait, dengan DPR, terkait dengan Letter of Intent tersebut,” ujarnya di Kantor Kemhan, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan, isu LoI tersebut turut disampaikan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam forum bersama purnawirawan TNI.
Dalam forum itu, para purnawirawan—yang sebagian besar merupakan mantan panglima dan kepala staf—memberikan masukan serta analisis terkait rencana tersebut.
“Ini merupakan bagian dari masukan yang diterima. Purnawirawan tentu memiliki pertimbangan dan analisis yang sangat baik,” kata Rico.
Selain membahas LoI, Menhan bersama Panglima TNI juga memaparkan rencana pembangunan kekuatan TNI ke depan, termasuk pembentukan Batalyon Teritorial Pembangunan.
“Setiap tahun direncanakan akan dibangun 150 Batalyon Teritorial Pembangunan sebagai bagian dari penguatan kekuatan TNI,” jelasnya.
Rico menambahkan, mayoritas purnawirawan memberikan respons positif terhadap arah kebijakan pengembangan kekuatan militer tersebut.
Baca Juga: USS Miguel Keith Melintas di Selat Malaka, Kemhan: Tak Ada Pelanggaran
“Sebagian besar memberikan respons positif setelah mendapatkan penjelasan dari Menhan dan Panglima TNI terkait pengembangan kekuatan ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, forum tersebut juga menjadi sarana bagi para purnawirawan untuk mengikuti perkembangan kebijakan pertahanan, termasuk isu pasukan perdamaian di Lebanon serta dinamika geopolitik di kawasan seperti Selat Hormuz.
Sebelumnya, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyepakati pembentukan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) pada 13 April 2026.
Kemhan menegaskan, kesepakatan MDCP tidak mencakup pengaturan akses ruang udara Indonesia bagi militer Amerika Serikat.
“Itu tidak ada dalam MDCP,” kata Rico.
Ia menambahkan, pembahasan terkait izin aktivitas pesawat militer asing di wilayah udara Indonesia masih dalam tahap pertimbangan pemerintah, dengan tetap mengedepankan kedaulatan negara, kepentingan nasional, serta kepatuhan terhadap hukum nasional dan internasional.
Menurut Rico, kerja sama dalam MDCP mencakup pengembangan teknologi pertahanan, peningkatan kesiapan operasional, pendidikan militer profesional, serta penguatan hubungan antarpersonel pertahanan kedua negara.
“Kerja sama ini menjadi peluang memperkuat kapasitas pertahanan nasional, namun tetap dijalankan dalam koridor politik luar negeri bebas aktif dan penghormatan penuh terhadap kedaulatan negara,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









