BGN: Program Studi Ahli Gizi yang Dulu Kurang Diminati, Kini Paling Laku

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan dan ekonomi, tapi juga meningkatkan kebutuhan ahli gizi seiring ekspansi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.
"Program studi gizi yang dulu tidak terlalu diminati, sekarang justru menjadi yang paling laku karena kebutuhan di lapangan sangat besar," kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dikutip Rabu (29/4/2026).
Dia menekankan, setiap SPPG diwajibkan memiliki tenaga ahli gizi untuk memastikan kualitas dan komposisi makanan yang disajikan sesuai standar.
Baca Juga: MBG Dinilai Tak Bertentangan dengan UUD 1945 dan Bagian dari Pendidikan Nasional
Dengan jumlah SPPG yang telah mencapai puluhan ribu unit, kebutuhan tenaga gizi pun dinilai ikut melonjak signifikan. SebB, setiap unit membutuhkan setidaknya satu tenaga ahli, belum termasuk tim pendukung lain di bidang pengolahan pangan dan pengawasan kualitas.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi tenaga kerja di sektor kesehatan dan pangan. Karena itu, profesi ahli gizi yang sebelumnya kurang diminati kini justru menjadi salah satu yang paling dicari.
Menurutnya, tidak hanya lulusan gizi murni, BGN juga membuka ruang bagi tenaga dengan latar belakang lain yang relevan, seperti kesehatan masyarakat, teknologi pangan, pengolahan makanan, hingga keamanan pangan.
Hal ini dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM sekaligus menjaga kualitas layanan di setiap SPPG. "Keberadaan tenaga ahli gizi menjadi kunci dalam keberhasilan program MBG, terutama karena pendekatan yang digunakan berbasis potensi lokal," jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Siap Evaluasi MBG, SPPG Tak Penuhi Standar Akan Dihentikan
Meski demikian, setiap daerah memiliki karakteristik bahan pangan dan pola konsumsi yang berbeda, sehingga dibutuhkan peran ahli untuk menyusun menu yang tepat dan seimbang.
Selain membuka peluang kerja baru, lonjakan kebutuhan SDM ini juga mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulum dan kapasitas pendidikan di bidang gizi dan pangan.
"Program MBG dinilai dapat menjadi momentum kebangkitan sektor pendidikan vokasi dan profesi di bidang tersebut," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









