Akurat Logo

Penataan Program Studi Perlu Pendekatan Seimbang, Guru Besar UIN Jakarta Tekankan Misi Keilmuan Perguruan Tinggi

Afriadi Ajo | 2 Mei 2026, 07:09 WIB
Penataan Program Studi Perlu Pendekatan Seimbang, Guru Besar UIN Jakarta Tekankan Misi Keilmuan Perguruan Tinggi
Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

AKURAT.CO — Wacana penataan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang kerap dipersepsikan sebagai “penghapusan prodi yang tidak relevan dengan industri” terus memantik respons dari kalangan akademisi.

Di tengah agenda transformasi pendidikan tinggi yang tengah digulirkan pemerintah, para pakar mengingatkan agar arah kebijakan tersebut tidak direduksi dalam kerangka utilitarian semata.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik, Ahmad Tholabi Kharlie, menilai bahwa wacana tersebut perlu disikapi secara hati-hati dan proporsional.

“Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri perlu dikaji lebih cermat. Tidak semua program studi dapat diukur semata dari kebutuhan industri atau pasar kerja,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).

Baca Juga: Bukan Ditutup, Komisi X DPR Usul Prodi yang Tak Relevan Direvitalisasi

Menurut Tholabi, ukuran relevansi dalam pendidikan tinggi tidak bisa direduksi hanya pada indikator serapan kerja atau kebutuhan pasar jangka pendek.

Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa banyak inovasi besar justru lahir dari disiplin ilmu dasar yang pada awalnya tidak dipandang memiliki nilai praktis langsung.

“Ukuran relevansi tidak bisa hanya dilihat dari kebutuhan jangka pendek. Banyak terobosan justru berakar dari ilmu-ilmu dasar yang dulu dianggap tidak praktis,” katanya.

Ia menambahkan, berbagai kemajuan teknologi modern saat ini memiliki fondasi pada riset-riset fundamental yang dikembangkan jauh sebelum kebutuhan industrinya muncul.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memikul tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan tradisi keilmuan, bukan sekadar merespons dinamika pasar secara reaktif.

Lebih jauh, Tholabi mengingatkan bahwa orientasi pendidikan tinggi yang terlalu sempit berpotensi menggerus kapasitas inovatif bangsa. Jika perguruan tinggi hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai, maka ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan baru akan semakin terbatas.

“Jika perguruan tinggi hanya diarahkan untuk mencetak tenaga siap pakai, kita berisiko berhenti sebagai pengguna, bukan pencipta,” ujarnya.

Dalam pandangannya, fungsi pendidikan tinggi melampaui peran sebagai penyedia tenaga kerja. Ilmu murni, ilmu agama, dan filsafat memiliki kontribusi penting dalam membentuk cara berpikir, sistem nilai, dan arah perkembangan peradaban.

“Dalam kerangka yang lebih luas, ilmu murni, ilmu agama, dan filsafat berperan dalam membentuk cara berpikir, nilai, dan arah peradaban,” tutur Tholabi.

Ia menegaskan, penguatan dimensi-dimensi tersebut menjadi krusial di tengah tantangan global yang tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga menyangkut persoalan etis, sosial, dan kultural.

Karena itu, solusi atas persoalan relevansi program studi tidak semestinya ditempuh melalui pendekatan eliminatif. Menurut Tholabi, yang lebih dibutuhkan adalah upaya menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri secara konstruktif.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afriadi Ajo
A