WNI Relawan GSF Alami Trauma dan Cedera Fisik Usai Ditahan Israel, Ada yang Derita Tulang Retak

AKURAT.CO Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 mengungkap pengalaman traumatis setelah dicegat dan ditahan militer Israel, saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Para relawan sebelumnya berlayar dalam misi solidaritas kemanusiaan bagi warga Gaza. Namun, misi tersebut dihentikan setelah militer Israel mengintersep kapal mereka di kawasan Mediterania Timur, dan membawa para relawan secara paksa ke wilayah Israel.
Menteri Luar Negeri, Sugiono, menyambut langsung kepulangan para relawan WNI dan memastikan pemerintah memberikan pendampingan kepada mereka.
Baca Juga: Menlu Ucapkan Terima Kasih ke Pemerintah Turki, Yordania dan Mesir dalam Pembebasan 9 WNI
Dia menyampaikan rasa syukur karena seluruh WNI dapat kembali ke tanah air dalam keadaan selamat, meskipun sebagian mengalami trauma dan cedera fisik akibat tindakan kekerasan aparat militer Israel.
"Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga. Dan tadi dari laporan, ada beberapa rekan kita yang mengalami trauma fisik yang akan juga ditangani lebih lanjut,” kata Sugiono saat menjemput para relawan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, dikutip Senin (25/5/2026).
Pemerintah Indonesia akan terus memastikan perlindungan bagi warga negara Indonesia yang terlibat dalam misi kemanusiaan internasional, khususnya yang berkaitan dengan situasi kemanusiaan di Gaza.
Diperlakukan Keji
Wartawan Republika yang tergabung dalam relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Bambang Noroyono alias Abeng, mengaku bersyukur dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarga.
"Syukur alhamdulillah bisa ketemu keluarga, karena ini tetap lanjut perjuangan bersama tentang memperjuangkan hak-hak masyarakat Palestina, hak-hak warga Gaza," ujar Abeng.
Baca Juga: Menlu Sugiono Sambut Langsung Kedatangan 9 WNI yang Ditahan Israel
Dia juga mengungkap masih merasakan dampak fisik akibat tindakan kekerasan yang dialaminya saat penahanan. Bahkan, beberapa relawan lainnya mengalami cedera serius.
"Kondisi saya sudah enggak terlalu khawatir lagi. Masih ada bekas benturan yang masih kerasa, tapi lambat laun akan menghilang. Luka juga masih ada. Ada beberapa teman yang harus diperhatikan, mengalami retak di bagian dalam tulang," lanjutnya.
Thoudy Badai, relawan dari Republika sekaligus GPCI, menyebut tindakan militer Israel sebagai penculikan yang dilakukan di luar prosedur hukum internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








