Akurat Logo

Etika Jadi Benteng Terakhir Jurnalis di Tengah Badai Konten Digital

Moehamad Dheny Permana | 14 Juni 2026, 22:51 WIB
Etika Jadi Benteng Terakhir Jurnalis di Tengah Badai Konten Digital
Ilustrasi jurnalis.

AKURAT.CO Perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap media secara drastis. Kini, hampir setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi dengan mudah melalui berbagai platform digital.

Jurnalis televisi nasional, Jamalul Insan, menilai, fenomena tersebut melahirkan era ketika masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berperan sebagai produsen konten.

“Saya sering menyatakan bahwa sekarang ini semua orang merasa sebagai reporter dan sebagai konten produser,” kata Jamalul dalam materi bertajuk Jurnalisme Audiovisual di Era Digital pada kegiatan Journalism Fellowship on CSR Batch III yang diselenggarakan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan bersama PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG), dikutip Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, kemudahan teknologi dan media sosial mendorong masyarakat untuk membagikan berbagai peristiwa dalam bentuk foto, video, maupun konten audiovisual lainnya secara instan.

Namun, berbeda dengan media konvensional, konten tersebut kerap dipublikasikan tanpa melalui proses penyaringan dan verifikasi yang ketat.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi jurnalis profesional. Jamalul menegaskan bahwa akurasi, objektivitas, dan disiplin verifikasi harus tetap menjadi prinsip utama dalam setiap karya jurnalistik.

“Tantangannya adalah etika tetap berlaku. Harus akurasi, harus objektif, disiplin verifikasi tetap harus dilakukan kalau memang kita jurnalis. Kita konten kreator, tetapi karena kita jurnalis, kita konten kreator yang sangat patuh pada kode etik jurnalistik,” ujarnya.

Baca Juga: Lebih Cepat, Ini Cara Kerja Sensor AI Piala Dunia 2026 dalam Melacak Offside!

Ia juga mengingatkan agar media tidak terjebak pada orientasi mengejar klik dan jumlah penonton semata.

Menurutnya, mengorbankan akurasi demi popularitas hanya akan merusak kepercayaan publik.

“Kalau kita lengah hanya karena mengejar clickbait atau pemirsa yang penting banyak, maka kredibilitas kita menjadi taruhannya. Sekali mungkin meledak, tetapi setelah itu orang tidak percaya lagi,” katanya.

Jamalul menambahkan, keinginan untuk menjadi yang tercepat dalam menyajikan informasi juga berisiko memicu disinformasi apabila proses konfirmasi dan verifikasi diabaikan.

Tantangan tersebut semakin kompleks dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu memanipulasi gambar, video, maupun suara secara meyakinkan.

Karena itu, ia menegaskan bahwa apa pun platform yang digunakan, kode etik jurnalistik harus tetap menjadi pedoman utama.

“Kalau kita ingin menjadi konten kreator sekaligus konten jurnalis, pegangannya hanya satu. Apa pun platformnya, kode etik jurnalistik adalah pedomannya,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.