Akurat Logo

Pertama Kali di Asia Pasifik, Japfa dan LCI Gelar Konferensi S-LCA ke-10 di Indonesia

Wahyu SK | 19 Juni 2026, 18:16 WIB
Pertama Kali di Asia Pasifik, Japfa dan LCI Gelar Konferensi S-LCA ke-10 di Indonesia
The 10th International Conference on Social Life Cycle Assessment 2026 digelar di Megamendung, Bogor, 17-19 Juni. Foto: Japfa The Learning Centre

AKURAT.CO Indonesia terpilih menjadi tempat penyelenggaraan The 10th International Conference on Social Life Cycle Assessment (S-LCA 2026).

Bertempat di Japfa The Learning Centre (JTLC), Megamendung, Bogor, pertemuan internasional ini berlangsung pada 17-19 Juni 2026 dengan rangkaian kegiatan awal pada Selasa (16/6/2026).

Acara ini dikelola oleh Life Cycle Indonesia (LCI) bersama Japfa sebagai coorganizer.

Konferensi ke-10 ini menjadi catatan penting karena untuk pertama kalinya konferensi S-LCA diadakan di Kawasan Asia Pasifik. Setelah sebelumnya selalu dilaksanakan di wilayah Eropa dan Amerika mulai tahun 2010.

Kehadiran konferensi ini di Indonesia diharapkan dapat mempererat diskusi mengenai keberlanjutan sosial dan penilaian dampak sosial di negara-negara berkembang.

Antusiasme terhadap konferensi ini terlihat dari masuknya lebih dari 160 abstrak dari 30 negara lebih, yang mencakup partisipasi dari wilayah Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Oseania.

Jessica Hanafi, PhD, dari Life Cycle Indonesia (LCI), terpilih sebagai Conference Chair.

Sebagai konferensi S-LCA pertama yang diselenggarakan di Asia-Pasifik, pencapaian ini membuktikan bahwa negara-negara Global South mulai berkontribusi aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik S-LCA.

Selama 11 tahun, LCI telah mengembangkan berbagai standar, metodologi dan solusi praktis agar dapat diimplementasikan oleh industri.

Melalui kerja sama erat dengan akademisi, pemerintah, dan industri, LCI bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan kerangka teori dan menerjemahkannya ke dalam aplikasi nyata.

Baca Juga: Inovasi Pakan Kuda Fortis Antar Japfa Sabet Penghargaan Indonesia Rising Stars Awards 2026

LCI berharap konferensi ini dapat menjadi alat praktis bagi industri dan pembuat kebijakan dalam memberikan masukan penting bagi pengembangan kebijakan di masa depan.

Mengangkat tema "Unity in Diversity" S-LCA 2026 menjadi wadah untuk berdialog dan memperluas jejaring. Serta mendiskusikan bagaimana metodologi penilaian keberlanjutan dapat berjalan secara harmonis secara global dengan mempertimbangkan suara dari Global South, termasuk dari Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

Forum ini hadir untuk memberikan ruang bagi pengalaman praktis di Asia, agar dapat saling bertukar pikiran dengan standar internasional.

Konferensi internasional ini dibuka oleh Prof. Rachmat Pambudy, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, yang menunjukkan signifikansi titik temu krusial antara data ilmiah yang kuat dan kebijakan strategisnasional.

Dukungan dari menteri ini memberikan sinyal positif bagi LCI dan Japfa atas komitmen bersama mengenai pentingnya S-LCA untuk mengukur kesejahteraan masyarakat Indonesia, guna mewujudkan pembangunan yang inklusif tanpa ada yang tertinggal.

Dengan 20 sesi beragam yang mencakup aplikasi lebih dari 10 sektor, diharapkan konferensi ini menghasilkan masukan untuk pengembangan standar Social LCA sektoral.

The 10th International Conference of Social Life Cycle Assessment (S-LCA 2026) yang diselenggarakan oleh LCI dan Japfa ini tercatat sebagai konferensi S-LCA terbesar sampai saat ini. Dengan jumlah peserta lebih dari 400 orang yang terdiri dari 55 persen dari kalangan industri, 36 persen dari akademisi, dan sisanya dari pemerintah dan organisasi masyarakat sipil (NGO) yang berasal dari 25 negara.

Konferensi ini menjadi ekosistem yang ideal untuk mengubah konsep, metodologi, dan data menjadi aksi praktis bagi korporasi.

Sebagai coorganizer, keterlibatan Japfa mencerminkan komitmen jangka panjang Perusahaan terhadap praktik bisnis berkelanjutan yang menciptakan dampak sosial positif di seluruh rantai nilai pangan.

Melalui kegiatan operasionalnya yang mencakup sektor peternakan, produksi pangan, dan pengembangan masyarakat, Japfa menyadari pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan sosial ke dalam pengambilan keputusan bisnis, manajemen rantai pasok, serta pelibatan pemangku kepentingan.

Baca Juga: Perkuat Kemitraan Strategis, Japfa Food dan Imperial Kitchen Hadirkan Inovasi Melalui Kompetisi Kuliner

Peran dalam penyelenggaraan S-LCA 2026 ini juga sejalan dengan upaya Japfa untuk mendorong kolaborasi lintas sektor antara dunia industri, akademisi, pembuat kebijakan, dan organisasi internasional dalam memajukan praktik keberlanjutan yang lebih inklusif serta bertanggung jawab.

Pertemuan ini menjadi ruang bagi pembuat kebijakan, rekan-rekan industri, serta para ilmuwan, untuk berbagi mengenai inovasi dan penerapan nyata pengukuran dampak sosial di berbagai bidang, seperti:

  • Pengembangan Metodologi S-LCA.

  • Sistem Pertanian dan Pangan.

  • Transisi Energi dan Mobilitas.

  • Pembangunan Infrastruktur dan Lingkungan.

  • Rantai Pasok Industri.

  • Keuangan Berkelanjutan dan Tata Kelola.

"Tujuan dari konferensi adalah untuk mengembangkan standar sosial yang relevan bagi sektor dan pentingnya menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, serta pentingnya kolaborasi untuk mendorong perubahan sistemik dalam ekosistem," ujar Conference Chair S-LCA 2026, Jessica Hanafi, melalui keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Ini merupakan kesempatan berharga untuk dapat memberikan perspektif tambahan dalam pengembangan standar internasional, seperti ISO 14075. Agar lebih mencerminkan keragaman konteks di berbagai negara.

Selama tiga hari, para peserta mengikuti berbagai sesi diskusi, paparan materi, serta kegiatan pendukung yang dirancang untuk memperluas jejaring dan pengetahuan seputar isu keberlanjutan.

Pertemuan juga menghadirkan para praktisi dan akademisi yang telah lama mendalami bidang ini, di antaranya:

  • Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S. (Menteri PPN/Kepala Bappenas).

  • Prof. Dr. Matthias Finkbeiner (TU Berlin).

  • Prof. Dr. Marzia Traverso (RWTH Aachen).

  • Lany Harijanti (Regional Program Implementation Manager ASEAN, GRI).

  • Salil Dutt (Chief Technical Adviser, UNIDO).

  • Sebastiaan Stiller (EPD International AB).

  • Prof. Sonia Valdivia (World Resources Forum).

  • Claudia Giacovelli (Life Cycle Initiative, hosted by UNEP).

S-LCA 2026 dapat terlaksana berkat kolaborasi erat dengan berbagai organisasi internasional, di antaranya Circular, media partner Katadata Green, EPD International System, World Resources Forum, Ibero-American Life Cycle Network, serta Sucofindo.

Kegiatan ini juga didukung oleh jajaran mitra strategis seperti UNIDO, UNEP Life Cycle Initiative, Pro-LCAS, IBCSD, Ecoxyztem, dan African LCA Initiative (ALIES).

Baca Juga: JAPFA Bangun Fondasi Sejak Dini Lewat Pendidikan Kesehatan dan Kebersihan

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK