Akurat Logo

Keluarga Tangguh Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Wihaji Soroti Peran Ayah dan Ancaman Fatherless

Moehamad Dheny Permana | 29 Juni 2026, 23:05 WIB
Keluarga Tangguh Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Wihaji Soroti Peran Ayah dan Ancaman Fatherless
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji.

AKURAT.CO Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan, keluarga menjadi fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Hal itu disampaikannya saat memimpin upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Senin (29/6/2026).

Dalam amanatnya, Wihaji mengajak masyarakat membangun keluarga yang tangguh, hangat, dan mampu menjadi benteng bagi setiap anggotanya di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Ia menggambarkan kondisi dunia saat ini berada dalam situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity), yang ditandai perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, serta kebingungan arah.

"Ketangguhan keluarga bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dan urgensi nasional," tegas Wihaji.

Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila Indonesia mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Sebaliknya, tanpa peningkatan kualitas SDM sejak dini, bonus demografi justru berpotensi menjadi bencana.

Karena itu, transformasi kualitas SDM harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Wihaji menekankan tiga pilar utama pembangunan keluarga, yakni kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental.

Upaya percepatan penurunan stunting melalui pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan harus menjadi gerakan bersama di setiap keluarga.

Selain itu, keluarga juga harus menjadi ruang pertama bagi anak untuk membangun karakter, kemampuan beradaptasi, semangat kolaborasi, dan daya lenting menghadapi perubahan.

Baca Juga: RUU HAM Masuk Tahap Harmonisasi, Pigai Tolak Desakan YLBHI Tarik Rancangan

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Menurutnya, keberhasilan mendidik anak tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu.

"Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis," ujarnya.

Wihaji menegaskan kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak yang sehat, percaya diri, dan memiliki ketahanan mental.

Menutup amanatnya, ia menegaskan keluarga merupakan benteng pertahanan pertama sekaligus titik awal lahirnya sumber daya manusia unggul.

"Dari keluarga yang berkualitas, kita membangun fondasi menuju Indonesia Emas 2045 sebagai bangsa yang kuat, unggul, dan mampu memenangkan persaingan global," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.