Akurat Logo

Menteri HAM: Pendidikan Mental Berbasis Disiplin Lebih Dibutuhkan daripada Latihan Dasar Militer

Ayu Rachmaningtyas | 30 Juni 2026, 06:00 WIB
Menteri HAM, Natalius Pigai, menyebut pendidikan mental dan karakter tidak butuh pelatihan fisik maupun penggunaan senjata. Foto: Akurat.co/Ayu Rachmaningtyas

AKURAT.CO Pembentukan karakter melalui pendidikan mental lebih penting dibandingkan pelatihan fisik atau latihan dasar militer.

Menurut Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, pendidikan seharusnya berfokus pada penguatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Ia menjelaskan, pendidikan terdiri dari tiga aspek utama, yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitude). Berbagai aspek mencakup mental dan moral menjadi bagian yang kerap memunculkan perdebatan.

"Pendidikan pelatihan itu terdiri dari ada tiga aspek utama yang dididik. Yang pertama adalah knowledge. Knowledge oke, kita setuju knowledge, pendidikan knowledge. Yang kedua, pendidikan skills, keterampilan. Oke kita setuju. Tapi ada perdebatan di mental, pendidikan mental, attitude. Jadi knowledge, skills, attitude," jelasnya, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Pigai mengatakan bahwa moral berkaitan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan nilai baik maupun buruk, sedangkan mental berkaitan dengan disiplin, tanggung jawab, objektivitas, hingga kecekatan dalam bekerja.

Baca Juga: RUU HAM Masuk Tahap Harmonisasi, Pigai Tolak Desakan YLBHI Tarik Rancangan

Maka yang dibutuhkan adalah pendidikan mental dengan karakter identik dengan kedisiplinan militer, bukan pelatihan fisik maupun penggunaan senjata.

"Attitude itulah yang mungkin menjadi perdebatan. Kenapa attitude ini perlu? Attitude ini kan bicara tentang mental dan moral. Moral itu terkait dengan hubungan transendental antara manusia dengan Tuhan, baik dan buruk. Nah, mental itu terkait dengan disiplin, rajin, tanggung jawab, objektif, imparsial, cekatan," ujarnya.

"Bukan pendidikan fisik tapi pendidikan mental yang sifat pendidikan mental yang mental militer. Mental militer itu adalah rajin, tanggung jawab, cekatan, kerja cepat, kerja objektif, antikorupsi, disiplin tinggi. Sebenarnya yang dibutuhkan tuh di situ," tambah Pigai.

Kendati demikian, Pigai tidak memandang pelatihan dasar militer (latsarmil) sebagai hal penting dalam pendidikan karakter seseorang.

Sebagai contoh, ia menyinggung sistem organisasi gereja Katolik yang mampu bertahan selama ribuan tahun karena menerapkan sistem komando yang disiplin.

Baca Juga: Latsarmil Calon Manajer Kopdes Telan Lima Korban Jiwa, Natalius Pigai Terjunkan Anak Buah untuk Penyelidikan

"Bukan persoalan pelatihan seperti semimiliter atau militer sekolah-sekolah pendidikan dasar militer. Saya pikir itu tidak terlalu penting. Gereja Katolik dua ribu tahun itu bertahan karena dia menerapkan sistem bersifat militer. Itu dia sistem organisasinya seperti sistem militer. Ya itu sebenarnya," ujarnya.

Pigai merekomendasikan agar pelatihan fisik militer tidak dijadikan bagian dari pendidikan, sementara pembentukan karakter tetap dipertahankan.

Maka, evaluasi terhadap program yang sedang berjalan tetap diperlukan agar sesuai dengan standar hak asasi manusia.

"Rekomendasi saya, pendidikan fisik militer sebaiknya diusahakan tidak boleh. Tapi mental dan karakter kerja seperti disiplin, rajin, cekatan, tanggung jawab boleh," tegasnya.

Sebelumnya, Pigai mendorong Kementerian Pertahanan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Baca Juga: Tolak Restorative Justice, Pigai Minta Kasus Penyekapan dan Penganiayaan Perempuan di Jabar Diproses Pidana

Menurutnya, pembentukan karakter peserta tidak harus dilakukan melalui latihan fisik yang berlebihan, sehingga menelan korban jiwa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.