Menteri HAM: Pendidikan Mental Berbasis Disiplin Lebih Dibutuhkan daripada Latihan Dasar Militer
AKURAT.CO Pembentukan karakter melalui pendidikan mental lebih penting dibandingkan pelatihan fisik atau latihan dasar militer.
Menurut Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, pendidikan seharusnya berfokus pada penguatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Ia menjelaskan, pendidikan terdiri dari tiga aspek utama, yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitude). Berbagai aspek mencakup mental dan moral menjadi bagian yang kerap memunculkan perdebatan.
"Pendidikan pelatihan itu terdiri dari ada tiga aspek utama yang dididik. Yang pertama adalah knowledge. Knowledge oke, kita setuju knowledge, pendidikan knowledge. Yang kedua, pendidikan skills, keterampilan. Oke kita setuju. Tapi ada perdebatan di mental, pendidikan mental, attitude. Jadi knowledge, skills, attitude," jelasnya, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Pigai mengatakan bahwa moral berkaitan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan nilai baik maupun buruk, sedangkan mental berkaitan dengan disiplin, tanggung jawab, objektivitas, hingga kecekatan dalam bekerja.
Baca Juga: RUU HAM Masuk Tahap Harmonisasi, Pigai Tolak Desakan YLBHI Tarik Rancangan
Maka yang dibutuhkan adalah pendidikan mental dengan karakter identik dengan kedisiplinan militer, bukan pelatihan fisik maupun penggunaan senjata.
"Attitude itulah yang mungkin menjadi perdebatan. Kenapa attitude ini perlu? Attitude ini kan bicara tentang mental dan moral. Moral itu terkait dengan hubungan transendental antara manusia dengan Tuhan, baik dan buruk. Nah, mental itu terkait dengan disiplin, rajin, tanggung jawab, objektif, imparsial, cekatan," ujarnya.
"Bukan pendidikan fisik tapi pendidikan mental yang sifat pendidikan mental yang mental militer. Mental militer itu adalah rajin, tanggung jawab, cekatan, kerja cepat, kerja objektif, antikorupsi, disiplin tinggi. Sebenarnya yang dibutuhkan tuh di situ," tambah Pigai.
Kendati demikian, Pigai tidak memandang pelatihan dasar militer (latsarmil) sebagai hal penting dalam pendidikan karakter seseorang.
Sebagai contoh, ia menyinggung sistem organisasi gereja Katolik yang mampu bertahan selama ribuan tahun karena menerapkan sistem komando yang disiplin.
"Bukan persoalan pelatihan seperti semimiliter atau militer sekolah-sekolah pendidikan dasar militer. Saya pikir itu tidak terlalu penting. Gereja Katolik dua ribu tahun itu bertahan karena dia menerapkan sistem bersifat militer. Itu dia sistem organisasinya seperti sistem militer. Ya itu sebenarnya," ujarnya.
Pigai merekomendasikan agar pelatihan fisik militer tidak dijadikan bagian dari pendidikan, sementara pembentukan karakter tetap dipertahankan.
Maka, evaluasi terhadap program yang sedang berjalan tetap diperlukan agar sesuai dengan standar hak asasi manusia.
"Rekomendasi saya, pendidikan fisik militer sebaiknya diusahakan tidak boleh. Tapi mental dan karakter kerja seperti disiplin, rajin, cekatan, tanggung jawab boleh," tegasnya.
Sebelumnya, Pigai mendorong Kementerian Pertahanan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Menurutnya, pembentukan karakter peserta tidak harus dilakukan melalui latihan fisik yang berlebihan, sehingga menelan korban jiwa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








