Blokade Israel terhadap Gaza: Krisis Psikologis dan Kemanusiaan yang Menjadi Tanggung Jawab Dunia

BAGAIMANA rasanya ketika kebutuhan pokok yang paling sederhana sekalipun seakan menjadi barang mewah di tanah air sendiri?
Di mana letak kepedulian dunia saat ribuan orang harus berlarian dan memanjat pagar untuk mengisi perutnya?
Siapa yang seharusnya bertanggung jawab ketika kemanusiaan terancam oleh kebijakan yang menciptakan penderitaan?
Sebuah video viral yang diunggah oleh BBC News di TikTok pada 13 Juni 2025 telah menggugah rasa kemanusiaan masyarakat dunia maya.
Video berdurasi 51 detik itu memperlihatkan ratusan warga Palestina berlarian dan memanjat pagar pelindung Gaza Humanitarian Foundation demi mendapatkan kebutuhan pokok yang kini sulit didapatkan.
Krisis ini terjadi akibat blokade dan serangan terus-menerus yang dilakukan Israel terhadap Gaza, menciptakan situasi yang sangat parah dan dapat dikatakan sebagai bencana kemanusiaan.
Video berjudul “Crowds of Palestinians climb fence of aid site run by Gaza Humanitarian Foundation” menunjukkan perilaku warga Gaza yang terdorong oleh rasa lapar dan keputusasaan, bahkan berujung pada sikap anarkis.
Ini membuktikan bahwa serangan yang dialami warga Gaza bukan hanya secara fisik, tetapi juga psikologis.
Kelaparan yang Disengaja
Penderitaan warga Gaza muncul akibat kebijakan militer dan politik Israel yang memberlakukan blokade ketat terhadap akses bantuan dari pihak luar.
Blokade yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan ini menyebabkan kelangkaan kebutuhan pokok, mulai dari pangan hingga obat-obatan.
PBB dan WHO mencatat puluhan hingga ratusan kematian akibat kelaparan akut dan malnutrisi sejak blokade diberlakukan.
Pada 2022, Direktur Jenderal Kesehatan Mental Kemenkes Gaza, Jamil Suleiman Ali, menyatakan bahwa 60 persen warga Palestina mengalami gangguan psikologis akibat blokade yang berlangsung selama 15 tahun.
Hal ini memperjelas bahwa krisis yang dialami Gaza adalah bentuk penindasan yang disengaja oleh Israel.
Seperti yang disebutkan dalam komentar di TikTok, “Gaza is not starving, Gaza is being starved.”
Peran Media Sosial
Viralnya video BBC News dan respons masyarakat dunia di kolom komentar menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi jendela dunia untuk menyaksikan penderitaan Gaza.
Foto, video, dan tulisan yang tersebar luas mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Media sosial menjadi alat utama untuk membangun empati dan solidaritas global, baik dari kaum Muslim maupun non-Muslim.
Baca Juga: Program MBG Jangkau 5,5 Juta Penerima Manfaat, PCO: Gizi Anak Terbukti Meningkat
Didukung oleh data yang dihasilkan dari penelitian “Kekuatan Digital: Gerakan Warganet Atas Penolakan Genosida di Palestina”, lebih dari 90 persen masyarakat percaya suara mereka di media sosial dapat meningkatkan kesadaran global terhadap genosida di Gaza.
Publikasi konten kemanusiaan, aksi boikot pada brand atau produk yang mendukung Israel, dan komentar tentang isu ini terbukti mampu memberikan tekanan yang berpotensi menghentikan blokade dan memperkuat pembela Gaza.
Bukan Lagi Soal Kesamaan Kelompok, Melainkan Sesama Manusia
Perlu ditegaskan bahwa konflik ini bukan perang antarnegara, melainkan penindasan terang-terangan Israel terhadap Gaza yang disebut genosida.
Blokade ini harus segera diakhiri karena warga Gaza terus menderita di tanah mereka sendiri, sementara dunia diam menyaksikan dengan jelas.
Tanggung jawab bukan hanya dipegang oleh kelompok tertentu, melainkan seluruh masyarakat dunia.
Baik komunitas nasional, internasional, maupun individu harusnya berperan menekan Israel agar membuka kembali akses bantuan ke Gaza.
Di era digital, tidak ada lagi alasan yang menghalangi kita untuk tidak peduli dan bersuara. Media sosial dapat menjadi senjata kuat untuk menggerakkan opini publik dan menciptakan perubahan.
Gerakan seperti “All Eyes on Rafah” menunjukkan bagaimana suara masyarakat dunia dapat menyuarakan penderitaan Gaza agar sampai ke pembuat kebijakan.
Bersama Hentikan Genosida
Blokade Israel terhadap Gaza adalah genosida yang membunuh tidak hanya secara fisik, tetapi juga jiwa dan sosial warga Gaza.
Sebagai sesama manusia dan bagian dari komunitas global, kita tidak boleh diam dan hanya menjadi penonton.
Perlu berapa banyak lagi jenazah warga Gaza yang harus kita lihat di layar untuk mulai bergerak?
Dunia maya harus dimanfaatkan sebagai alat perjuangan untuk menyuarakan tangisan penderitaan Gaza.
Solidaritas dan kemanusiaan yang kuat dapat mengakhiri penderitaan ini. Saatnya dunia bertindak nyata, bukan sekadar menyaksikan.
Ayu Tria Handayani
Mahasiswa Fikom Universitas Padjadjaran (Unpad)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










