Akurat
Pemprov Sumsel

Menelisik Peran Modal Sosial Dalam Penguatan Pariwisata

Tantan Hermansah | 29 Oktober 2025, 18:24 WIB
Menelisik Peran Modal Sosial Dalam Penguatan Pariwisata

PARIWISATA hari ini bukan lagi sekadar aktivitas rekreasi; ia telah menjadi ruang sosial, ekonomi, dan kultural yang sangat dinamis. Masyarakat memiliki akses yang semakin luas untuk mengunjungi destinasi wisata, sebagian besar didorong oleh ekspansi ruang digital.

Media sosial membuka panggung publik yang memungkinkan setiap orang menampilkan pengalaman perjalanannya. Dari sinilah muncul fenomena baru: eksplorasi wisata tidak hanya memberikan kesenangan personal, tetapi juga dapat menjadi sumber ekonomi melalui monetisasi konten.

Para traveler dan vlogger menjadi aktor kultural baru. Mereka membentuk referensi kolektif yang mendorong orang lain mengunjungi destinasi tertentu. Narasi visual, cerita perjalanan, dan jejaring daring menjadi kekuatan promosi yang jauh lebih organik dibandingkan iklan konvensional.

Baca Juga: Banyak Potensi Pariwisata Tersembunyi di Indonesia, Bima Arya Minta Pemda Terapkan 'City Branding'

Namun, di balik euforia ini, ada faktor fundamental yang sering diabaikan: modal sosial sebagai fondasi keberlanjutan sektor pariwisata.

Modal Sosial sebagai Fondasi

Robert Putnam, salah satu tokoh penting dalam kajian sosiologi, menjelaskan bahwa modal sosial terdiri dari tiga dimensi utama: bonding, bridging, dan linking (1993). Ketiganya membentuk jaringan kepercayaan, kolaborasi, dan struktur sosial yang menopang keberlangsungan aktivitas kolektif, termasuk sektor pariwisata.

Pertama, Bonding sebagai Ikatan Komunitas dari Dalam. Bonding ini merujuk pada kekuatan ikatan internal dalam satu komunitas. Dalam konteks pariwisata, bonding muncul ketika warga lokal menyadari potensi unik wilayahnya dan membangun solidaritas untuk mengelolanya secara bersama. “Keluarga” di sini tidak hanya berarti hubungan darah, tetapi juga kelompok yang memiliki visi dan kepentingan bersama.

Misalnya, sebuah komunitas desa wisata dapat mengintegrasikan beragam keahlian: ada anggota yang ahli keuangan, marketing, desain, dan manajemen sumber daya manusia.

Kolaborasi ini menciptakan sinergi—mereka saling melengkapi untuk membangun destinasi wisata yang bernilai jual tinggi dan berkelanjutan. Tanpa bonding yang kuat, sektor wisata mudah rapuh karena tidak memiliki basis sosial yang solid.

Kedua, Bridging sebagai Kolaborasi Antar Komunitas. Bridging adalah kemampuan membangun jejaring horizontal dengan komunitas lain yang memiliki karakter berbeda.

Dalam praktik pariwisata, bridging dapat dilihat saat komunitas wisata sungai berkolaborasi dengan komunitas wisata pegunungan. Alih-alih bersaing, mereka membuka akses lintas destinasi, menciptakan paket wisata terpadu yang memperluas pengalaman wisatawan.

Contoh sederhana bridging juga terlihat dalam dunia perdagangan kecil. Para pedagang handphone di pusat perbelanjaan sering saling mempercayai stok satu sama lain. Mereka tidak harus menyimpan semua produk; cukup mengandalkan jejaring untuk memenuhi permintaan konsumen.

Prinsip ini sangat relevan dalam pariwisata: jejaring lintas komunitas memperluas jangkauan pasar dan memperkuat daya tahan sektor wisata lokal.

Ketiga, Linking sebagai Jembatan ke Lembaga dan Struktur Kekuasaan. Linking adalah jejaring vertikal antara komunitas dengan lembaga atau struktur otoritas seperti pemerintah daerah dan pembuat kebijakan.

Tahap ini sangat krusial ketika destinasi wisata mulai tumbuh dan membutuhkan dukungan legal, infrastruktur, serta perlindungan regulasi.

Ketika komunitas pariwisata mampu berinteraksi produktif dengan pemerintah, mereka tidak hanya menjadi pelaku ekonomi, tetapi juga mitra pembangunan. Linking memastikan usaha wisata tidak bertentangan dengan hukum, memperoleh perlindungan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan kebijakan publik.

Mengapa Banyak Usaha Pariwisata Gagal?

Banyak usaha wisata tumbuh cepat, tetapi tidak sedikit pula yang ambruk dalam waktu singkat. Akar persoalannya sering bukan pada produk wisata itu sendiri, melainkan pada lemahnya modal sosial.

Tanpa bonding, komunitas kehilangan arah kolektif. Tanpa bridging, mereka terisolasi dari jejaring yang lebih luas. Tanpa linking, mereka rentan terhadap ketidakpastian regulasi dan perubahan politik lokal.

Kegagalan ini tentu berakibat serius. Hak karyawan tidak dibayar, kawasan wisata terbengkalai, dan potensi ekonomi hilang. Dalam jangka panjang, keruntuhan modal sosial merusak ekosistem kepariwisataan itu sendiri.

Baca Juga: Indonesia Dukung Deklarasi Mpumalanga, Majukan Pariwisata Global Berkelanjutan

Maka dari itu, diperlukan solusi konstruktif, yakni membangun pariwisata berbasis modal sosial, antara lain: Pertama, pelaku pariwisata perlu memperkuat ikatan komunitas (bonding) dengan membangun struktur internal yang transparan, profesional, dan partisipatif.

Kedua, komunitas harus membangun jejaring kolaboratif (bridging) yang tidak sekadar berbagi promosi, tetapi juga berbagi pengetahuan, sumber daya, dan inovasi produk wisata.

Ketiga, komunitas perlu menjalin kemitraan strategis (linking) dengan pemerintah dan institusi pendukung untuk memastikan keberlanjutan legal, ekologi, dan ekonomi.

Dengan cara ini, sektor pariwisata tidak hanya menjadi “panggung eksotis” untuk konten digital, tetapi juga menjadi ekosistem sosial yang kokoh, inklusif, dan berkelanjutan.

Bahkan lebih jauh, pariwisata menjadi masa depan komunitas dan masyarakat di sekitar kawasan, sekaligus juga menjaga tatanan alam yang akan diwariskan ke anak cucu kelak.

Penutup

Pariwisata yang kuat bukan dibangun dari keindahan alam semata, tetapi dari kepercayaan sosial yang mengikat manusia. Modal sosial sangat bisa menjadi jantung dari ekosistem wisata: ia menyatukan warga, membuka jejaring, dan menghubungkan komunitas dengan negara.

Jika dimanfaatkan dengan cerdas, modal sosial dapat menjadi motor penggerak pariwisata yang bukan hanya menghibur wisatawan, tetapi juga menyejahterakan masyarakat lokal. [ ]

____

*Tantan Hermansah, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat-UIN Jakarta

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.