Ramadhan dan Kepemimpinan yang Tidak Menghakimi

RAMADHAN selalu datang setiap tahun sebagai momentum spiritual bagi umat Islam. Selama sebelas bulan sebelumnya manusia menjalani kehidupan dengan ritme yang padat—bekerja, beraktivitas, memenuhi kebutuhan biologis seperti makan dan minum tanpa banyak refleksi.
Ramadhan menghadirkan jeda dari rutinitas tersebut melalui praktik puasa yang menuntut manusia menahan lapar, dahaga, dan berbagai dorongan diri sepanjang hari.
Namun secara substantif, Ramadhan bukan sekadar bulan ritual ibadah. Ia adalah ruang pendidikan karakter. Puasa melatih manusia mengendalikan diri, menata ulang sikap moral, serta meninjau kembali cara seseorang memperlakukan orang lain dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks ini, Ramadhan juga relevan untuk merefleksikan praktik kepemimpinan. Seorang pemimpin diajak bertanya kepada dirinya sendiri: bagaimana ia menggunakan kekuasaan? Apakah kekuasaan itu menjadi sarana pelayanan atau justru berubah menjadi alat untuk menghakimi orang lain?
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah 16 Ramadan Hari Ini di Jakarta: 6 Maret 2026
Pertanyaan ini penting karena dalam banyak organisasi—baik birokrasi publik, perusahaan, lembaga pendidikan, maupun organisasi sosial—kepemimpinan sering tampil sebagai otoritas yang gemar menyalahkan.
Ketika terjadi masalah, perhatian lebih cepat diarahkan pada siapa yang harus disalahkan daripada pada bagaimana persoalan itu dipahami dan diperbaiki.
Budaya menyalahkan seperti ini menciptakan suasana kerja yang penuh ketakutan. Orang bekerja bukan lagi karena panggilan profesional, tetapi karena takut dimarahi atau disalahkan pimpinan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





