Akurat
Pemprov Sumsel

Tenang, Terukur, dan Strategis: Pelajaran Penanganan Krisis dari Lawrence Wong

Safirah Hairulnisah | 7 April 2026, 14:34 WIB
Tenang, Terukur, dan Strategis: Pelajaran Penanganan Krisis dari Lawrence Wong
Safirah Hairulnisah, Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

PADA 4 April 2025, Lawrence Wong, Perdana Menteri Singapura sekaligus Menteri Keuangan, mempublikasikan video berjudul Implications of U.S. Tariffs melalui kanal resminya. Video itu muncul sebagai respons cepat atas kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal April 2025.

Dalam skema tersebut, Singapura tetap dikenai tarif dasar 10% (Setiawan, 2025) meski negara itu memiliki Free Trade Agreement dengan AS sejak 2004 dan bahkan mencatat posisi dagang yang tidak merugikan Amerika dalam konteks yang dijelaskan pemerintah Singapura. 

Respons Wong menarik bukan hanya karena substansi ekonominya, tetapi karena memperlihatkan bagaimana komunikasi krisis dijalankan secara matang oleh seorang kepala pemerintahan. Di tengah ketidakpastian global, pemerintah Singapura tidak memilih jalur komunikasi yang emosional atau reaktif.

Sebaliknya, Wong menggunakan medium digital untuk menyampaikan penjelasan yang jernih, langsung, dan terukur kepada Masyarakat Singapura. 

Baca Juga: Putusan Mahkamah Agung AS Buka Peluang Refund Tarif Impor

Ia membingkai tarif AS bukan sebagai insiden dagang sesaat, melainkan sebagai tanda perubahan besar dalam tatanan global: memudarnya era globalisasi berbasis aturan, dan munculnya fase baru yang lebih proteksionis, arbitrer, dan berbahaya. Penekanan seperti ini penting karena dalam situasi krisis, publik tidak hanya membutuhkan data, tetapi juga kerangka untuk memahami apa yang sedang terjadi. 

Alih-alih menenangkan publik dengan kalimat normatif bahwa situasi akan baik-baik saja, Wong justru mengajak warganya untuk memahami bahwa guncangan yang dialami Singapura adalah bagian dari perubahan struktural dunia. Wong menegaskan bahwa risiko utamanya bukan hanya pada dampak langsung tarif 10% terhadap Singapura, tetapi pada efek berantai yang lebih besar seperti perang dagang, pelemahan lembaga global, penurunan kepercayaan bisnis, dan meningkatnya ketidakpastian investasi (Wong, 2025). 

Dengan kata lain, ia tidak menyederhanakan masalah, tetapi juga tidak menakut-nakuti. Ia memberi konteks, menjelaskan akar persoalan, lalu menempatkan Singapura dalam peta risiko global yang lebih luas. Di sini Wong menunjukan pentingnya memaknai situasi di tengah krisis (sensemaking). 

Hal ini sejalan dengan asumsi Karl Weick dalam Teori Informasi Organisasi bahwa organisasi berfungsi sebagai sistem yang mengumpulkan dan mengolah informasi dari lingkungan yang masih ambigu, lalu menafsirkannya dan mengkomunikasikannya agar menjadi lebih jelas dan bermakna (Sasabila, 2024). 

Selain itu, strategi komunikasi yang dapat dipelajari dari gaya kepemimpinannya adalah de-eskalasi krisis. Wong menyampaikan kekecewaan Singapura secara jelas, bahkan menegaskan bahwa langkah AS bukan tindakan yang lazim dilakukan terhadap negara sahabat. Namun, pada saat yang sama, ia menegaskan bahwa Singapura tidak akan membalas dengan tarif retaliasi karena langkah semacam itu justru akan menaikkan biaya bagi rakyat Singapura sendiri.

Sikap ini penting dibaca sebagai praktik penanganan krisis yang dewasa di mana pemerintah menunjukkan ketegasan posisi tanpa memperbesar konflik. 

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.