Menemukan "Yang Tak Terlihat" dalam Ekosistem Pariwisata Lokal

ADA sebuah narasi provokatif dalam literatur pembangunan yang hingga kini masih sangat relevan untuk mengusik kesadaran kita. Robert Chambers, dalam karyanya yang monumental, memperkenalkan pendekatan "Putting the Last First" (Chambers, 2011) meletakkan mereka yang terpinggirkan di urutan terdepan.
Begitu diperkenalkan, pendekatan ini menjadi sebuah gebrakan yang bukan sekadar retorika populis, melainkan sebuah kritik epistemologis terhadap "penyimpulan serampangan" yang sering terjadi dalam praktik pembangunan di pedesaan.
Selama ini, kita, baik sebagai orang luar maupun orang dalam pedesaan, menyaksikan sebuah paradoks berulang. Di mana pembangunan sering kali salah arah (misguided) dan salah kaprah.
Baca Juga: Membayangkan Pariwisata Yang Bebas Sampah
Pembangunan, alih-alih menyasar mereka yang paling membutuhkan, intervensi pembangunan justru kerap "jatuh cinta" pada kelompok yang memiliki akses dan kedekatan dengan agen pembangunan.
Chambers menyebutnya sebagai “dosa pembangunan”, yang di antaranya adalah subyek sasaran lebih diarahkan kepada mereka yang ramah dengan agensi pembangunan ketimbang yang malu-malu atau yang kritis.
Akibatnya, terjadi apa yang bisa disebuat sebagai kanibalisme relasi.
Praktik ini terjadi dalam bentuk manfaat pembangunan hanya berputar di lingkaran elit lokal yang pandai berjejaring, bisa saling memahami dan memaklumi, dan sebagainya. Sementara kelompok rentan, “tertutup” di belakang, tetap menjadi penonton dalam deru pembangunan di tanah kelahirannya sendiri.
Pariwisata di Antara Harapan dan Realitas
Jika kita perluas, kritik Chambers ini menemukan urgensinya ketika kita memotret obsesi pemerintah dalam mengembangkan pariwisata lokal. Data menunjukkan bahwa sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,1% terhadap PDB nasional pada 2023.
Namun pertanyaannya: pariwisata yang mana dan untuk siapa?
Kita sering terkecoh oleh angka kunjungan tanpa membedah siapa aktor di balik layar. Sebab bisa jadi bahwa angka agregat meningkat, namun dampak nyata kepada pelaku lokal justru minim atau malah tidak ada.
Mari kita berkaca pada fenomena di Yogyakarta atau Bali. Banyak destinasi tumbuh secara organik lewat kolaborasi swasta dan masyarakat tanpa campur tangan negara (c.q: pemerintah). Entitas ini jika dilihat dari perspektif kelembagaan secara mandiri, ini adalah kabar baik.
Namun, dalam visi penguatan ekosistem, absennya negara justru menyimpan bom waktu. Tanpa kehadiran negara sebagai fasilitator dan regulator, pariwisata akan terseret ke dalam lubang kapitalisme barbar.
Kerentanan di Balik Gemerlap Destinasi
Industri pariwisata memiliki tingkat kerentanan (vulnerability) yang jauh lebih tinggi dibanding industri ekstraktif lainnya. Mengapa? Karena di dalam sistem industri pariwisata yang dikelola sepenuhnya oleh swasta/ negara, bertumpu kompleksitas sosial, ekonomi, budaya, hingga spiritualitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






