Akurat Logo

Menjaga Rasa Aman Anak di Tengah Riuhnya Dunia Orang Dewasa

Redaksi | 5 Juni 2026, 14:06 WIB
Menjaga Rasa Aman Anak di Tengah Riuhnya Dunia Orang Dewasa
Arnes Meilenda, Guru BK TK Islam Pembangunan, Tangerang Selatan

"ANAK-ANAK tidak membutuhkan dunia yang sempurna, tetapi mereka membutuhkan dunia yang membuat mereka merasa aman."

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana seorang anak terdiam ketika melihat orang dewasa bertengkar? Atau bagaimana wajah mereka berubah cemas saat menyaksikan keributan yang sebenarnya tidak mereka pahami?

Pemandangan semacam ini mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang dewasa, tetapi tidak demikian bagi anak-anak. Dalam dunia mereka yang masih sederhana, setiap perubahan suasana dapat menghadirkan beragam pertanyaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.

Seperti yang diketahui bahwa masa kanak-kanak merupakan periode rasa aman sedang dibangun dan kepercayaan terhadap lingkungan mulai tumbuh. Pada fase ini, anak belajar mengenali dunia melalui apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, berbagai peristiwa yang melibatkan emosi kuat, ketegangan, atau konflik dapat meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam dibandingkan yang sering dibayangkan oleh orang dewasa.

Sayangnya, masih banyak yang beranggapan bahwa anak-anak tidak akan mengingat atau memahami peristiwa yang mereka saksikan. Padahal, sering kali bukan peristiwanya yang membekas dalam ingatan mereka, melainkan perasaan yang muncul saat peristiwa itu terjadi.

Rasa takut, bingung, cemas, atau kehilangan rasa aman dapat tersimpan jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan. Bahkan ketika detail kejadian mulai terlupakan, jejak emosinya dapat tetap memengaruhi cara anak memandang lingkungan dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

Pun di Era yang serba terbuka seperti sekarang, anak semakin mudah terpapar berbagai dinamika kehidupan orang dewasa. Mereka dapat menyaksikan demonstrasi di jalan, perselisihan di ruang publik, perdebatan keras di media sosial, bahkan konflik yang terjadi di lingkungan terdekat mereka. Tidak semua paparan tersebut berbahaya, tetapi menjadi persoalan ketika anak menyaksikannya tanpa pendampingan dan tanpa penjelasan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, pada masa kanak-kanak anak sedang membangun basic trust atau rasa percaya terhadap lingkungan di sekitarnya. Rasa percaya ini tumbuh ketika anak merasa aman, terlindungi, dan mendapatkan respons yang konsisten dari orang dewasa.

Sebaliknya, ketika anak berulang kali terpapar situasi yang penuh ketegangan, ancaman, atau konflik yang tidak mereka pahami, rasa aman tersebut dapat terganggu dan memengaruhi cara mereka memandang dunia. Anak dapat menjadi lebih mudah cemas, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau menunjukkan perubahan perilaku yang sebelumnya tidak tampak.

Dalam ajaran Islam, menjaga perasaan dan kesejahteraan anak merupakan bagian dari amanah yang harus dijaga oleh setiap orang dewasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak kecil dan tidak menghormati orang yang lebih tua." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Hadis ini mengajarkan bahwa kasih sayang kepada anak bukan hanya diwujudkan melalui pemberian makanan, pendidikan, atau fasilitas terbaik, tetapi juga melalui upaya menjaga rasa aman dan ketenangan jiwa mereka. Sebab hati anak yang terlindungi akan menjadi tempat tumbuhnya kepercayaan, keberanian, dan akhlak yang baik.

Berkaitan dengan hal tersebut, peran orang tua dan guru menjadi sangat penting ketika anak terpapar situasi yang menegangkan. Menurut teori Attachment dari John Bowlby, anak membutuhkan figur dewasa yang mampu memberikan rasa aman saat menghadapi kondisi yang membingungkan atau tidak mereka pahami.

Karena itu, orang tua dan guru perlu menjadi "tempat pulang" yang menenangkan. Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita, dengarkan tanpa menghakimi, validasi perasaannya, lalu berikan penjelasan yang sederhana sesuai usianya. Hindari menunjukkan kepanikan berlebihan dan yakinkan bahwa mereka berada dalam kondisi yang aman.

Pada akhirnya, setiap orang dewasa memang berhak menyampaikan pendapat dan memperjuangkan aspirasinya. Namun, kebijaksanaan diperlukan untuk memahami kapan, di mana, dan bagaimana pendapat itu disampaikan, terutama di lingkungan yang dapat disaksikan anak-anak. Sebab, mereka belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan.

Mari menjadi orang tua dan pendidik yang memberi teladan, menjaga hati mereka, serta mengajarkan bahwa perbedaan dapat disikapi dengan bijak. Karena dari rasa aman yang kita berikan, tumbuh generasi yang kuat, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. 

Perspektif Baru: Memanusiakan Anak di Mata Dunia dan Tuhan

Di tengah segala narasi besar tentang masa depan, harapan, dan estafet peradaban, seringkali kita lupa satu hal fundamental: anak bukanlah proyek, melainkan pribadi utuh yang sedang hidup saat ini juga.

Anak bukan sekadar "calon" orang dewasa, melainkan being yang memiliki hati, rasa takut, mimpi, dan hak untuk diperlakukan setara dalam kemanusiaannya. Sebab di hadapan Tuhan, tidak ada hirarki usia—yang terukur adalah ketulusan jiwa, bukan gemuknya gelar atau panjangnya pengalaman.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
Reporter
Redaksi
A