Akurat Logo

Mengenalkan Adab Sejak Dini Pada Anak Semakin Mendesak

Redaksi | 7 Juni 2026, 15:59 WIB
Mengenalkan Adab Sejak Dini Pada Anak Semakin Mendesak
Melani, Guru TK Islam Pembangunan, Pamulang, Tangerang Selatan

"TIDAK ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih baik daripada adab yang baik." (HR. Tirmidzi)

Di tengah derasnya arus perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, tantangan orang tua dalam mendidik anak menjadi semakin kompleks.

Jika dahulu lingkungan keluarga dan masyarakat menjadi ruang utama pembentukan karakter anak, saat ini anak-anak juga tumbuh bersama televisi, media sosial, permainan digital, dan berbagai konten internet yang dapat memengaruhi cara berpikir maupun perilaku mereka.

Di satu sisi, teknologi memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan. Anak dapat belajar berbagai hal dengan cepat melalui perangkat digital. Namun di sisi lain, tanpa pendampingan yang tepat, teknologi juga dapat menjadi pintu masuk berbagai perilaku yang kurang sesuai dengan nilai-nilai adab dan akhlak.

Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan anak mudah membantah, kurang menghormati orang yang lebih tua, sulit mengucapkan terima kasih, atau terlalu sibuk dengan gawai sehingga mengabaikan interaksi sosial di sekitarnya.

Baca Juga: Belajar Sastra Sejak Kecil: Bekal Penting untuk Bahasa, Karakter, dan Imajinasi Anak

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan adab tidak boleh ditunda. Justru di era digital saat ini, penanaman adab menjadi semakin penting agar anak memiliki kompas moral yang mampu membimbingnya dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.

Dalam Islam, adab merupakan bagian penting dari akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Adab bukan hanya tentang sopan santun dalam berbicara, tetapi juga mencakup bagaimana seseorang menghormati orang lain, menjaga amanah, bersikap jujur, bertanggung jawab, serta menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya.

Para ulama bahkan menempatkan adab sebagai fondasi ilmu. Sebab, ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu masih memungkinkan seseorang untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Oleh karena itu, masa kanak-kanak menjadi periode yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai adab. Pada usia dini, anak berada dalam fase meniru (imitasi), sehingga apa yang dilihat dan didengar setiap hari akan mudah melekat dalam dirinya.

Setiap orang tua tentu mendambakan anak yang santun dalam bertutur kata, hormat kepada orang tua dan guru, peduli terhadap sesama, serta mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungannya. Karakter seperti ini tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara konsisten sejak usia dini.

Lebih jauh lagi, adab yang baik akan menjadi benteng bagi anak ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Anak yang terbiasa menghormati orang lain akan lebih mudah membangun hubungan sosial yang sehat. Anak yang terbiasa jujur akan lebih dipercaya.

Anak yang memiliki empati akan lebih mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang beragam. Dengan kata lain, adab bukan hanya bekal untuk kehidupan beragama, tetapi juga modal sosial yang sangat berharga dalam kehidupan bermasyarakat.

Cara Menanamkan Adab Sejak Dini

1. Menjadi Orang Tua yang Memberikan Keteladanan

Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orang tua sering kali lebih berpengaruh dibandingkan apa yang dinasihatkan. Oleh karena itu, keteladanan merupakan metode pendidikan yang paling efektif.

Misalnya, ketika orang tua terbiasa mengucapkan salam saat masuk rumah, mengucapkan terima kasih kepada pasangan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, atau berbicara dengan nada yang santun, maka anak akan melihat dan meniru perilaku tersebut secara alami

Sebaliknya, akan sulit mengajarkan anak untuk berkata sopan apabila ia setiap hari menyaksikan orang tuanya berbicara kasar, mudah marah, atau mengabaikan etika dalam berinteraksi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
Reporter
Redaksi
A