Guru sebagai Navigator atau Penonton di Era Digital (Bagian 1)

KETIKA Peran Guru Dipertanyakan oleh Zaman di Era Digital
Perubahan zaman tidak pernah berjalan linier, apalagi menunggu kesiapan manusia. Ia bergerak sebagai gelombang besar yang memaksa setiap profesi untuk beradaptasi atau tertinggal.
Dalam lanskap pendidikan kontemporer, gelombang tersebut hadir dalam bentuk digitalisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence, selanjutnya ditulis AI), dan ledakan informasi yang nyaris tak terbendung.
Di tengah arus kemajuan teknologi digital ini, guru nampak berada di persimpangan eksistensial yaitu tetap menjadi pengarah pembelajaran atau secara perlahan tergeser perannya menjadi penonton dari perubahan yang berlangsung begitu cepat.
Baca Juga: Ketika Banyak Pelajar Alami Gangguan Mental
Laporan UNESCO (2023) menegaskan bahwa sistem pendidikan global bergerak menuju integrasi teknologi digital secara masif. Namun, akselerasi ini tidak selalu diiringi kesiapan pedagogis yang memadai. Teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahami dan memaknainya.
Di sinilah paradoks pendidikan modern-kontemporer menemukan momentumnya dimana kemajuan alat tidak otomatis melahirkan kemajuan makna yang menyertainya.
Jika pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, maka persoalan utamanya bukan pada kecanggihan teknologi seperti hadirnya teknologi AI, melainkan pada siapa yang mengendalikan arah pembelajaran—manusia atau mesin.
Pertanyaan ini menjadi penting dan sebagai fondasi reflektif bagi eksistensi guru di era digital. Tumbuhnya kesadaran reflektif pedagogis membuat guru siap menjadi aktor penting di tengah perubahan disruptif sebagai dampak dari kemajuan teknologi digital.
Guru dan AI: Gambaran Pergeseran Otoritas Pengetahuan di Era Digital
Kehadiran teknologi AI seperti ChatGPT, mesin learning dan sistem pembelajaran adaptif lainnya telah menggeser struktur otoritas pengetahuan. Informasi tidak lagi dimonopoli oleh guru atau buku teks. Siswa kini dapat mengakses, bahkan memproduksi, pengetahuan melalui algoritma dalam hitungan detik. Posisi guru sebagai sumber utama pengetahuan menjadi relatif.
Namun, reduksi peran guru sebagai penyampai materi sesungguhnya telah lama dikritik. John Dewey menegaskan bahwa pendidikan adalah proses rekonstruksi pengalaman, bukan sekadar transfer informasi.
Pandangan ini dipertegas oleh Michael Fullan yang menyatakan bahwa teknologi tidak akan menggantikan guru, tetapi guru yang tidak beradaptasi dengan teknologi akan tergantikan oleh mereka yang mampu.
Dalam perspektif Anthony Giddens, manusia modern memiliki reflexive agency—kemampuan merefleksikan dan mengarahkan tindakannya. Paulo Freire menegaskan pentingnya kesadaran kritis (conscientization) dalam pendidikan.
Tanpa kesadaran ini, siswa berisiko menjadi konsumen pasif teknologi—menerima jawaban tanpa memahami proses berpikir. Di sinilah guru bertransformasi menjadi navigator: bukan sekadar penyampai informasi, tetapi pembangun kesadaran, penafsir makna, dan pengarah proses berpikir.
Jika dahulu masalah pendidikan adalah keterbatasan informasi, maka kini masalahnya adalah kelebihan informasi tanpa kemampuan memaknainya. Fenomena information overload menciptakan situasi di mana siswa terus menerima data, tetapi kesulitan membedakan antara fakta, opini, dan manipulasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 7Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








