Akurat
Pemprov Sumsel

Guru sebagai Navigator atau Penonton di Era Digital (Bagian 2)

Abdul Rozak | 20 April 2026, 12:36 WIB
Guru sebagai Navigator atau Penonton di Era Digital (Bagian 2)
Abdul Rozak, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan.

GURU sebagai Navigator dalam Pendidikan: Cara Cerdas Guru Menghadapi AI, Banjir Informasi, dan Krisis Karakter

Guru menjadi navigator bukan sekadar metafora, melainkan tuntutan profesional untuk mampu membaca arah perubahan, memahami teknologi, dan menjaga nilai kemanusiaan. Kerangka World Economic Forum (WEF) menekankan integrasi literasi digital, data, dan humanistik.

Pembelajaran harus bergeser dari hafalan menuju pemecahan masalah, dari teacher-centered ke student-centered, dan dari jawaban instan menuju proses berpikir.

Kecerdasan buatan (artificial intellegence, selanjutnya ditulis AI) harus dimanfaatkan guru sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar. Guru harus membimbing siswa untuk bertanya, meragukan, dan merefleksikan produk yang didapat dari AI.

Baca Juga: Guru sebagai Navigator atau Penonton di Era Digital (Bagian 1)

Menghadapi AI, banjir informasi, dan krisis karakter di era disrupsi digital tidak cukup dengan sikap reaktif atau sekadar adaptif secara teknis oleh siapapun termasuk pada guru. Untuk itu kecerdasan strategis—kemampuan membaca perubahan secara kritis sekaligus merumuskan respons pedagogis yang bermakna dalam proses pendidikan-pembelajaran menjadi hal penting bagi guru.

Di era AI, guru tidak boleh terjebak dalam dua ekstrem yaitu menolak teknologi secara apriori atau menerima tanpa refleksi. Penolakan akan menjauhkan pendidikan dari realitas zaman, sementara penerimaan tanpa kritik justru berpotensi menghilangkan esensi pendidikan itu sendiri.

Cara cerdas yang harus dilakukan guru dalam tugas layanan pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrasah di era digital atau AI sebagai berikut :

Pertama, AI harus diposisikan sebagai alat bantu (co-pilot), bukan pengganti proses berpikir, sehingga guru tetap mendorong siswa berpikir kritis, argumentatif, dan reflektif serta tidak bergantung pada jawaban instan. Tanpa penguatan ini, pembelajaran berisiko tereduksi menjadi aktivitas mekanistik yang cepat namun dangkal secara makna.

Kedua, di tengah banjir informasi, guru berperan sebagai kurator pengetahuan yang menyeleksi, mengontekstualisasi, dan membimbing siswa memahami informasi secara kritis, membedakan fakta dan opini, serta berpikir berbasis evidensi. Peran ini menjadi krusial agar siswa tidak tersesat dalam disinformasi dan tetap berpijak pada rasionalitas ilmiah.

Ketiga, penguatan karakter siswa menjadi inti pendidikan melalui internalisasi nilai integritas, tanggung jawab, kejujuran, dan empati yang diwujudkan lewat praktik nyata, dialog, dan keteladanan. Tanpa fondasi karakter, kecerdasan justru berpotensi melahirkan krisis moral di tengah kemajuan teknologi.

Keempat, pembelajaran perlu bergeser dari orientasi hasil ke proses dengan menekankan higher order thinking skills melalui pendekatan berbasis masalah, proyek, dan inkuiri untuk membangun kedalaman berpikir dan kemandirian belajar. Inilah yang membedakan siswa yang sekadar tahu dengan siswa yang benar-benar memahami dan mampu mencipta.

Kelima, guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terus beradaptasi, merefleksikan praktik, dan merespons perubahan secara kreatif sebagai ukuran profesionalisme di era digital. Tanpa komitmen ini, guru akan tertinggal oleh dinamika zaman dan kehilangan relevansi dalam pembelajaran.

Penutup: Guru sebagai Navigator Peradaban, Bukan Penonton di Era Digital

Perdebatan tentang kecanggihan teknologi, AI, dan banjir informasi di era digital pada akhirnya bermuara pada pertanyaan mendasar: siapa yang mengendalikan arah peradaban—manusia atau mesin. Guru tidak boleh tereduksi menjadi penonton pasif, tetapi harus hadir sebagai aktor aktif dan reflektif yang menentukan arah perubahan dan masa depan generasi bangsa.

Meskipun AI mampu menyediakan informasi secara instan, peran guru tetap tidak tergantikan dalam memberi makna, menanamkan nilai, dan membangun kesadaran kritis agar pengetahuan yang diperoleh siswa valid, bermakna, dan berdampak positif.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Abdul Rozak
A