Benarkah Memuji Anak Berbahaya? Ada Cara Tepatnya Lho...

AKURAT.CO Tidak ada orang tua yang ingin mengurangi rasa harga diri anak-anak mereka, merendahkan mereka atau berdampak negatif pada kualitas hidup mereka.
Itulah sebabnya, para orang tua percaya bahwa memberikan pujian kepada anak-anak adalah cara untuk menunjukkan penghargaan kepada mereka dan mendorong motivasi mereka untuk mencapai prestasi.
Namun, apakah mungkin bahwa memberikan pujian kepada anak-anak sebenarnya dapat mempengaruhi kemampuan berpikir mereka dan membatasi perkembangan mereka? Carol S. Dweck, seorang psikolog dan peneliti kepribadian, menjelaskan jenis-jenis kesalahan yang bisa berdampak buruk pada perkembangan anak-anak serta bagaimana memberikan pujian dengan cara yang benar sehingga anak-anak tetap termotivasi dan tidak mudah menyerah.
1. Fokus pada usaha yang telah dilakukan anak
Ketika anak mencapai prestasi tinggi, kebanyakan orang tua merasa senang untuk memberikan penghargaan kepada anak mereka. Namun, sebaiknya orang tua menghindari memberikan pujian yang terkait dengan penilaian terhadap kecerdasan atau bakat anak mereka.
Pujian yang diberikan kepada anak seharusnya lebih difokuskan pada usaha yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Orang tua bisa memberikan penghargaan terhadap upaya yang telah anak-anak lakukan melalui proses latihan, belajar, ketekunan, dan strategi yang mereka terapkan, daripada hanya berkutat pada hasil akhir yang dicapai oleh anak.
Michele Borba, seorang psikolog yang dijelaskan di laman Drake University, juga menyarankan agar orang tua tidak mengatakan, "Kamu cerdas!" melainkan lebih baik mengungkapkan, "Kamu telah bekerja keras!" atau "Kamu membuat kemajuan karena usaha keras yang kamu lakukan."
2. Hindari melabeli anak dengan karakter tertentu
Orang tua sebaiknya menghindari melabeli anak dengan karakter tertentu yang dapat mengganggu rasa percaya dirinya. Sementara dalam menghadapi stereotip negatif, dorong anak untuk mengerahkan seluruh kemampuan dan usahanya untuk mengejar ketertinggalan tanpa mempedulikan pandangan orang lain.
3. Cara kritik anak tanpa buat minder
Pesan yang disampaikan orangtua saat gagal, juga akan sangat berpengaruh terhadap motivasi sang anak di masa depan.
Orangtua harus bersimpati dengan kegagalan dan kekecewaan yang dialami sang anak. Misalnya, dengan menyampaikan, "Aku memahami perasaanmu. Memang mengecewakan, meski kamu telah melakukan yang terbaik, namun tetap belum berhasil."
Setelah memvalidasi perasaan anak, orangtua bisa mengungkapkan kebenaran dan mengajari untuk mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Tak perlu membohongi anak dengan mengatakan, "Kamu tetap yang terbaik," sebab pada kenyataannya dia sedang mengalami kegagalan. Katakanlah kebenaran dan fakta di lapangan. Misalnya, "Orang lain telah berlatih lebih lama darimu dan telah bekerja keras lebih daripada kamu."
Terakhir, arahkan apa yang harus dilakukan anak setelah kegagalan tersebut. Contohnya, "Kalau kamu benar-benar ingin memenangkan kompetisi ini, maka kamu harus berjuang lebih serius untuk kompetisi berikutnya."
4. Fokus memuji kualitas diri anak
Orangtua seringkali senang memuji apa yang anak-anak kenakan atau miliki daripada mengapresiasi kualitas diri mereka. Menurut Michele, jika orangtua berfokus memuji kualitas diri anak daripada apa yang mereka pakai, akan mengurangi kecenderungan materialistis.
Tak hanya itu, mengapresiasi cara mereka berpikir, berbicara, bersikap dan bersosialisasi, akan membangun harga diri yang lebih sehat. Anak tak mengasosiasikan nilai dirinya pada sebuah benda atau hal-hal material, namun lebih termotivasi untuk meningkatkan inner qualities.
5. Pengaruh memuji anak terhadap kecerdasannya
Anak-anak sangat menghargai pujian, terutama ketika pujian tersebut menyangkut kecerdasan dan bakat mereka. Sebagai orang tua, mungkin Anda sering mengucapkan kata-kata seperti, "Kamu sangat cerdas," "Kamu punya bakat yang luar biasa," atau sejenisnya.
Namun, menurut Carol seperti yang diuraikan dalam bukunya yang berjudul 'Mindset: Mengubah Pola Berpikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda', pujian semacam itu mungkin memberikan kebahagiaan sementara dan membuat anak merasa istimewa sejenak. Anak-anak dengan pola berpikir tetap atau fixed mindset cenderung merasa lebih percaya diri dan termotivasi saat mereka menerima pujian semacam itu. Tetapi, ketika mereka mengalami kegagalan, mereka cenderung merasa bahwa mereka kurang cerdas.
Menurut Carol, "Memuji intelegensi anak sebenarnya dapat membahayakan motivasi dan kinerjanya," yang ia tuliskan dalam bukunya.
Hal ini disebabkan karena ketika anak-anak diberi pujian yang tidak tepat, dorongan mereka untuk mencari tantangan baru dapat menurun, dan ini bisa mempengaruhi prestasi dan motivasi mereka, seperti yang didokumentasikan dalam penelitian yang dijelaskan di situs Drake University. Bahkan, pujian yang tidak sesuai juga dapat mendorong anak untuk merasa lebih unggul daripada orang lain. (Ridho Hatmanto)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









