Studi: Bahaya, Balita Habiskan 2 Jam Sehari untuk Menonton Video

AKURAT.CO Sayangnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa balita menghabiskan rata-rata hampir dua jam sehari untuk menonton video.
Jumlah tersebut dua kali lipat lebih lama dari perkiraan sebelumnya yang dikumpulkan sebelum pandemi, kata para peneliti.
“Dalam beberapa tahun pertama kehidupan, bahasa adalah salah satu komponen inti perkembangan yang kita tahu dapat dipengaruhi oleh media,” kata peneliti Sarah Kucker, asisten profesor psikologi di Southern Methodist University di Dallas.
Baca Juga: Ternyata, Terlalu Dekat Menonton Televisi Bisa Merusak Mata Hanya Mitos
Namun, para peneliti menemukan bahwa dampak negatif ini berkurang ketika video digunakan untuk tujuan pendidikan. Obrolan video dengan anggota keluarga untuk membina hubungan sosial juga mengurangi dampaknya.
Televisi sering disebut sebagai “pengasuh elektronik,” namun sebuah studi baru menunjukkan bahwa TV atau media lain dapat menghambat perkembangan bahasa anak.
Anak-anak yang menonton video selama berjam-jam cenderung menggunakan frasa dan kalimat dengan kata-kata yang lebih sedikit, para peneliti melaporkan baru-baru ini di jurnal Acta Paediatrica.
Untuk penelitian ini, para peneliti mensurvei 302 para pengasuh anak yang berusia 17 hingga 30 bulan, menjawab pertanyaan tentang kata-kata, kalimat, dan berapa banyak waktu yang mereka habiskan dengan media berbeda setiap hari.
Penggunaan media oleh anak-anak dibandingkan dengan kosa kata dan panjang ucapan mereka.
Hasilnya menunjukkan bahwa pengasuh perlu memertimbangkan apakah anak-anak menonton video untuk belajar atau bersenang-senang, kata Kucker.
Baca Juga: Apakah Bayi Boleh Menonton Televisi?
Orang tua yang menggunakan media digital untuk berinteraksi dengan anak-anak harus mempertimbangkan untuk membatasi paparan tersebut, atau mencoba berinteraksi dengan anak-anak saat mereka dalam menggunakannya, tambah Kucker.
Penelitian masa depan dari tim Kucker akan berfokus pada jenis video yang ditonton anak-anak, cara mereka menggunakan layar bersama orang lain, dan bagaimana menonton video berdampak pada perkembangan bahasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







