Save the Children Perkuat Ketangguhan Masyarakat Rancaekek untuk Lindungi Anak-anak dari Banjir

AKURAT.CO Banjir terus menjadi salah satu bencana yang paling sering terjadi di Indonesia.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 962 kejadian banjir sepanjang tahun 2024, dengan dampak signifikan terhadap masyarakat, terutama anak-anak.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Untuk mengatasi tantangan ini, Save the Children Indonesia meluncurkan program Ketangguhan Masyarakat Berbasis Lanskap (KMBL), yang bertujuan melindungi anak-anak dari risiko banjir melalui pendekatan berbasis komunitas dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Inkonsistensi Kebijakan Banjir Jakarta, Banyak Gimik Politis
1. Anak-Anak sebagai Kelompok Paling Rentan
Ketika banjir melanda, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan.
Mereka tidak hanya menghadapi risiko kesehatan akibat lingkungan yang tercemar, tetapi juga hambatan dalam mengakses pendidikan karena sekolah yang terendam air atau rusak.
Rosianto Hamid, Chief of Partnership Strategic and Program Operation Save the Children Indonesia, menjelaskan bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas utama dalam upaya penanggulangan bencana.
"Kami mengutamakan upaya perlindungan menyeluruh, mulai dari kesiapsiagaan komunitas hingga edukasi anak-anak tentang cara bertindak selama banjir," ungkapnya.
Baca Juga: Jakarta Masuk Puncak Musim Hujan, Waspadai Banjir dan Angin Kencang
2. Program KMBL: Pendekatan Lanskap dari Hulu ke Hilir
Save the Children bersama Yayasan SHEEP Indonesia dan didukung oleh The Korea Financial Industry Foundation (KFIF) serta Save the Children Korea melaksanakan program KMBL di Kecamatan Rancaekek.
Program ini dirancang untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat melalui pendekatan lanskap dari hulu ke hilir.
Fokus utamanya adalah kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas.
Beberapa langkah strategis yang dilakukan dalam program ini meliputi:
Identifikasi Kesenjangan Sistem Peringatan Dini: Mengidentifikasi titik lemah dalam sistem peringatan dini dan kerentanan infrastruktur untuk meningkatkan respons terhadap banjir.
Pembentukan Satuan Tugas Siaga Warga: Komunitas dilibatkan secara aktif melalui pembentukan satuan tugas siaga banjir, penyusunan rencana aksi, dan pengembangan Standard Operating Procedures (SOP).
Penguatan Sistem Peringatan Dini: Bersama BPBD setempat, alat tambahan dipasang di lokasi strategis untuk memastikan sistem peringatan dini lebih efektif dan menyeluruh.
Pelatihan dan Edukasi: Pelatihan kapasitas dan simulasi dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk anak-anak. Edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan juga diberikan, seperti menanam pohon untuk mengurangi risiko banjir.
3. Dampak Program KMBL
Dalam 10 bulan terakhir, program ini telah menjangkau 43.800 masyarakat di Kecamatan Rancaekek, termasuk 15.260 anak-anak yang kini lebih terlindungi dari risiko banjir.
Selain itu, 28.554 orang dewasa diberdayakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi bencana dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan.
Kolaborasi erat antara berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan program ini.
Dengan dukungan dari KFIF—yayasan keuangan Korea yang didanai oleh serikat pekerja dan manajemen dari 33 lembaga keuangan utama—program ini menunjukkan bagaimana sinergi antara organisasi internasional dan lokal dapat menciptakan dampak positif bagi masyarakat.
4. Pentingnya Edukasi Anak-Anak dalam Penanggulangan Bencana
Edukasi menjadi elemen penting dalam program ini. Anak-anak diajarkan langkah-langkah menghadapi banjir serta pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.
Hal ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan tanggung jawab kolektif dalam menciptakan lingkungan yang tangguh dan berkelanjutan.
Upaya Save the Children Indonesia melalui program KMBL di Kecamatan Rancaekek menunjukkan bahwa membangun ketangguhan masyarakat adalah langkah krusial dalam melindungi kelompok paling rentan, terutama anak-anak, dari risiko banjir.
Dengan pendekatan berbasis komunitas, penguatan sistem peringatan dini, dan edukasi masyarakat, program ini tidak hanya mempersiapkan masyarakat menghadapi bencana tetapi juga menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara organisasi lokal dan internasional seperti Yayasan SHEEP Indonesia dan KFIF membuktikan bahwa sinergi lintas sektor dapat membawa perubahan nyata bagi masyarakat terdampak bencana.
Dengan keberhasilan program ini, diharapkan model serupa dapat diterapkan di wilayah lain untuk menciptakan masa depan yang lebih aman bagi anak-anak Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









