Akurat
Pemprov Sumsel

Makna Kalpataru dalam Bahasa Sanskerta dan Sejarah Panjang Penghargaannya di Indonesia

Naufal Lanten | 8 Desember 2025, 10:24 WIB
Makna Kalpataru dalam Bahasa Sanskerta dan Sejarah Panjang Penghargaannya di Indonesia

AKURAT.CO Kalpataru menjadi salah satu simbol terpenting dalam dunia lingkungan hidup di Indonesia. Istilah ini tidak hanya muncul dalam penghargaan resmi pemerintah, tetapi juga terpahat di sejumlah candi bersejarah dan dijadikan inspirasi lambang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dengan makna yang kuat dan sejarah yang panjang, banyak orang mencari penjelasan mengenai apa sebenarnya arti Kalpataru dalam bahasa Sanskerta dan bagaimana istilah ini berkembang hingga menjadi simbol nasional.

Artikel ini mengulas lengkap makna Kalpataru, sejarah penghargaan Kalpataru, perubahan kategorinya, hingga alasan kenapa simbol pohon kehidupan ini dipakai pemerintah Indonesia.


Makna Kalpataru dalam Bahasa Sanskerta

Secara etimologis, Kalpataru berasal dari dua kata Sanskerta: kalpa yang berarti “pengharapan”, dan taru yang berarti “pohon”. Jika digabungkan, Kalpataru dimaknai sebagai “pohon kehidupan” atau “pohon harapan”. Makna ini kemudian berkembang menjadi simbol yang menggambarkan sumber kehidupan, pelindung, dan penopang keberlangsungan makhluk hidup.

Filosofi Kalpataru juga tercermin dalam relief-relief candi seperti Candi Mendut dan Candi Prambanan. Gambar pohon kehidupan pada dinding candi dipahat dengan detail—menampilkan bentuk batang yang kokoh, dedaunan rimbun, serta benda-benda bernilai di sekelilingnya. Relief tersebut menandakan tatanan alam yang selaras, seimbang, dan penuh keberlimpahan.

Dalam tradisi Hindu, Kalpataru dianggap suci dan menjadi simbol keseimbangan tiga alam (triloka): alam atas, alam tengah, dan alam bawah. Artinya, pohon ini tidak hanya sekadar tumbuhan, tetapi gambaran filosofi besar tentang keterhubungan manusia dengan alam semesta.


Kenapa Kalpataru Dijadikan Nama Penghargaan Lingkungan?

Pemerintah Indonesia menjadikan Kalpataru sebagai nama penghargaan lingkungan tertinggi karena maknanya sangat dekat dengan semangat pelestarian alam. Filosofi pohon yang menghidupi, melindungi, dan memberikan manfaat tanpa henti dianggap sejalan dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

Gambaran ini juga terlihat pada relief di Candi Mendut yang ditemukan Markus Djajadiningrat, seorang sarjana Seni Rupa ITB. Relief tersebut menampilkan pohon kehidupan yang dikelilingi kendi berisi uang dan batu permata—simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Inspirasi inilah yang kemudian diangkat menjadi lambang penghargaan Kalpataru sejak awal 1980-an.


Sejarah Panjang Penghargaan Kalpataru

Penghargaan Kalpataru pertama kali diberikan pada era Presiden Soeharto. Gagasannya datang dari Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada periode 1978–1983. Tujuannya sederhana tetapi visioner: menumbuhkan kesadaran masyarakat dan pemerintah mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Pada awal diluncurkan — tepatnya 1980 — penghargaan ini masih bernama “Hadiah Lingkungan”. Plakat yang diberikan ketika itu hanya bertuliskan “Hadiah Lingkungan” dan “Tahun 1980”. Satu tahun kemudian, setelah simbol pohon kehidupan diangkat dari relief Candi Mendut, nama penghargaan resmi berubah menjadi “Kalpataru”.

Sejak dilaksanakan, penghargaan ini selalu diberikan bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. Hingga 2019, penghargaan Kalpataru telah mencapai usia 39 tahun dengan total 378 penerima di seluruh Indonesia.

Peraturan mengenai penghargaan ini kemudian dipertegas melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.30/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2017 tentang Penghargaan Kalpataru.


Kategori Penghargaan Kalpataru

Kategori Kalpataru sempat berubah seiring waktu. Pada awalnya hanya ada tiga, kemudian berkembang menjadi empat kategori seperti yang berlaku sampai sekarang. Keempat kategori tersebut meliputi:

Perintis Lingkungan

Diberikan kepada warga negara yang merintis, mengembangkan, dan melestarikan lingkungan hidup melalui aktivitas baru atau inovatif yang belum pernah dilakukan di daerahnya. Penerimanya bukan pegawai negeri maupun tokoh organisasi formal.

Pengabdi Lingkungan

Diberikan kepada petugas lapangan atau pegawai negeri yang pengabdiannya terhadap lingkungan sudah melampaui tugas utama. Mereka bisa berasal dari berbagai profesi seperti penyuluh lapangan, penjaga pintu air, jagawana, guru, maupun aparat pemerintah.

Penyelamat Lingkungan

Penghargaan untuk kelompok masyarakat—baik formal maupun informal—yang berhasil memperbaiki, melestarikan, atau mencegah kerusakan lingkungan. Misalnya organisasi masyarakat adat, komunitas desa, koperasi, lembaga pendidikan, hingga karang taruna.

Pembina Lingkungan

Kategori yang ditujukan bagi pejabat, peneliti, tokoh publik, maupun pengusaha yang memiliki prakarsa besar dalam urusan lingkungan. Termasuk di dalamnya pencipta teknologi ramah lingkungan, budayawan, jurnalis, dan tokoh agama.


Pohon Kalpataru dalam Biologi dan Filosofi Modern

Kalpataru merujuk pada spesies pohon Ficus religiosa atau pohon Bodhi. Jenis pohon dari famili Moraceae ini dapat tumbuh setinggi 15–20 meter, bahkan mencapai 30 meter ketika sudah sangat tua. Usia hidupnya pun sangat panjang, sekitar 1.000–1.500 tahun.

Beberapa keunikan pohon Kalpataru antara lain:

  • percabangannya lebar dan tidak beraturan

  • menjadi rumah bagi banyak satwa seperti burung, semut, dan tupai

  • mampu menghasilkan oksigen sepanjang waktu, termasuk malam hari

Sifat-sifat inilah yang membuatnya dijuluki pohon kehidupan, karena memberi manfaat bagi lingkungan sekitar tanpa henti.

Dari perspektif medis, pohon Kalpataru juga menyimpan khasiat. Kandungan fitokimia seperti tannin, saponin, dan flavonoid membuatnya bermanfaat sebagai antijamur, antiinflamasi, obat luka, hingga antidiare. Tak heran jika pohon ini kian sering dipertimbangkan sebagai bagian dari pembangunan hutan kota atau ruang terbuka hijau.


Kenapa Kalpataru Jadi Inspirasi Lambang KLHK?

Lambang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengangkat wujud pohon Kalpataru yang digambarkan dengan akar kuat dan daun rimbun. Filosofinya mengacu pada tatanan lingkungan yang seimbang dan serasi—pondasi utama pembangunan lingkungan hidup di Indonesia.

Pemilihan Kalpataru sebagai simbol juga memperkuat pesan bahwa pelestarian alam bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi perjalanan panjang yang membutuhkan kolaborasi masyarakat, komunitas, ilmuwan, hingga generasi muda.


Kesimpulan

Makna Kalpataru dalam bahasa Sanskerta merujuk pada “pohon kehidupan” — simbol pengharapan, keberlanjutan, dan keseimbangan alam. Filosofi ini menjadi dasar lahirnya penghargaan Kalpataru, penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia yang telah diberikan sejak 1980-an. Dengan sejarah yang kuat dan makna yang dalam, Kalpataru terus menjadi inspirasi dalam gerakan pelestarian lingkungan di tanah air.

Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan seputar lingkungan hidup dan kebijakan terbaru, pantau terus update selengkapnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Apa Itu Ekosistem: Pengertian, Unsur Penyusun, dan Ragamnya

Baca Juga: Apa Itu Cara Berpikir Komputasional?

FAQ

1. Apa makna kata Kalpataru dalam bahasa Sanskerta?

Istilah Kalpataru berasal dari dua kata, yaitu kalpa yang berarti pengharapan dan taru yang berarti pohon. Secara harfiah, Kalpataru dimaknai sebagai “pohon pengharapan” atau “pohon kehidupan”.

2. Kenapa Kalpataru disebut sebagai pohon kehidupan?

Pohon Kalpataru digambarkan sebagai pohon yang melindungi dan mengayomi makhluk hidup. Percabangannya yang lebar, daunnya yang rimbun, serta kemampuannya menghasilkan oksigen siang dan malam membuatnya menjadi simbol kehidupan dan keseimbangan alam.

3. Dari mana inspirasi lambang Kalpataru berasal?

Inspirasi lambang Kalpataru ditemukan pada relief pohon kehidupan di Candi Mendut dan Candi Prambanan. Relief tersebut menggambarkan harmoni antara unsur hutan, tanah, air, udara, dan makhluk hidup.

4. Apa itu penghargaan Kalpataru?

Penghargaan Kalpataru adalah penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Indonesia. Penghargaan ini diberikan kepada individu atau kelompok yang berkontribusi besar dalam pelestarian lingkungan.

5. Siapa tokoh yang menggagas penghargaan Kalpataru?

Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada era 1978–1983, merupakan tokoh yang merintis lahirnya penghargaan Kalpataru pada awal 1980-an.

6. Sejak kapan penghargaan Kalpataru diberikan?

Penghargaan ini mulai diberikan pada tahun 1980 dengan nama “Hadiah Lingkungan” sebelum akhirnya berubah menjadi “Kalpataru” pada tahun 1981.

7. Mengapa penghargaan ini dinamai Kalpataru?

Nama Kalpataru dipilih karena relief pohon kehidupan yang ditemukan di candi-candi kuno dianggap merepresentasikan konsep lingkungan yang harmonis serta simbol kehidupan yang abadi.

8. Berapa banyak penghargaan Kalpataru yang telah diberikan?

Hingga tahun 2019, total 378 penghargaan Kalpataru telah diberikan kepada individu maupun kelompok di seluruh Indonesia.

9. Apa saja kategori penghargaan Kalpataru?

Ada empat kategori penghargaan, yaitu:

  • Perintis Lingkungan

  • Pengabdi Lingkungan

  • Penyelamat Lingkungan

  • Pembina Lingkungan

10. Siapa saja yang bisa menerima penghargaan Perintis Lingkungan?

Kategori ini diberikan kepada warga negara Indonesia yang bukan pegawai negeri atau tokoh organisasi formal, dan telah merintis kegiatan pelestarian lingkungan yang inovatif di daerahnya.

11. Mengapa pohon Kalpataru dianggap sakral dalam budaya Hindu?

Dalam kepercayaan Hindu, Kalpataru menjadi simbol dalam konsep tribuana atau triloka, yaitu keseimbangan antara alam atas, tengah, dan bawah. Pohon ini dianggap menghubungkan tiga alam tersebut secara harmonis.

12. Bagaimana karakteristik pohon Kalpataru dalam ilmu botani?

Pohon Kalpataru memiliki nama ilmiah Ficus religiosa. Tingginya dapat mencapai 15–30 meter dan mampu hidup hingga lebih dari 1.000 tahun. Pohon ini juga menjadi tempat hidup berbagai jenis satwa.

13. Apakah pohon Kalpataru memiliki manfaat kesehatan?

Ya. Secara medis, pohon Kalpataru memiliki sifat antimikroba, antijamur, antibakteri, antiinflamasi, dan sering dimanfaatkan sebagai obat alami untuk diare, luka, hingga infeksi jamur.

14. Mengapa penghargaan Kalpataru diberikan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia?

Penyerahan Kalpataru mengikuti peringatan global yang ditetapkan UNEP setiap 5 Juni sebagai momen untuk menyoroti upaya menjaga kelestarian lingkungan.

15. Bagaimana aturan resmi pemberian penghargaan Kalpataru?

Proses pemberian penghargaan ini diatur dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.30/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2017 yang mengatur mekanisme, kategori, hingga penilaian penerima.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.