Apa Hubungan Deforestasi dengan Meningkatnya Banjir Bandang? Ini Penjelasan Lengkapnya

AKURAT.CO Banjir bandang merupakan salah satu bencana alam yang paling merusak karena terjadi secara tiba-tiba dengan membawa material lumpur, batu, hingga potongan kayu yang dapat menyapu permukiman dalam hitungan menit.
Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas dan frekuensi banjir bandang di berbagai wilayah Indonesia semakin meningkat, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi dan kondisi geografis yang berbukit.
Fenomena ini sering kali menimbulkan pertanyaan: apakah perubahan lingkungan turut memperberat risiko banjir bandang?
Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan meningkatnya banjir bandang adalah deforestasi atau penggundulan hutan.
Ketika hutan hilang dalam jumlah besar, kemampuan alam untuk menyerap air, menahan tanah, serta mengendalikan air dari hulu ke hilir ikut terganggu.
Inilah yang membuat banjir bandang lebih mudah terjadi meskipun faktor pemicu utamanya tetap berupa hujan ekstrem.
Peran Hutan dalam Mengendalikan Air Hujan
Hutan memiliki fungsi hidrologis yang sangat penting. Tajuk pohon menahan sebagian air hujan agar tidak langsung jatuh ke tanah, sedangkan akar pohon membantu meningkatkan daya serap tanah.
Tanah hutan yang gembur mampu menampung air lebih banyak, sehingga jumlah air yang mengalir ke permukaan sangat ditekan.
Proses ini juga membantu memperlambat laju aliran air menuju sungai, sehingga risiko meluapnya sungai dapat dikurangi.
Selain itu, akar pohon berfungsi sebagai penguat struktur tanah. Ketika vegetasi masih utuh, tanah tidak mudah tergerus atau bergerak.
Namun ketika hutan ditebang, lapisan tanah atas menjadi rapuh dan mudah terbawa arus air.
Kondisi ini membuat daerah hutan gundul sangat rentan mengalami erosi dan longsor, dua faktor yang sangat erat kaitannya dengan banjir bandang.
Bagaimana Deforestasi Memicu Banjir Bandang
Ketika deforestasi terjadi secara masif, perubahan besar pada lanskap alam pun terjadi. Tanah kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga sebagian besar air hujan berubah menjadi limpasan permukaan (run off).
Dalam kondisi curah hujan tinggi, volume limpasan ini dapat meningkat berkali lipat dan langsung mengalir menuju sungai dalam waktu singkat. Aliran air yang tiba-tiba dan besar inilah yang memicu banjir bandang.
Tidak hanya itu, hilangnya vegetasi juga menyebabkan erosi besar-besaran. Material seperti tanah, batuan, dan ranting terbawa air menuju sungai, menyebabkan pendangkalan dan penyempitan alur sungai.
Ketika kapasitas sungai menurun, sedikit saja tambahan air dapat membuat sungai meluap dan menciptakan banjir bandang yang lebih parah.
Upaya Mitigasi: Kembalikan Fungsi Hutan
Untuk mengurangi risiko banjir bandang, menjaga ekosistem hutan di wilayah hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) menjadi langkah yang sangat penting.
Rehabilitasi hutan, penataan ulang tata ruang, serta praktik penggunaan lahan yang berkelanjutan harus menjadi prioritas.
Pengendalian erosi melalui penanaman kembali pohon, pembuatan terasering, dan perlindungan kawasan lindung dapat membantu memulihkan fungsi alami hutan sebagai pengatur air.
Selain itu, pemerintah dan masyarakat perlu menyadari bahwa pembangunan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan dapat menimbulkan risiko besar di masa depan.
Menjaga hutan bukan hanya menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga melindungi manusia dari ancaman bencana yang semakin sering terjadi.
Laporan: Vania Tri Yuniar/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









